JAKARTA,REDAKSI17.COM — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan dua kapal tanker minyak terbakar setelah menghantam ranjau laut di Selat Hormuz. Masing-masing kapal disebut mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah.

Mengutip dari Al Jazeera, Sabtu (17/10), IRGC menyebut tanker pertama mengalami ledakan yang memicu kebakaran hebat setelah menabrak ranjau. Kapal kedua juga dilaporkan terbakar akibat insiden serupa.

Identitas kedua kapal maupun asal muatan minyaknya belum tersedia.

Menurut laporan IRNA, kedua tanker mematikan sistem penentuan posisi dan radar, kemudian mencoba melintasi jalur yang tidak mendapat izin dari Iran.

IRGC juga mengklaim salah satu tanker berupaya melewati perairan tersebut dengan dukungan AS, sementara kapal lainnya tidak dapat bergerak.

Iran mengambil alih kendali Selat Hormuz setelah perang AS-Israel terhadap negara tersebut dimulai pada akhir Februari. Sejak itu, Teheran mewajibkan seluruh kapal memperoleh izin sebelum melintas.

Sebelum perang, selat tersebut menjadi jalur pengiriman minyak yang setara dengan sekitar seperlima konsumsi minyak global.

Pada pekan ini, Komandan Angkatan Laut IRGC Laksamana Muda Ali Azmaei memperingatkan bahwa kapal yang menonaktifkan sistem navigasi akan dianggap sebagai pihak yang bermusuhan.

Sementara itu, AS menerapkan blokade laut sebagai langkah balasan terhadap ekspor minyak Iran.

Militer Iran sebelumnya menyatakan dua tanker terbakar pada Kamis dan Jumat di wilayah Teluk Oman yang ditetapkan Teheran sebagai zona terlarang. Lembaga pemantau maritim juga melaporkan dua tanker terkena serangan di perairan Teluk dekat Arab Saudi pada Jumat.

Pada Minggu sebelumnya, enam kapal diserang di dalam atau sekitar Selat Hormuz. Berdasarkan informasi perusahaan keamanan Vanguard, Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan badan maritim Inggris UKMTO, jumlah tersebut merupakan yang tertinggi dalam satu hari sejak perang dimulai.

Serangan di sekitar Selat Hormuz meningkat dalam dua pekan terakhir. Iran menyatakan peningkatan serangan merupakan respons terhadap blokade AS atas pelabuhannya serta pengetatan sanksi pada bulan lalu.

Data Kpler menunjukkan volume minyak yang melewati selat tersebut turun dari hampir 20,8 juta barel pada 8 Oktober menjadi hanya 2,9 juta barel pada 11 Oktober.

Gangguan pengiriman tersebut mendorong kenaikan harga energi global dan menambah tekanan inflasi.

Di tengah ketegangan itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak akan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran.

“Saya tidak akan menggunakan senjata nuklir,� ujar Trump dalam wawancara dengan Newsmax pada Kamis.

Trump juga menyatakan tidak mempertimbangkan pengerahan pasukan darat ke Iran. Ia meyakini kesepakatan untuk mengakhiri perang akan tercapai setelah pemilu sela AS pada 3 November.