Beranda / Daerah / Seni Media Rekam Harus Berpihak pada Kemanusiaan

Seni Media Rekam Harus Berpihak pada Kemanusiaan

Bantul,REDAKSI17.COM – Setiap zaman memiliki cara tersendiri dalam merekam perjalanan dunia. Namun di tengah kecanggihan teknologi perekaman, perenungan atas nilai-nilai kemanusiaan serta upaya menjaga kepekaannya penting untuk tetap ada.
Demikian yang disampaikan Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X dalam sambutannya pada Pembukaan Pameran dan Penayangan Seni Media Rekam Jalan Menuju Media Kreatif (JMMK) #18. Bertempat di Pendopo Art Space pada Jum’at (23/10) malam, pameran tahunan ini diselenggarakan oleh Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta.
“Di tengah kecanggihan teknologi, terdapat pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan. Apakah kemajuan cara merekam kehidupan telah berjalan seiring dengan kedalaman kita memahami kemanusiaan?” ungkap Sri Paduka.
Mengusung tema ‘Re;Definition, Re;Interpretation, Re;Application’, pameran JMMK #18 mengajak para pelaku seni meninjau kembali hakikat penciptaan karya di era digital. Menurut Sri Paduka, tema yang diusung ini menjadi ruang perenungan untuk mendefinisikan ulang kemungkinan artistik, menafsirkan perubahan sosial melalui kepekaan estetis, serta menghadirkan karya yang memiliki kebermanfaatan nyata bagi kehidupan.
“Teknologi memperluas kemampuan manusia, sementara kebudayaan memberikan arah bagi penggunanya. Kecanggihan dapat menghasilkan gambar yang semakin sempurna, tetapi kepekaan manusialah yang menjadikannya bermakna,” tutur Sri Paduka.
Sri Paduka juga menegaskan, kecanggihan teknologi hendaknya senantiasa berjalan selaras dengan nilai-nilai kebudayaan masyarakat. Karenanya, Sri Paduka berharap FSMR ISI Yogyakarta terus mengembangkan ekosistem penciptaan seni yang terbuka, kolaboratif, serta berakar kuat pada kehidupan masyarakat.
“Perguruan tinggi seni hendaknya menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan, kreativitas, dan kebutuhan sosial dalam membaca dinamika zaman. Semoga karya-karya yang dihadirkan bisa memperluas cakrawala pemikiran, menumbuhkan kepekaan sosial, serta meneguhkan keyakinan, bahwa masa depan kebudayaan dibangun melalui kreativitas yang berpihak pada kemanusiaan,” pungkas Sri Paduka.
Sementara itu, Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., menyampaikan, penyelenggaraan JMMK #18 bertepatan dengan Peringatan Hari Jadi FSMR ISI Yogyakarta yang ke-33. Ia mengungkapkan, keberadaan FSMR telah memperkaya khasanah seni dan kreativitas tidak hanya di Yogyakarta, tetapi juga telah menjangkau tingkat internasional.
“Pesan beliau (Sri Paduka) saat audiensi bahwa acara-acara di ISI Yogyakarta hendaknya tetap memberi dampak pada masyarakat terdekat kita. Ini menjadi pengingat bagi kami agar kegiatan seni populer dan media rekam tidak hanya berorientasi pada internasionalisasi, tetapi juga membawa dampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.
Irwandi turut mengapresiasi penyelenggaraan JMMK #18 yang kembali digelar di luar area kampus dengan merangkul berbagai mitra dan kolaborator eksternal. Ia berharap ajang tahunan ini dapat terus mencerahkan wawasan seni, budaya, serta memperkuat industri kreatif masyarakat.
Dalam laporan penyelenggaraan <span;>JMMK #18<span;>, Dekan FSMR ISI Yogyakarta, Dr. Edial Rusli, S.E., M.Sn., memaparkan, pameran tahun ini menyajikan sebanyak 161 karya yang meliputi fotografi, film fiksi, film dokumenter, eksperimentasi, video musik, video art, hingga karya interpretatif. Pameran berskala internasional ini melibatkan seniman dari 12 negara, di antaranya Turki, Australia, Malaysia, Thailand, Italia, Somalia, Jerman, dan Rumania, serta terselenggara atas kolaborasi dengan Pendopo Art Space dan Project Eleven Australia.
Penyelenggaraan JMMK #18 juga dirangkaikan dengan apresiasi atas pengukuhan Guru Besar bagi Rektor ISI Yogyakarta melalui penayangan karya cetak tua milik Prof. Dr. Irwandi. Selain itu, selaras dengan komitmen mewujudkan seni yang inklusif, panitia bekerja sama dengan Unit Layanan Disabilitas ISI Yogyakarta dan membekali 10 pendamping untuk memberikan layanan pendampingan bagi pengunjung penyandang disabilitas.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *