Sekolah Lansia Semar Hadir di Ngampilan, Dorong Lansia Tetap Sehat dan Mandiri

Ngampilan,REDAKSI17.COM – Bertambahnya usia bukan alasan untuk berhenti belajar, bergerak, dan berkarya. Semangat itu terasa dalam pembukaan Sekolah Lansia Semar di Balai RW 13 Kampung Ngadiwinatan, Kelurahan Ngampilan, Kota Yogyakarta, Rabu (7/10/2026).

Sebanyak 30 lansia yang tergabung sebagai peserta atau mahawreda mengikuti sekolah lansia yang digagas melalui kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta dengan STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta. Mereka akan mendapatkan pembelajaran mengenai kesehatan fisik, kognitif, sosial hingga kesehatan jiwa agar tetap mampu menjalani masa lanjut usia secara sehat, aktif, mandiri dan bermartabat.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta Retnaningtyas mengatakan, Sekolah Lansia diharapkan tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang untuk meningkatkan kualitas hidup para lansia.

“Melalui kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi, Sekolah Lansia diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ruang untuk meningkatkan kualitas hidup, kemandirian, kesehatan, dan kebahagiaan lansia,” ujarnya.

Menurutnya, pendampingan lansia membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, keluarga, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi hingga komunitas. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung lansia agar tetap sehat, aktif, produktif dan mandiri.

“Sehingga lansia tetap sehat, aktif, produktif, mandiri, dan bermartabat serta angka harapan hidup di Kota Yogyakarta semakin meningkat,” katanya.

Ketua STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta Vivi Retno Intening mengatakan, kehadiran Sekolah Lansia merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang menjadi salah satu unsur tri dharma perguruan tinggi. Program tersebut sekaligus sejalan dengan keunggulan STIKES Bethesda dalam bidang gerontologi atau pelayanan kepada lansia.

“Pengabdian masyarakat ini sudah terintegrasikan dengan program Pemerintah Kota Yogyakarta, dengan program yang sinergi bertemakan lansia,” kata Vivi.

Ia menyebut, tingginya jumlah lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu alasan STIKES Bethesda ikut terlibat dalam program tersebut. Melalui Sekolah Lansia, pihaknya ingin bersama-sama mewujudkan lansia yang berdaya guna, mandiri dan sehat.

Vivi berharap Sekolah Lansia tidak berhenti pada angkatan perdana di Ngampilan. Ke depan, model serupa diharapkan dapat dikembangkan di lokasi lain sehingga semakin banyak lansia yang mendapatkan kesempatan belajar dan memperoleh pendampingan.

Koordinator Sekolah Lansia Semar STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta, Antonius Yogi Pratama, menjelaskan pembelajaran dirancang dalam tiga kali pertemuan. Setiap pertemuan berlangsung sekitar tiga jam dengan metode yang aktif dan interaktif.

“Tidak hanya mendengarkan materi, tapi juga melakukan praktik-praktik terkait dengan mempersiapkan dan juga menjalani masa-masa lansianya dengan bahagia, sehat dan bermartabat,” jelasnya.

Materi yang diberikan cukup beragam. Lima tim pengajar dari STIKES Bethesda akan membahas proses menua dan sindrom geriatri, gangguan kognitif dan peningkatan fungsi intelektual, kebutuhan sosial lansia, aktivitas fisik dan pencegahan risiko jatuh, hingga kesehatan jiwa.

Peserta juga akan mendapatkan materi mengenai aktivitas fisik yang dapat dilakukan lansia serta self-help group. Sebagian kegiatan dirancang berlangsung di ruang terbuka dengan memanfaatkan pendopo di sekitar lokasi.

“Harapannya, lansia di sini menikmati masa-masa hidup lansia dan mempunyai sesuatu yang kemudian bisa menjadi inspirasi untuk lansia yang lain,” ujar Yogi.

Ia berharap 30 peserta yang mengikuti Sekolah Lansia Semar nantinya tidak hanya membawa pulang pengetahuan untuk dirinya sendiri. Mereka juga diharapkan dapat membagikan pengetahuan tersebut ketika kembali ke keluarga maupun komunitas lansia di wilayah masing-masing. Setelah mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran, peserta akan mendapatkan sertifikat dalam kegiatan penutupan atau wisuda Sekolah Lansia.

Salah seorang peserta, Edy Suyana (61), menyambut antusias program tersebut. Ia berharap Sekolah Lansia dapat memberikan edukasi yang informatif sekaligus membangun semangat para lansia di RW 13 untuk tetap mandiri dan berdaya guna.

“Harapannya memberikan satu edukasi informatif yang khusus untuk para lansia di wilayah RW 13, menjadikan lansia itu tetap punya kemandirian, lebih semangat menjalani usia yang senja ini untuk tetap bisa mandiri, berdaya guna, dan juga tetap semangat untuk jadi lansia yang bermartabat,” ungkap Edy.

Bagi Edy, menjadi lansia bukan berarti harus berhenti melakukan aktivitas. Ia mengajak para lansia untuk membuang jauh anggapan bahwa usia lanjut membuat seseorang tidak lagi mampu berbuat banyak.

“Lansia itu harus tetap sehat, harus tetap semangat, tetap mandiri sebisanya mungkin dan juga tetap bahagia,” ujarnya.