Gondomanan,REDAKSI17.COM – Ruang Masyarakat Ketemu (Rumaket) 2026 resmi dibuka di Taman Pintar Yogyakarta, Minggu (4/10/2026). Memasuki tahun keenam, Rumaket hadir dengan tema Hageganti yang mengajak masyarakat melihat warisan budaya tak benda melalui bentuk dan cara penyampaian yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Pembukaan Rumaket 2026 ditandai pertunjukan kolaborasi Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka yang melibatkan anak-anak sebagai dalang dan pemain. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu pendekatan kreatif untuk mengenalkan wayang kepada generasi muda.

Pertunjukan Wayang Playground: Menyusun Puzzle Menuju Alengka.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan Rumaket menjadi ruang untuk memperkuat pewarisan warisan budaya tak benda agar tetap relevan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

“Yang menarik kita menghadirkan pertunjukan kolaborasi Wayang Playground. Dalang maupun pemainnya adalah anak-anak. Jadi bagaimana kemudian pewarisan budaya yang disampaikan itu bisa dipahami oleh anak-anak dalam konteks hari ini,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan bersama dalang anak yang akan mewakili kota di tingkat DIY.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan menilai pendekatan kreatif melalui wayang dapat mendorong ketertarikan anak muda terhadap budaya. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan upaya memperkuat Yogyakarta sebagai kota budaya.

“Dari wayang tadi sudah ditransformasi bagaimana anak-anak muda bisa menyukai wayang. Ini sangat luar biasa karena mereka sudah rutin berlatih dan hari ini ditampilkan. Mereka sangat cukup berbakat,” katanya.

Anak-anak sedang memainkan wayang.

Wawan berharap kegiatan budaya seperti Rumaket terus dikembangkan dengan tema dan pendekatan yang beragam. Menurutnya, kekayaan warisan budaya tak benda di Yogyakarta memiliki potensi besar untuk terus ditampilkan dan dikenalkan kepada masyarakat.

“Dengan menampilkan budaya yang baik, kita punya banyak warisan budaya tak benda yang bisa ditampilkan dan ditembangkan. Harapannya ke depan Rumaket ada tema yang berbeda lagi. Ini sangat menarik dan mendorong ke arah penguatan budaya di Yogyakarta,” ujarnya.

Wayang Playground ditampilkan di Rumaket 2026.

Salah satu peserta Wayang Playground, Simon Abimanyu, 14 tahun, menunjukkan bahwa kecintaan terhadap wayang dapat tumbuh sejak usia dini. Siswa SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tersebut mengaku mulai mendalang sejak berusia tiga tahun.

“Menurut saya wayang itu unik dan menarik. Selain bisa mengekspresikan diri melalui wayang kulit, kita juga bisa menggali nilai-nilai yang ada di dalamnya,” kata Simon.

Simon juga berupaya mengenalkan wayang kepada teman-temannya di sekolah. Ia bahkan mengembangkan media pembelajaran berbasis gim menggunakan aplikasi Canva untuk membuat wayang lebih menarik dan tidak membosankan bagi anak seusianya.

Wayang Playground dimainkan oleh seniman anak dari Kota Yogyakarta.

Media tersebut mengangkat lakon Dewa Ruci yang dinilai memiliki nilai-nilai relevan bagi pelajar. Selain materi yang dikemas secara interaktif, Simon menambahkan kuis untuk mengukur pemahaman pengguna setelah mempelajari materi wayang.

Menurut Simon, meski tidak banyak teman sebayanya yang mendalami wayang, ia meyakini ketertarikan terhadap wayang dapat tumbuh jika dikenalkan dengan cara yang sesuai dengan dunia anak muda.

Foto bersama para penampil dan kru Wayang Playground.

Rumaket 2026 berlangsung pada 4–10 Oktober 2026 di Taman Pintar dengan menghadirkan pameran, pertunjukan, talkshow, workshop, kuliner, serta berbagai kegiatan edukatif dan partisipatif. Rangkaian kegiatan juga meliputi Rumaket Bercerita “Srikandi Hari Ini”, pameran transformasi wayang Yogyakarta, peluncuran buku Panggung Publik: Wayang, Simbol, dan Budaya Urban, serta pengenalan permainan tradisional seperti tublak-tublak suweng, inklek, dan lepetan.

Selain itu, masyarakat dapat menikmati pasar kuliner yang menghadirkan kicak, legomoro, dan kipo serta mengikuti live cooking. Beragam kegiatan tersebut diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi mampu membuat masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan merasa memiliki warisan budaya Yogyakarta.