Mojtaba menegaskan, pergantian kekuatan politik di AS maupun pergeseran dominasi di Kongres tidak menjamin berakhirnya permusuhan terhadap Iran. Dia juga memperingatkan pihak-pihak yang berharap konsesi kepada Washington bisa menghentikan tekanan AS.
“Jika masih ada yang menyimpan sedikit harapan akan perubahan perilaku atau pergeseran partisan dan faksional dalam sistem dominasi, atau yang membayangkan bahwa dengan memberikan konsesi kepada AS mereka bisa mencegahnya dari permusuhan terhadap bangsa Iran, mereka sangat keliru,� kata Mojtaba melalui akun media sosialnya, dikutip Jumat (6/11/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah warga Iran merayakan kemenangan Partai Demokrat atas Republik dalam pemilu paruh waktu AS. Demokrat berhasil merebut kendali Kongres, mengakhiri dominasi Partai Republik yang selama ini menjadi pendukung utama agenda politik Trump.
Kemenangan Demokrat memunculkan harapan di kalangan warga Iran bahwa perubahan komposisi Kongres dapat memengaruhi kebijakan Washington, terutama terkait perang dengan Iran.
Namun, para pejabat Iran menilai perubahan tersebut belum tentu membawa dampak signifikan. Mereka khawatir perang skala penuh masih bisa berlanjut meskipun Demokrat mulai menguasai Kongres pada Januari 2027.
Di tengah situasi tersebut, pembicaraan untuk mencegah pecahnya kembali pertempuran masih berlangsung melalui mediasi Qatar. Sejumlah sekutu AS di Timur Tengah juga mendesak Washington agar tidak melanjutkan perang yang telah mengguncang perekonomian global.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan terus mendorong AS untuk kembali menyerang Iran. Namun, Trump sejauh ini berupaya menahan diri untuk tidak kembali menggunakan kekuatan militer dan lebih memilih menekan Teheran melalui jalur ekonomi.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa militer negaranya siap menghadapi dua kemungkinan, yakni negosiasi maupun perang.
“Amerika mengatakan tidak pada perang, dan kami mendukung pesan tersebut,” tulis Ghalibaf dalam pernyataan di media sosial X.
Namun, dia memperingatkan Washington agar tidak mengabaikan seruan perubahan tersebut. Jika tetap mengabaikannya, AS akan menghadapi konsekuensi berat dari perlawanan Iran.
Ghalibaf bahkan menyebut perlawanan Iran dapat berubah menjadi mimpi buruk bagi pemerintah AS.
Sikap para pemimpin Iran itu menunjukkan bahwa Teheran tidak ingin menggantungkan harapan pada perubahan peta politik di Washington. Bagi Iran, kemenangan Demokrat di Kongres belum menjadi jaminan bahwa tekanan dan ancaman militer AS akan berakhir.
Editor: Anton Suhartono








