TEHERAN,REDAKSI17.COM— Meski perkembangan militer terkait Iran di kawasan Timur Tengah masih terus berlangsung, Amerika Serikat menarik seluruh 12 pesawat pengebom B-1 yang sebelumnya ditempatkan di Pangkalan Udara Fairford, Inggris, kembali ke wilayah Amerika Serikat.
Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran keamanan terkait pangkalan yang memainkan peran penting dalam operasi udara terhadap Iran.
Aljazeera melansir pada Selasa (6/9/2026), laporan media Amerika dan Inggris menyebutkan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan peringatan mengenai potensi ancaman terhadap pangkalan tersebut.
Pada saat yang sama, otoritas Inggris masih menyelidiki sebuah insiden misterius yang terjadi di dekat pangkalan, di tengah dugaan adanya keterkaitan dengan Iran yang telah dibantah oleh Teheran.
Selain faktor keamanan, sejumlah analisis melihat adanya dimensi lain di balik langkah tersebut.
Penarikan pesawat pengebom terjadi ketika pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah membahas berbagai opsi berikutnya terhadap Iran.
Hal ini memunculkan spekulasi apakah kembalinya pesawat-pesawat tersebut ke Amerika Serikat justru membuatnya tetap siap digunakan untuk melancarkan serangan jarak jauh apabila Washington kembali memutuskan melakukan eskalasi.
Lalu, apa yang mendorong Washington menarik pesawat pengebomnya dari Fairford? Sejauh mana ancaman di sekitar pangkalan tersebut menunjukkan meluasnya dampak perang hingga ke Eropa?
Dan apakah kembalinya pesawat-pesawat pengebom ke Amerika Serikat semata-mata merupakan langkah keamanan atau justru bentuk penempatan kembali untuk mempersiapkan fase baru perang?
The Wall Street Journal melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menarik seluruh pesawat pengebom B-1 dari Pangkalan Udara Fairford di Inggris.
Keputusan tersebut diambil karena kekhawatiran keamanan terkait dugaan rencana teror untuk menargetkan fasilitas tersebut, menurut sejumlah pejabat Amerika Serikat.
Pangkalan tersebut memiliki arti penting karena mempunyai landasan pacu yang panjang. Kondisi ini membuat Washington banyak menggunakannya untuk melancarkan serangan dengan pesawat pengebom B-1 dan B-52 terhadap Iran.
Sementara itu, surat kabar i Paper mengutip pernyataan Pentagon yang menyebutkan, “Pertimbangan keamanan operasional membuat kami tidak dapat mengonfirmasi pergerakan aset dan pasukan Amerika Serikat secara langsung.�
Pernyataan tersebut melanjutkan, “Kini kami dapat mengonfirmasi bahwa seluruh pesawat pengebom Amerika Serikat yang sebelumnya ditempatkan di Pangkalan Udara Fairford telah dipindahkan kembali ke pangkalan asalnya di Amerika Serikat.�
Surat kabar tersebut, dengan mengutip BBC, menyebutkan bahwa keputusan itu merupakan langkah militer dan operasional, bukan keputusan politik. Angkatan Bersenjata Inggris juga telah diberi tahu mengenai langkah tersebut.
Sementara itu, The New York Times mengungkapkan bahwa para komandan militer Amerika Serikat pada pertengahan September lalu menerima peringatan dari badan intelijen Amerika dan negara-negara Barat mengenai kemungkinan serangan terhadap Pangkalan Fairford yang didukung Iran.
Peringatan tersebut tidak mencantumkan waktu tertentu maupun informasi rinci mengenai siapa yang akan melakukan serangan. Karena itu, para komandan pangkalan meningkatkan tingkat kewaspadaan keamanan.
Laporan itu menambahkan bahwa selama akhir pekan, para komandan menerima informasi baru terkait peringatan tersebut yang dinilai lebih spesifik dan mendesak.
Setelah itu, seluruh 12 pesawat pengebom B-1 ditarik dengan cepat dari pangkalan, menurut dua pejabat Amerika Serikat.
Keputusan tersebut diambil setelah enam orang ditangkap terkait upaya menggagalkan dugaan serangan terhadap Pangkalan Fairford pada 27 September lalu.
Keputusan menarik pesawat pengebom tersebut dilakukan setelah penyelidikan terhadap dugaan rencana serangan terhadap Pangkalan Udara Fairford.
Menurut sumber-sumber Amerika yang dikutip The Wall Street Journal, rencana tersebut berhasil digagalkan pada 27 September lalu.
Menurut laporan itu, lima orang yang dicurigai tiba di Fairford menggunakan tiga truk putih. Polisi Inggris mengatakan kendaraan tersebut tidak membawa bahan peledak, tetapi terdapat sejumlah bahan bakar di dalamnya.
Kelima orang tersebut ditangkap setelah polisi menerima laporan mengenai kendaraan mencurigakan di dekat pangkalan.
Beberapa hari kemudian, seorang pria keenam juga ditangkap karena diduga terlibat dalam perencanaan aksi teror. Namun, ia kemudian dibebaskan dengan jaminan.
Surat kabar tersebut mengutip seorang pejabat senior Amerika yang mengatakan bahwa salah satu cabang Korps Garda Revolusi Islam Iran merekrut warga negara Inggris untuk menjalankan rencana tersebut.
Rencana itu disebut memiliki beberapa tahapan, termasuk menciptakan pengalihan perhatian di wilayah dekat pangkalan.
Sementara itu, The New York Times menyebut bahwa peran para tersangka masih diselimuti misteri.
Lima orang tersebut dibebaskan dengan jaminan hanya dalam waktu satu hari, sementara polisi masih menyelidiki kemungkinan adanya campur tangan asing serta pihak yang mungkin berada di balik insiden tersebut.
Di tengah tudingan pejabat Amerika yang mengaitkan rencana itu dengan Garda Revolusi Iran, pemerintah Inggris mengatakan terdapat indikasi kuat mengenai keterlibatan Iran.
Penyelidikan masih berlangsung. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah tuduhan tersebut.
Laporan itu mengingatkan bahwa Garda Revolusi Iran sebelumnya telah memperingatkan pada Juli lalu agar Amerika Serikat tidak menggunakan Pangkalan Fairford.
Garda Revolusi menyatakan, “Setiap pangkalan yang digunakan untuk menyerang wilayah Iran merupakan target yang sah bagi pasukan kami.�
Menurut surat kabar tersebut, kejadian di Inggris menunjukkan bagaimana dampak perang mulai meluas ke luar medan pertempuran langsung. Kekhawatiran keamanan juga meningkat di Eropa.
Seorang pejabat senior Amerika mengatakan kepada The New York Times bahwa Israel telah memperingatkan Jerman mengenai meningkatnya tingkat ancaman terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di negara tersebut, khususnya Pangkalan Udara Spangdahlem dan Ramstein.
i Paper membuka kemungkinan Presiden Donald Trump kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu.
Memasuki babak baru?
The New York Times menjelaskan bahwa Inggris memberlakukan sejumlah pembatasan terhadap penggunaan Pangkalan Fairford dalam perang.
Perdana Menteri Inggris sebelumnya, Keir Starmer, pada awalnya menolak keterlibatan Inggris dalam operasi ofensif terhadap Iran.
Namun, ia kemudian menyetujui penggunaan pangkalan tersebut untuk operasi yang bersifat defensif.
Pesawat pengebom Amerika Serikat jenis B-52 dan B-1 kemudian menggunakan pangkalan tersebut untuk melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Kebijakan tersebut dilanjutkan oleh Perdana Menteri Inggris saat ini, Andy Burnham.
Dari sudut pandang ini, i Paper menilai penarikan pesawat pengebom tersebut mungkin memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar persoalan keamanan.
Langkah itu terjadi di tengah kembali munculnya spekulasi bahwa Presiden Donald Trump mungkin memutuskan melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November mendatang.
Dalam konteks tersebut, Trump mengatakan kepada wartawan pada Sabtu lalu. “Saya memiliki keputusan yang akan saya ambil terkait Iran. Iran telah mengalami kehancuran yang sangat besar. Satu-satunya pertanyaannya adalah: apakah hal itu akan dilakukan dengan cara mudah atau cara sulit?�
Menurut situs Axios, para pejabat senior keamanan nasional Amerika Serikat mengadakan pertemuan rahasia di Camp David pada Jumat lalu untuk membahas langkah-langkah selanjutnya dalam perang Iran.
Pada saat yang sama, Trump disebut sedang mempertimbangkan untuk kembali menjalankan operasi militer berskala besar.
i Paper menjelaskan kesepakatan yang berlaku dengan pemerintah Inggris, yang membatasi penggunaan pangkalan tersebut untuk operasi defensif, tidak mengizinkan Fairford digunakan untuk operasi ofensif di luar mandat pertahanan yang telah ditentukan.
Dari sinilah muncul kemungkinan bahwa pengembalian pesawat-pesawat pengebom tersebut ke Amerika Serikat justru membuka ruang bagi penggunaannya dalam serangan jarak jauh apabila Trump mengambil keputusan baru untuk melakukan eskalasi.
Dalam konteks ini, Pentagon menegaskan bahwa awak pesawat pengebom Amerika Serikat jenis B-1, B-2, dan B-52 tetap dalam kondisi siap melancarkan serangan presisi di mana pun diperlukan, termasuk melalui operasi yang berangkat dari Amerika Serikat dan kembali ke negara tersebut.

