Respon Temuan Kasus, Dinkes Gelar Imunisasi Campak

UMBULHARJO,REDAKSI17.COM — Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta terus melakukan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit campak. Salah satunya melalui pemberian imunisasi campak di sejumlah wilayah dan sekolah yang ditemukan adanya penularan.
Imunisasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari Outbreak Response Immunization (ORI), yakni pemberian imunisasi sebagai respons terhadap terjadinya peningkatan kasus atau penularan penyakit di suatu wilayah.
Hal tersebut disampaikan oleh, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu. Pihaknya mengatakan, pelaksanaan ORI telah dilakukan di sejumlah lokasi, di antaranya wilayah Kotagede dan Wirobrajan. “ORI itu Outbreak Response Immunization, jadi imunisasi yang dilakukan untuk merespons adanya outbreak atau peningkatan kasus,” jelas Endang, saat diwawancarai, Selasa (29/9).
Lanjutnya, di Kotagede, pelaksanaan imunisasi dilakukan di salah satu taman kanak-kanak yang terdapat kasus campak. Sementara di wilayah Wirobrajan, imunisasi respons penularan juga telah dilakukan sebanyak dua kali sepanjang tahun ini.
Endang menjelaskan, campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan dapat menular melalui percikan droplet maupun kontak dengan penderita. Karena itu, ketika ditemukan penularan, langkah pencegahan perlu segera dilakukan untuk memutus rantai penyebaran.
Pelaksanaan ORI, lanjutnya, diberikan sebagai respons terhadap penularan dan tidak bergantung pada riwayat imunisasi sebelumnya. Artinya, seseorang tetap dapat diberikan imunisasi dalam kegiatan ORI ketika memenuhi sasaran di wilayah yang sedang dilakukan respons penularan.
“Imunisasi yang dilakukan pada saat ada outbreak itu tanpa melihat imunisasi sebelumnya. Karena ini merupakan respons terhadap outbreak,” ujarnya.
Selain ORI, imunisasi campak secara rutin juga menjadi bagian penting dalam perlindungan anak. Imunisasi campak diberikan pada usia sembilan bulan dan 18 bulan sesuai program imunisasi.
Endang mengatakan, cakupan imunisasi di tingkat Kota Yogyakarta telah mencapai 96,64 persen. Namun, jika dilihat hingga tingkat kelurahan, masih terdapat wilayah dengan cakupan di bawah 95 persen.
Menurutnya, pemerataan cakupan imunisasi menjadi hal penting karena cakupan yang belum mencapai 95 persen di suatu wilayah masih menyisakan potensi terjadinya penularan. “Kalau tingkat kota 96,64 persen, tetapi ketika di-breakdown ada beberapa kelurahan yang kurang dari 95 persen. Jadi harus merata,” jelasnya.
Endang juga mengingatkan bahwa campak tidak hanya menyerang anak-anak. Dalam sejumlah kasus yang ditemukan tahun ini, campak juga dialami orang dewasa dan bahkan dapat menimbulkan kondisi berat hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Surveilans, Pengelola Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Sholikhin Dwi Ramtana menyampaikan, hingga periode Januari-September tercatat 372 suspek campak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 73 kasus dinyatakan positif berdasarkan pemeriksaan laboratorium.
Meski demikian, tren suspek campak maupun kasus campak positif menunjukkan penurunan pada periode Januari-September. Sholikhin menjelaskan, penderita campak umumnya mengalami gejala demam dan ruam atau bintik-bintik merah yang dapat disertai batuk, pilek, serta mata merah.

Foto dokumentasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta dalam memberikan imunisasi campak di TK Pakuncen.

“Untuk mencegah penularan, penderita dianjurkan dipisahkan sementara dari orang yang sehat. Bagi penderita yang masih bersekolah, disarankan tidak mengikuti pembelajaran setidaknya hingga empat hari setelah munculnya ruam,” ungkapnya.
Penggunaan masker juga dianjurkan, terutama ketika mengalami gejala atau berada di lingkungan dengan penderita campak. Masyarakat juga diminta membiasakan mencuci tangan sebelum makan maupun setelah berinteraksi dengan lingkungan yang berisiko.
“Dinkes juga melakukan penelusuran sumber penularan dan kontak erat yang berinteraksi dengan penderita, terutama dalam rentang empat hari sebelum hingga empat hari setelah munculnya ruam. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu memutus rantai penularan,” tambahnya.
Sholikhin menegaskan, imunisasi merupakan salah satu upaya efektif dalam mencegah campak. Selain membentuk kekebalan individu, imunisasi juga berperan dalam membangun kekebalan bersama di masyarakat.
“Imunisasi efektif untuk menumbuhkan kekebalan individu sehingga jika terjadi paparan tidak terjadi perburukan penyakit. Imunisasi juga membentuk kekebalan kolektif, sehingga ketika terjadi penularan, penyebarannya dapat berhenti,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat Kota Yogyakarta untuk tidak menganggap campak sebagai penyakit ringan yang dapat diabaikan. Masyarakat diminta mengenali gejalanya, menggunakan masker ketika mengalami gejala atau berada di lingkungan penderita, serta memastikan anggota keluarga mendapatkan imunisasi sesuai jadwal. “Segera informasikan kepada puskesmas apabila menemukan gejala penyakit campak,” imbuhnya.