
Jetis,REDAKSI17.COM – Festival Kue Bulan atau Zhong Qiu Jie digelar di Klenteng Poncowinatan, Jetis, Jumat (25/9/2026) malam.
Perayaan yang digelar Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) bersama Paguyuban Hakka Jogjakarta (PHJ) tersebut menjadi momentum melestarikan tradisi leluhur sekaligus memperkuat kebersamaan dan toleransi di Kota Yogyakarta.
Festival Kue Bulan merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang dirayakan saat bulan purnama pada pertengahan musim gugur. Perayaan ini memiliki makna syukur atas hasil panen, kebersamaan keluarga, serta penghormatan terhadap leluhur dan nilai-nilai yang diwariskan antargenerasi.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengatakan perayaan tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mensyukuri berbagai keberkahan yang diterima dalam kehidupan.
“Melalui perayaan Kue Bulan ini, kita diingatkan untuk menghayati bahwa sebagai umat manusia kita telah mendapatkan banyak berkat dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Hasto.
Menurutnya, rasa syukur tersebut perlu diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama, khususnya masyarakat yang masih menghadapi kesulitan. Semangat berbagi dan gotong royong, lanjutnya, menjadi nilai yang penting untuk terus dipelihara di tengah kehidupan masyarakat.
“Ketika kita mensyukuri nikmat dan mendapatkan rezeki yang melimpah, sempatkanlah untuk berbagi kepada mereka yang masih hidup dalam kesulitan,” ujarnya.
Hasto mencontohkan semangat gotong royong masyarakat Yogyakarta melalui gerakan bedah rumah. Dalam sekitar satu tahun terakhir, menurutnya, sebanyak 162 rumah telah dibantu melalui gotong royong warga tanpa menggunakan APBD maupun APBN.
“Setiap bedah rumah tidak menggunakan APBD dan tidak menggunakan APBN. Semua dilakukan dengan gotong royong masyarakat,” katanya.
Selain menjadi momentum bersyukur dan berbagi, Hasto menilai Festival Kue Bulan turut memperkaya khazanah budaya di Kota Yogyakarta. Menurutnya, keberagaman tradisi perlu diberi ruang agar dapat terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Perayaan Kue Bulan ini akan memperkaya khazanah peringatan hari-hari besar budaya dan keagamaan di Kota Yogyakarta,” tuturnya.
Hasto menegaskan Pemkot Yogyakarta mendukung berbagai perayaan budaya masyarakat Tionghoa sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang beragam. Ia juga mengajak seluruh masyarakat menjaga toleransi dan solidaritas sosial.
“Kami menjunjung tinggi toleransi di tengah masyarakat Kota Yogyakarta. Selamat merayakan Kue Bulan, semoga perayaan ini memberikan makna mendalam bagi masyarakat Yogyakarta,” katanya.
Sementara itu, Ketua Penyelenggara Festival Kue Bulan Sugiarto Hanjin mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya JCACC dan PHJ menjaga keberlangsungan tradisi budaya Tionghoa di Yogyakarta.
Menurutnya pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk perayaannya. Nilai yang terkandung di dalamnya juga perlu dikenalkan kepada generasi muda agar warisan budaya tetap dipahami dan relevan di tengah perkembangan zaman.
“Tradisi ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi cara untuk mengenang dan menghormati leluhur, mempererat hubungan keluarga, serta meneruskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya,” ujarnya.


