OHIO,REDAKSI17.COM — Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama melontarkan kritik pedas terhadap presiden petahana Donald Trump terkait perang dengan Iran. Obama meremehkan strategi diplomasi politikus Partai Republik tersebut yang dinilainya tidak matang.
“Mereka ini bukan orang-orang yang serius. Sama sekali tidak serius. Dan masalah utamanya, rakyat yang pada akhirnya harus membayar mahal akibat ketidakseriusan mereka,” kata Obama saat berkampanye untuk politikus Partai Demokrat di Ohio, Sabtu(24/10/2026) waktu setempat, seperti dikutip dari The Independet.
Amerika Serikat bersama Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari lalu. Saat itu, Trump mengklaim bahwa warga AS berada dalam ancaman bahaya terkait ambisi nuklir negara di Timur Tengah tersebut.
Namun, Obama menegaskan bahwa persoalan nuklir Iran sebenarnya telah diselesaikan pada masa pemerintahannya — sampai akhirnya Trump membatalkan kesepakatan tersebut.
“Mari kita cermati perang Iran ini. Alasan awalnya adalah kita masuk ke sana dan memaksa mereka menghentikan program nuklir serta melepaskan senjata nuklir mereka,” ujar Obama. “Kenyataannya, Iran saat itu tidak memiliki senjata nuklir karena saya telah membuat kesepakatan yang diakui semua pihak — mencegah mereka mendapatkan nuklir. Dan saya tidak perlu meluncurkan satu rudal pun untuk melakukannya; saya hanya perlu melakukan diplomasi.”
Obama merujuk pada Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), yang umumnya dikenal sebagai Kesepakatan Nuklir Iran. Kesepakatan tersebut ditandatangani Iran pada 2015, sebelum akhirnya Trump menarik AS keluar dari perjanjian itu pada periode pertamanya bertugas di Gedung Putih.
Perjanjian tersebut membatasi program nuklir Iran guna memastikan pemanfaatan bahan nuklir hanya untuk tujuan damai,dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.
Namun, saat menarik diri dari perjanjian pada 2018, Trump berdalih bahwa kesepakatan itu “tetap membiarkan Iran memperkaya uranium dan secara bertahap mencapai ambang batas pembuatan senjata nuklir.”
Sepanjang konflik berlangsung, Trump berulang kali menegaskan bahwa operasi militer ini akan berjalan singkat. Namun,pertempuran kini telah berlarut-larut hingga hampir delapan bulan. Tak lama setelah serangan dimulai, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz — jalur pelayaran vital yang memblokir lalu lintas kapal tanker minyak dan memicu lonjakan harga bahan bakar dunia.
Berdasarkan data Pentagon, sebanyak 21 prajurit AS tewas dan 865 lainnya luka-luka dalam berbagai operasi yang berkaitan dengan perang tersebut.“Jadi setelah tujuh bulan berlalu, bagaimana kondisi perang itu sekarang?” tanya Obama.
“Sekutu dan pangkalan militer kita diserang; warga Amerika tewas; ratusan warga Amerika luka-luka; dan kita telah menyusutkan stok rudal kita,” kata mantan presiden tersebut, meskipun Trump membantah laporan mengenai kelangkaan amunisi. “Dan Iran kini memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak ke pasar dunia.”
“Inilah penyebab utama melonjaknya harga minyak. Tidak ada yang bisa membantahnya. Ini juga alasan harga solar naik,dan mengapa harga hampir semua barang ikut melambung.”
Di tengah kemerosotan popularitas perang Iran di mata publik, Trump terus menggelar rapat akbar saban hari di berbagai penjuru negeri untuk mendongkrak peluang Partai Republik mempertahankan kontrol di Kongres pada pemilu sela November mendatang.
Berdasarkan survei terbaru dari AP/NORC Center for Public Affairs Research, sebanyak 47 persen pemilih Demokrat dan 56 persen pemilih Republik menilai penanganan serta penghentian perang di Iran harus menjadi salah satu prioritas utama bagi Kongres periode berikutnya.
Obama hadir di Cleveland pada Sabtu untuk memberikan dukungan kepada Amy Acton, yang bertarung memperebutkan kursi Gubernur Ohio melawan sekutu dekat Trump, Vivek Ramaswamy. Selain itu, Obama juga menggalang dukungan bagi mantan Senator Sherrod Brown yang bertarung melawan Senator dari Partai Republik, Jon Husted.
Peluang Ramaswamy di pasar taruhan dilaporkan merosot tajam akibat iklan kampanye kontroversial yang menyerang ibu kandung lawannya. Dalam iklan tersebut, Ramaswamy memanfaatkan sosok ibu Acton — yang diakui Acton pernah melakukan penganiayaan terhadapnya saat kecil — untuk menuding Acton sebagai “pembohong” dan mengimbau warga Ohio agar tidak memilihnya.
Hingga Sabtu malam, platform pasar prediksi Polymarket mencatat peluang kemenangan Acton mencapai 83 persen,berbanding jauh dengan Ramaswamy yang hanya mengantongi 18 persen.
Ramaswamy juga tertinggal tujuh poin dari Acton dalam survei konvensional. Berdasarkan survei Marist Poll yang dilakukan sebelum iklan kampanye tersebut dirilis, Acton memperoleh 50 persen dukungan dari calon pemilih potensial di Ohio, sedangkan Ramaswamy meraih 43 persen.
Dalam survei yang sama, Sherrod Brown unggul empat poin atas Husted dengan perolehan dukungan 48 persen banding 44 persen.








