Wirobrajan,REDAKSI17.COM – Trotoar bersih tidak bisa hanya mengandalkan petugas atau kerja bakti setiap Jumat. Warga, pemilik toko, sekolah, hingga pemilik rumah yang berada di sepanjang trotoar perlu ikut merawat ruang publik yang setiap hari digunakan pejalan kaki. Semangat gotong royong inilah yang diwujudkan Kemantren Wirobrajan melalui Gerakan Bapak Asuh Trotoar yang diluncurkan di Kantor Kemantren Wirobrajan, Sabtu (10/10).
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengapresiasi gerakan yang melibatkan 337 Bapak Asuh Trotoar dari tiga kelurahan di wilayah Kemantren Wirobrajan tersebut. Pihaknya berharap gerakan serupa diterapkan di seluruh kemantren di Kota Yogyakarta dengan pembagian tanggung jawab yang jelas, perawatan trotoar diharapkan tidak hanya mengandalkan kerja bakti mingguan, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat.
“Kalau semua kemantren melakukan hal seperti ini, trotoar-trotoar bersih semua. Tidak hanya tiap Jumat, tetapi dirawat oleh masing-masing yang ada di belakang trotoar,” ujar Hasto.
Menurutnya, Gerakan Bapak Asuh Trotoar menjadi inovasi gotong royong karena setiap peserta mendapatkan surat keputusan (SK) yang memperjelas tanggung jawab pemeliharaan trotoar di depan bangunan masing-masing.
“Saya kira ide yang sangat cemerlang Bu Mantri Wirobrajan. Saya ingin mengekstrapolasi, artinya menyebarluaskan ide ini, dan kemudian saya berharap kemantren lain juga mengikuti,” katanya.

Hasto menegaskan, persoalan kebersihan trotoar tidak selalu membutuhkan penanganan besar. Sampah yang dibuang ke pot tanaman, rumput liar yang tumbuh di sela-sela trotoar, hingga lingkungan yang tidak terawat dapat ditangani melalui kepedulian sederhana dari orang-orang yang beraktivitas di sekitarnya.
“Yang utamanya kotor. Sebetulnya kalau ada PKL, tetapi PKL-nya itu memang masih sedikit menggunakan jalan, asal bersih juga masih bisa ditoleransi. Tapi kalau kotor itu kan kadang-kadang pot itu isinya sampah,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kegiatan kerja bakti ASN Pemerintah Kota Yogyakarta yang dilaksanakan setiap Jumat tetap berjalan. Namun, perawatan trotoar melalui gerakan ini memiliki pola berbeda karena diserahkan kepada warga atau pelaku usaha yang bertanggung jawab atas area di depan bangunannya.
“Kalau PNS seminggu sekali. Tapi kalau Bapak Asuh di trotoar ini kan terserah mereka, karena mereka ingin yang di depannya itu selalu bersih. Jadi mestinya mereka juga tidak seminggu sekali,” tuturnya.
Bagi Hasto, keberadaan Bapak Asuh menjadi faktor penting agar gerakan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan. Pemerintah berperan mendorong dan memfasilitasi, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga fasilitas publik.
Ia pun menekankan bahwa semangat gotong royong perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ajakan. Hasto mengapresiasi keterlibatan sekolah, toko, dan warga yang selama ini telah membersihkan trotoar secara mandiri.
“Kalau tidak ada Bapak Asuhnya, jelas program ini tidak jalan. Yang memaknai adalah warga masyarakat itu sendiri,” tegasnya.

Salah satu praktik tersebut dilakukan SD Kanisius Wirobrajan. Kepala Sekolah SD Kanisius Wirobrajan, Ernawati, menyampaikan bahwa sekolah membiasakan siswa menjaga kebersihan trotoar melalui kegiatan rutin yang terintegrasi dengan aktivitas sekolah.
“Setiap hari setelah istirahat, ada jadwal anak-anak yang piket pada hari itu untuk membersihkan trotoar. Setiap hari Jumat kami juga pasti melakukan Jumat Bersih. Untuk rumput-rumput, setiap Jumat itu dicabuti oleh anak-anak kelas atas, terutama kelas enam, di bawah pendampingan bapak ibu guru,” jelas Ernawati.
Kebiasaan tersebut juga diperkuat melalui kegiatan kepramukaan. Siswa diajak membersihkan lingkungan di luar sekolah, termasuk memungut sampah di trotoar dan lingkungan masyarakat. Ketika ditemukan vandalisme, sekolah berupaya segera membersihkannya.
“Di kegiatan kepramukaan, kami juga mencanangkan program untuk membersihkan lingkungan sekolah. Anak-anak berjalan tidak hanya di sekolah, tetapi juga di trotoar, bahkan di lingkungan masyarakat, mengambil sampah,” katanya.
Upaya serupa dilakukan Toko Jolie di Jalan Kapten Pierre Tendean. Perwakilannya, Wina Indah Nurtika, mengatakan kebersihan trotoar di depan toko menjadi perhatian rutin melalui petugas keamanan malam dan tim kebersihan.
“Kalau dari Jolie, kami ada petugas keamanan malam. Nanti petugas keamanan membersihkan rumput, dan ada tim kebersihan juga yang membersihkan setiap hari. Jadi trotoar di depan toko kami itu harus dan wajib bersih,” ungkap Wina.
Ia menambahkan, coretan vandalisme yang ditemukan pada malam hari juga langsung ditangani pada pagi berikutnya. Menurutnya, kebiasaan tersebut sejalan dengan tujuan Gerakan Bapak Asuh Trotoar untuk menjaga ruang publik tetap bersih dan nyaman.
Dukungan juga datang dari warga Jalan Bugisan, Herwulan. Ia mengaku merasakan langsung manfaat kegiatan kerja bakti ASN Pemkot Yogyakarta setiap Jumat, yang dinilainya benar-benar dilakukan di lapangan.
“Ini benar-benar dilaksanakan dengan sungguh hati. Saya merasakan sebagai warga. Percuma kalau program Pemkot mengajak bersih-bersih, tetapi ASN tidak turun tangan. Alhamdulillah, dari Bu Mantri sampai lurah, sampai staf-stafnya itu benar-benar bekerja,” tuturnya.
Herwulan menyambut baik adanya SK bagi Bapak Asuh Trotoar karena memperjelas tanggung jawab sekaligus memudahkan warga saling mengingatkan.
“Dengan adanya Bapak Asuh Trotoar ini, kami lebih tervalidasi karena ada SK-nya. Kami bisa mengingatkan tetangga-tetangga yang punya usaha, Ayo, 15 menit selesaikan,” katanya.

Mantri Pamong Praja Kemantren Wirobrajan, Rahmi Anggraini, menjelaskan gerakan ini berangkat dari kebutuhan menjaga trotoar sebagai fasilitas publik yang mendukung mobilitas masyarakat. Trotoar yang bersih dan terawat juga memberikan kenyamanan bagi pelanggan, tamu, siswa, maupun masyarakat yang melintas.
“Trotoar bukan sekadar pelengkap jalan, melainkan ruang publik yang harus memberikan rasa aman, bersih, nyaman, tertib, dan aksesibel bagi seluruh lapisan masyarakat,” jelas Rahmi.
Melalui gerakan ini, pemilik rumah, tempat usaha, tempat ibadah, dan institusi pendidikan yang berada di sepanjang jalan protokol di wilayah Wirobrajan diajak mengambil bagian dalam perawatan trotoar di depan bangunan masing-masing.

Setiap Bapak Asuh Trotoar diharapkan meluangkan waktu sekitar 15 menit secara rutinuntuk mengambil sampah liar, mencabut rumput atau tanaman liar, serta memastikan trotoar tetap nyaman dilalui pejalan kaki.
Rahmi menyebutkan, pihaknya telah menyurati pemilik bangunan di sepanjang jalan protokol untuk mengajak mereka terlibat. Respons yang diterima sebagian besar positif dan menunjukkan dukungan terhadap gerakan tersebut.
“Peluncuran hari ini kami harapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal dari sebuah gerakan nyata, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkapnya.