Yogyakarta,REDAKSI17.COM– Sabtu pagi di Malioboro biasanya menjadi waktu untuk berjalan-jalan, menikmati suasana kota, atau sekadar duduk melepas penat. Namun, di ruang pedestrian kawasan ini, masyarakat juga bisa menemukan pengalaman yang berbeda: belajar budaya sambil bertemu dan beraktivitas bersama.
Suasana tersebut hadir melalui Setu Sinau, program yang diinisiasi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta. Setiap Sabtu pagi, Malioboro menjadi ruang terbuka untuk mengenal beragam budaya Yogyakarta melalui kegiatan belajar yang dikemas secara menyenangkan dan mudah diikuti.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, mengatakan, Setu Sinau dihadirkan untuk memberi makna lebih pada kunjungan masyarakat ke Malioboro. Menurutnya, keberadaan ruang publik ini menyimpan banyak hal yang dapat dipelajari, sehingga masyarakat tidak hanya datang, berjalan-jalan, atau duduk menikmati suasana.
“Setu Sinau ini sebenarnya kita ingin memberikan makna yang lebih dari sekadar orang berkunjung ke Malioboro itu tidak hanya jalan-jalan, duduk, tetapi juga punya nilai,” ujar Yetti saat ditemui di Setu Sinau kelas dolanan anak, Sabtu (03/10).
Melalui Setu Sinau, masyarakat dapat mengenal budaya Yogyakarta dengan cara yang lebih dekat. Materinya beragam, mulai dari aksara Jawa, tari, musik, gamelan, dolanan anak, hingga tata busana. Pada pelaksanaannya, pembelajaran dilakukan melalui praktik dan interaksi langsung agar peserta tidak sekadar mendengar penjelasan, tetapi dapat mencoba dan mengalami sendiri.
Dalam kelas tari, misalnya, peserta tidak hanya belajar gerakan. Aktivitas dilakukan bersama-sama di ruang terbuka sehingga menghadirkan kesempatan untuk bertemu, berinteraksi, dan srawung dengan orang lain.
“Tidak hanya bicara masalah tariannya saja, tetapi bagaimana kemudian menari itu juga ternyata butuh kebersamaan, srawung,” kata Yetti.
Cara belajar semacam itu menjadi bagian penting dari tujuan Setu Sinau. Dinas Kebudayaan ingin budaya Yogyakarta dapat dikenali tidak sebagai sesuatu yang jauh atau hanya ditemui dalam pertunjukan, tetapi sebagai pengetahuan dan pengalaman yang bisa langsung ditemui masyarakat dalam keseharian.
Selain mengenalkan seni dan tradisi, Setu Sinau juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan Malioboro itu sendiri. Kawasan ini memiliki sejarah, budaya, serta tinggalan arsitektural yang dapat menjadi pengetahuan baru bagi pengunjung.
Dengan begitu, pengalaman berada di Malioboro diharapkan tidak berhenti ketika pengunjung meninggalkan kawasan tersebut. Ada pengetahuan tentang budaya Yogyakarta yang dapat dibawa pulang dan menjadi bagian dari cerita mereka selama berada di Yogyakarta.
“Kita ingin orang yang berkunjung ke Malioboro punya pengalaman. Ada pengalaman tentang budaya Jogja, tentang budaya Jawa, yang mereka bawa begitu dan menjadi lebih terkenang lagi,” tutur Yetti.
Setu Sinau sendiri telah berjalan sejak awal 2026 dan dilaksanakan setiap Sabtu pukul 07.00–09.00 WIB dengan kelas-kelas belajar yang tersebar di pedestrian mulai dari Depan Grand Hotel De Djokja hingga Plaza Malioboro. Masyarakat dapat datang langsung ke lokasi, sementara pendaftaran dapat dilakukan bagi mereka yang ingin mengetahui jadwal dan materi pembelajaran sejak awal. Kegiatan ini gratis dan terbuka bagi masyarakat dari berbagai kalangan.
Pada pelaksanaan Sabtu, 3 Oktober 2026, misalnya, masyarakat diajak mengikuti beragam aktivitas seperti Sinau Aksara Jawa, Sinau Njoged, Sinau Dolanan Anak, Sinau Nggambar, Sinau Macapat, Sinau Nggamel, Sinau Ngadi Busana, Sinau Wayang Upcycle, Sinau Paduan Suara, dan Sinau Drum. Kegiatan juga dibuka dengan penampilan 1.000 penari dari Kampung Menari.
Meski demikian, pilihan kelas tidak selalu sama pada setiap Sabtu. Materi disesuaikan dengan kegiatan yang dihadirkan pada pekan tersebut, sehingga masyarakat dapat mengikuti informasi pelaksanaan terbaru melalui kanal informasi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Menariknya, Setu Sinau juga menjadi ruang bagi para pelaku seni dan budaya untuk berbagi. Yetti menyebutkan bahwa Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta melibatkan sanggar-sanggar seni budaya sebagai instruktur maupun pengajar. Di Kota Yogyakarta sendiri terdapat sekitar 470 sanggar yang dapat menjadi bagian dari ruang pembelajaran tersebut.
Keterlibatan sanggar pun membuat manfaat Setu Sinau tidak hanya dirasakan oleh peserta. Para pelaku seni juga mendapatkan ruang untuk berekspresi sekaligus menyampaikan pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki kepada masyarakat.
“Untuk sanggar-sanggar, mereka lebih punya media untuk ekspresi supaya mereka juga, apa yang kemudian ingin mereka kontribusikan kepada masyarakat itu kita berikan ruang-ruang,” jelas Yetti.
Ruang belajar itu pun dibuat agar siapa saja dapat merasa dekat dan mudah mengikuti. Masyarakat yang belum pernah mengenal materi budaya tertentu tetap dapat bergabung karena metode pembelajarannya dirancang agar mudah dipahami berbagai kalangan.
Bagi Dinas Kebudayaan, pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa ruang publik dapat memiliki banyak fungsi. Malioboro tidak hanya menjadi tempat berkunjung, tetapi juga dapat menjadi ruang komunikasi, srawung, pertunjukan, dan belajar bersama.
Karena itu, masyarakat Yogyakarta juga diharapkan ikut mengambil bagian. Pengetahuan budaya yang tumbuh di kampung-kampung dapat dibagikan kepada masyarakat yang lebih luas, sehingga berbagai kekayaan budaya lokal memiliki kesempatan untuk dikenali oleh orang lain.
“Jadi punya banyak teman untuk kemudian srawung bersama, tidak melakukan hal-hal yang tidak baik,” ucap Yetti.
Setu Sinau menjadi salah satu upaya menghadirkan aktivitas yang positif dan bermakna di ruang publik. Kegiatan yang didukung Dana Keistimewaan DIY ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk berjumpa dengan budaya Yogyakarta dengan cara yang sederhana. yakni datang ke Malioboro, memilih aktivitas yang ingin dipelajari, lalu pulang membawa pengalaman baru.
Sebab, menikmati Malioboro tidak selalu harus berhenti pada apa yang terlihat di sepanjang jalan. Dari ruang pedestrian yang sama, pengunjung juga bisa menemukan pengetahuan, mencoba keterampilan baru, bertemu orang lain, dan membawa pulang cerita tentang budaya Yogyakarta.
Pengalaman belajar budaya di Setu Sinau ini pun dirasakan langsung oleh salah satu pengunjung, Meisya Nur, warga Prambanan, yang awalnya datang ke Malioboro hanya untuk berjalan-jalan. Saat melihat aktivitas Setu Sinau, perhatiannya tertuju pada kelas Wayang Upcycle. Ia pun tertarik mencoba mengikuti kegiatan tersebut.
Di kelas tersebut, saat membuat wayang mereka juga mendapat penjelasan mengenai tokoh-tokoh wayang yang dibuat. Peserta juga diberi kesempatan memilih tokoh yang ingin dibuat.
Untuk pertama kalinya, Meisya belajar membuat wayang dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Limbah tersebut sebelumnya telah diolah menggunakan heat gun hingga menjadi lembaran datar. Dengan solder panas yang telah disediakan, peserta kemudian tinggal mengikuti pola gambar tokoh wayang yang dipilih. Bagi Meisya, proses tersebut menjadi pengalaman baru karena ia baru mengetahui bahwa limbah plastik dapat diolah menjadi karya yang menarik sekaligus memiliki nilai.
“Baru pertama kali coba, ternyata menarik. Kita juga dijelaskan tentang tokoh-tokoh wayangnya dan bisa pilih mau membuat tokoh yang mana. Ternyata botol plastik bisa dibuat jadi wayang,” ungkap Meisya.
Tidak berhenti pada proses membuat, hasil karya tersebut juga dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan dari kunjungannya ke Malioboro. Kelas Wayang Upcycle yang dihadirkan Bank Sampah Pa-Q-One dari kawasan tepi Sungai Winongo tersebut pun menunjukkan pertemuan antara pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan. Limbah botol plastik diolah menjadi sosok wayang yang memiliki nilai, sehingga peserta tidak hanya belajar membuat karya, tetapi juga melihat peluang pemanfaatan kembali barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Humas Pemda DIY





