Beranda / Daerah / Sri Sultan: Pengabdian Pemuda Harus Berdampak Nyata bagi Warga

Sri Sultan: Pengabdian Pemuda Harus Berdampak Nyata bagi Warga

Sleman,REDAKSI17.COM – Pengabdian pemuda tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan atau jumlah peserta, tetapi dari perubahan nyata yang dirasakan masyarakat. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, keberhasilan inovasi sosial harus terlihat dari kemampuannya memperkuat kemandirian warga dan membantu mereka menentukan masa depannya sendiri.

Pesan tersebut disampaikan Sri Sultan dalam Awarding Night Bulan Bakti Nasional Karang Taruna (BBNKT) 2026 di Pendopo Agung Kedhaton Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat (23/10) malam. “Malam ini, kita menghormati para pemuda yang mengubah kepedulian menjadi kerja yang terukur. Di balik setiap penghargaan terdapat waktu, tenaga, dan ketekunan, yang sering berlangsung jauh dari perhatian publik,” ujar Sri Sultan.

Menurut Sri Sultan, perjalanan Karang Taruna selama 66 tahun menjadi momentum untuk menilai sejauh mana organisasi kepemudaan mampu memperbesar kemampuan masyarakat dalam menentukan masa depannya sendiri. Karena itu, keberhasilan gerakan sosial harus dilihat dari dampaknya, bukan semata-mata jumlah kegiatan atau peserta.

“Setiap inovasi sosial perlu diuji dengan tiga pertanyaan. Apakah persoalan warga benar-benar berkurang? Apakah warga terlibat menentukan dan menjalankan solusinya? Apakah manfaatnya bertahan setelah dukungan awal berakhir?” katanya.

Prinsip tersebut sejalan dengan tema BBNKT 2026, “Bersatu, Bergerak, Berdampak”. Bagi Sri Sultan, kebersamaan harus dibangun melalui kepercayaan, gerakan perlu disertai tanggung jawab, dan keberhasilan pada akhirnya ditentukan oleh manfaat yang dirasakan masyarakat.

Kekuatan Karang Taruna terletak pada kedekatan kader dengan kehidupan warga. Mereka dapat mengenali persoalan di lingkungannya, mulai dari keterbatasan akses air bersih hingga minimnya kesempatan kerja bagi pemuda. Pemetaan kebutuhan tersebut menjadi langkah awal agar program sosial tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berkembang menjadi pemberdayaan yang memperkuat kemandirian warga.

Salah satu contoh terlihat pada Karang Taruna Dipo Ratna Muda di Kalurahan Guwosari, Kabupaten Bantul. Kelompok ini mengelola mata air untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga sekaligus mendukung irigasi pertanian. Kawasan penyangganya juga dikembangkan menjadi wisata edukasi pertanian.

Inisiatif tersebut memperlihatkan potensi satu sumber daya lokal untuk menjawab beberapa kebutuhan sekaligus: ketersediaan air, produktivitas pertanian, dan peluang ekonomi. Agar manfaatnya berkelanjutan, keterlibatan warga perlu dijaga sejak perumusan masalah hingga evaluasi. Sri Sultan juga menekankan pentingnya teknologi tepat guna, dokumentasi praktik baik, serta pelibatan perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan.

Semangat pemberdayaan itu tercermin dalam lima karya yang mendapat penghargaan pada Pekan Inovasi Sosial 2026. Karya tersebut meliputi “Dari Sampah Organik Menjadi Siklus Pangan” oleh Anggun Tri Cahyanto, “Biokonversi Sampah Organik” oleh Dimas Febrianta Nugroho, “Lingkungan Hidup Pariwisata” oleh Eko Sujarno, “Laboratories Sedusun” oleh Kris Meilda Setiawati, serta “Aquaponik Drum” oleh Mona Losinta.

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyampaikan selamat kepada para penerima penghargaan. Ia menilai inovasi merupakan cara untuk menjawab persoalan sosial melalui gagasan baru yang memberi manfaat bagi masyarakat.

“Inovasi adalah cara untuk menjawab permasalahan sosial dengan gagasan baru. Saat ini, Karang Taruna Indonesia telah menghasilkan berbagai karya inovatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya,” ujar Agus Jabo.

Ia berharap inovasi tersebut dikembangkan secara berkelanjutan sehingga tidak berhenti sebagai gagasan atau proyek sesaat. Kreativitas generasi muda, menurutnya, merupakan modal penting untuk menghadirkan solusi atas persoalan sosial di tingkat lokal.

Selain inovator sosial, BBNKT 2026 memberikan penghargaan kepada lima Karang Taruna berprestasi, yakni Karang Taruna Trisula dari Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Karang Taruna Dharma Remaja dari Kabupaten Semarang, Jawa Tengah; Karang Taruna Hipenari dari Kabupaten Kulon Progo, DIY; Karang Taruna Asoka dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat; serta Karang Taruna Dharma Santosa dari Kabupaten Badung, Bali.

Ketua Umum Pengurus Nasional Karang Taruna (PNKT) Budisatrio Djiwandono mengapresiasi dukungan Pemerintah Daerah DIY dan kerja para kader yang berkontribusi di tengah masyarakat. Ia juga menyampaikan kebanggaannya terhadap siswa Sekolah Rakyat yang mampu menunjukkan prestasi di tengah latar belakang sosial ekonomi yang beragam.

“Saya sangat berbahagia dan bangga melihat putra-putri kita tidak kalah dari siswa sekolah lain. Mungkin latar belakang mereka kurang mampu, tetapi mereka menunjukkan bahwa mereka setara dan mampu berprestasi jika diberikan kesempatan,” ujar Budisatrio.

Dukungan terhadap pengembangan potensi generasi muda juga diwujudkan melalui Olimpiade Bahasa Asing yang diselenggarakan PNKT bersama Kementerian Sosial. Kompetisi bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Mandarin tersebut diikuti 6.450 siswa dari 141 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.

Agus Jabo menegaskan, kemiskinan tidak seharusnya membatasi kesempatan anak untuk mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi. Melalui Sekolah Rakyat, anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem diharapkan memperoleh kesempatan yang setara untuk mengembangkan bakat dan menyiapkan masa depan.

“Anak-anakku, siswa Sekolah Rakyat, kalian adalah bukti bahwa kemiskinan tidak pernah menentukan batas kemampuan seseorang. Latar belakang kalian mungkin berbeda, tetapi kalian memiliki potensi yang sama dengan anak-anak lain di Indonesia,” kata Agus Jabo.

Ketua Panitia BBNKT 2026 sekaligus Wakil Ketua PNKT GKR Hayu menjelaskan, kegiatan tahun ini dirancang untuk memperkuat inovasi sosial dan partisipasi kader. Rangkaian agenda mencakup Pekan Inovasi Sosial, penghargaan Karang Taruna berprestasi, forum perempuan, Karang Taruna Fest, dan Olimpiade Bahasa Asing.

Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus mendorong pemerintah daerah memberi ruang bagi program kepemudaan melalui perencanaan dan penganggaran daerah. Dengan dukungan tersebut, inisiatif kader diharapkan memiliki kesempatan untuk berkembang dan memberi manfaat lebih luas.

Pada akhirnya, keberhasilan gerakan Karang Taruna tidak berhenti ketika penghargaan diserahkan. Ukurannya adalah ketika lingkungan menjadi lebih terjaga, akses kebutuhan dasar semakin baik, peluang usaha terbuka, dan warga memiliki kemampuan lebih besar untuk mengatasi persoalannya sendiri. Di situlah pengabdian pemuda menemukan maknanya: bukan sekadar hadir membantu, melainkan ikut membangun kemandirian masyarakat.

Humas Pemda DIY

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *