
Wirobrajan,REDAKSI17.COM-Upaya Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mengurangi timbulan sampah terus dikembangkan. Setelah sukses mendorong pemilahan dan penanganan sampah organik melalui ember organik serta menangani sampah spesifik seperti kasur, bantal, dan guling, kini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta menggencarkan pemilahan dan penanganan sampah melalui program Jumilah Joss Tenan, akronim dari Jogja Memilah Sampah, Jogja Sorting for The Source Terintegrasi dan Berkelanjutan.
Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta, Supriyanto, mengatakan program ini menitikberatkan pada pemilahan sampah plastik residu sejak dari hulu, sehingga sampah yang selama ini berakhir dan menumpuk di depo dapat dikurangi sebelum masuk ke sistem pengangkutan dan pembuangan.
Menurutnya, melalui program Jumilah Joss Tenan, sampah plastik residu tidak lagi sekadar dikumpulkan dan dibawa ke depo, tetapi terlebih dahulu dipilah dari sumbernya untuk kemudian mendapatkan penanganan sesuai karakteristiknya.
“Yang biasanya memenuhi depo, sampah plastik residu ini kita pilah dari hulu. Setelah dipilah, kemudian kita proses melalui pirolisis,” kata Supriyanto katanya saat ditemui di Kelurahan Patangpuluhan, Selasa (13/10/2026).
Pirolisis sendiri, lanjutnya, merupakan proses pengolahan material dengan pemanasan pada kondisi tertentu untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai guna.
“Dengan pendekatan ini, sampah plastik residu yang sebelumnya menjadi beban lingkungan diupayakan dapat diolah menjadi material atau produk yang lebih bermanfaat,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, program Jumilah Joss Tenan menyasar berbagai sumber sampah, salah satunya warung-warung makan. Unit usaha tersebut menjadi sasaran penting karena menghasilkan sampah plastik residu dalam jumlah cukup besar setiap harinya.
“Pemilahan tidak hanya mengandalkan kesadaran pelaku usaha maupun masyarakat, tetapi juga melibatkan petugas khusus juru pemilah sampah atau Jumilah,” bebernya.
Para Jumilah ini bertugas melakukan pemilahan secara lebih spesifik sehingga setiap jenis sampah dapat diarahkan pada metode penanganan yang sesuai.
“Dengan demikian, sampah tidak tercampur dan seluruh jenis material dapat memperoleh perlakuan berdasarkan karakteristiknya,” katanya.
Supriyanto menyebut konsep tersebut menjadi bagian penting dari inovasi pengelolaan sampah yang dikembangkan Kota Yogyakarta. Ia bahkan menyebut sistem pemilahan dan penanganan sampah melalui program Jumilah Joss Tenan merupakan inovasi yang pertama kali diterapkan di Indonesia.
“Ini inovasi yang pertama kali di Indonesia. Ini adalah sistem pemilahan yang benar. Jadi sampah dipilah berdasarkan jenisnya dan ditangani sesuai jenisnya,” ujarnya.
Ia menegaskan, prinsip utama program tersebut bukan sekadar memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, sampah harus ditangani agar tidak kembali menimbulkan persoalan baru.
“Sehingga sampah itu diolah tidak menjadi sampah baru, tetapi diolah menjadi bahan yang lebih berguna,” katanya.
Pelaksanaan program saat ini telah menjangkau seluruh kelurahan di Kota Yogyakarta. Penjemputan sampah plastik residu dilakukan secara bertahap melalui sistem yang telah dibangun bersama petugas pemilah dan sumber-sumber sampah yang menjadi sasaran program.
Supriyanto menyebut cakupan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dari sumber mulai berjalan secara lebih terintegrasi. Dari 45 kelurahan yang ada di Kota Yogyakarta, sampah plastik residu yang dapat ditangani saat ini mencapai sekitar 870 kilogram per hari.
“Jumlah tersebut menunjukkan besarnya potensi sampah plastik residu yang dapat dikurangi dari aliran sampah menuju depo apabila pemilahan dilakukan secara konsisten dari sumbernya,” katanya.
Program Jumilah Joss Tenan juga menjadi bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya mengandalkan tempat pembuangan, tetapi mengutamakan prinsip pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali material.
“Konsep ini sekaligus memperkuat pendekatan pengelolaan sampah dari hulu. Artinya, persoalan sampah tidak hanya diselesaikan ketika sudah berada di depo atau tempat pemrosesan akhir, tetapi dimulai sejak sampah dihasilkan oleh rumah tangga, warung makan, maupun unit usaha lainnya,” jelasnya.
Menurut Supriyanto, keberhasilan program ke depan sangat bergantung pada keterlibatan berbagai pihak. Pihanya berharap semakin banyak unit usaha yang terlibat aktif dalam pemilahan sampah dari sumbernya.
Selain unit usaha, keberadaan Jumilah juga dinilai menjadi bagian penting dalam memastikan proses pemilahan berjalan secara konsisten. Para petugas pemilah menjadi penghubung antara sumber sampah dengan sistem pengolahan yang telah disiapkan.
“Kami berharap program ini bisa terus ditingkatkan dengan melibatkan aktif unit-unit usaha dan Jumilah,” ujar Supriyanto.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan tidak hanya menyerahkan seluruh persoalan sampah kepada petugas. Pemilahan sejak dari sumber menjadi langkah penting yang dapat dilakukan masyarakat sebelum sampah diserahkan untuk diangkut atau diproses lebih lanjut.
“Dengan semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha yang memilah sampah sesuai jenisnya, proses pengolahan akan menjadi lebih mudah dan efektif. Sampah yang masih memiliki nilai guna dapat diarahkan untuk dimanfaatkan kembali, sementara sampah yang memang masuk kategori residu dapat memperoleh penanganan khusus,” harapnya.
Pemilik Warung Makan Sri yakni Sri Mulyati mengungkapkan sangat mendukung program tersebut. Menurutnya, kebiasaan memilah sampah memberikan manfaat langsung bagi kebersihan warung yang dikelolanya.
Sri mengatakan, setelah sampah dipilah, kondisi warung menjadi lebih bersih karena sampah tidak tercampur dan menumpuk terlalu lama. Pemilahan juga membuat sampah lebih mudah ditangani sehingga tidak menimbulkan bau.
“Dengan memilah sampah, warung jadi lebih bersih dan sampahnya tidak menimbulkan bau,” ujarnya.
Menurutnya, pemilahan juga memberikan manfaat ekonomi. Sampah plastik tertentu, seperti botol plastik, masih memiliki nilai jual sehingga dapat dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah.
“Kalau sampah plastik seperti botol itu bisa dijual ke bank sampah. Jadi selain warung lebih bersih, bisa menambah penghasilan juga,” katanya.