Kapal-kapal kargo melabuhkan jangkar di dekat Selat Hormuz, lepas pantai timur Uni Emirat Arab, tepatnya di Khor Fakkan pada 12 Juli 2026. Iran mengumumkan Selat Hormuz ditutup dengan blokade sejak tanggal itu.(AFPTV via AFP) Sumber Al Jazeera, South China Morning Post
TEHERAN,REDAKSI17.COM – Iran memberikan pengecualian kepada kapal-kapal dari empat negara, yakni India, China, Irak, dan Qatar, untuk melintasi Selat Hormuz. Wakil Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Amir Hayat Moqaddam, mengatakan bahwa kapal-kapal dari keempat negara tersebut dapat melintas dengan bebas tanpa dicegat oleh Amerika Serikat (AS).
“Kapau-kapal dari negara-negara ini melintas dengan bebas, dan pihak Amerika juga tidak mencegat mereka,” kata Hayat Moqaddam kepada kantor berita Iranian Students’ News Agency (ISNA), Selasa. Baca juga: Dua Tanker Minyak dan Kapal Tunda Terbakar di Selat Hormuz, Iran Sebut Salah Satunya Kena Ranjau Adapun Iran secara efektif menutup Selat Hormuz pada awal perang Iran melawan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari. Sementara itu, AS kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan di pesisir selatan Iran pada Juli.
Kebijakan pengecualian tersebut disebut memberikan keuntungan bagi Iran, baik dari sisi ekonomi maupun politik. Mojtaba Khamenei Mengancam Balik AS-Israel Artikel Kompas.id Apa imbalan yang diberikan empat negara? Menurut Hayat Moqaddam, yang dikutip Al Jazeera, Iran akan menerima pasokan obat-obatan dari India dan dukungan politik dari China sebagai imbalan atas pemberian akses tersebut. Iran juga telah menerima dukungan diplomatik dari Qatar, yang memimpin upaya mediasi untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran.
Selain itu, Hayat Moqaddam mengatakan bahwa Teheran akan memungut biaya transit dari kapal-kapal India dan China. Namun, kapal Qatar diperbolehkan melintas tanpa dikenai biaya. Ia tidak menjelaskan apakah kapal-kapal Irak juga akan dikenai pungutan. Analis Iran sekaligus peneliti afiliasi di Departemen Sejarah dan Studi Hak Asasi Manusia Universitas Lund, Rouzbeh Parsi, mengatakan bahwa pertanyaan utamanya adalah sejauh mana skema tersebut benar-benar dapat berjalan.
Menurut dia, Iran telah lama berada di bawah sanksi sehingga praktik barter dan pertukaran keuntungan dalam perdagangan bukan hal baru bagi negara tersebut. Namun, situasi kali ini berbeda karena Iran berupaya mencari celah dalam embargo untuk memasukkan barang dan jasa penting ke negaranya.
Senada, Nader Hashemi, profesor madya politik Timur Tengah di Universitas Georgetown, memperkirakan Iran kemungkinan memungut biaya transit atau persentase dari nilai muatan kapal sebagai imbalan atas izin melintas tanpa gangguan. Analis keamanan dan pertahanan sekaligus mantan atase pertahanan Austria untuk Libya, Wolfgang Pusztai, menilai kebijakan tersebut berpotensi menghasilkan pendapatan besar bagi Iran. Pasalnya, China merupakan pembeli terbesar minyak mentah Iran, dengan hampir 90 persen dari total ekspor minyak Iran.
Dengan melibatkan Qatar yang memiliki banyak pembeli gas alam cair (LNG) serta India, Iran juga berupaya mengurangi penerimaan negara-negara terhadap strategi Washington dalam konflik tersebut. Apakah kapal-kapal itu bisa lolos dari blokade AS? Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan blokade laut yang diberlakukan negaranya berlaku bagi semua kapal dari negara mana pun yang masuk atau keluar dari wilayah pesisir maupun pelabuhan Iran.
Namun, kapal-kapal yang tidak singgah di pelabuhan Iran tidak terkena blokade tersebut.
CENTCOM juga menyatakan pengiriman bantuan kemanusiaan, termasuk makanan dan pasokan medis yang diperlukan untuk kelangsungan hidup penduduk sipil, dapat melintas setelah menjalani pemeriksaan. Pusztai menilai Hayat Moqaddam tidak secara jelas membatasi pengecualian tersebut hanya untuk kapal yang berdagang dengan negara-negara Teluk lainnya.
Mojtaba Khamenei Mengancam Balik AS-Israel Artikel Kompas.id Jika benar demikian, kebijakan Iran juga dapat berdampak besar bagi negara-negara Teluk lainnya, termasuk Arab Saudi. Menurut Pusztai, langkah tersebut berpotensi membuat blokade laut AS lebih sulit dipertahankan dan kurang efektif jika Washington menerima kebijakan Iran. Perubahan utamanya adalah pengecualian tersebut juga dapat mencakup kapal-kapal China dan India yang berlayar menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran.
Namun, hingga kini belum jelas apakah istilah kapal dari negara-negara tersebut mengacu pada bendera negara yang dikibarkan kapal, pemiliknya, operatornya, atau hubungan lainnya. Dampaknya terhadap pasar minyak masih terbatas Analis pasar utama IG Group, Chris Beauchamp, mengatakan pengecualian yang diberikan Iran kepada empat negara tersebut sejauh ini hanya memberikan dampak terbatas terhadap pasar minyak. Menurut dia, pasar saat ini kembali memperhitungkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai.
Namun, jika konflik kembali meningkat secara penuh, komandan Iran mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk membedakan kapal-kapal yang menjadi sasaran.
Beauchamp menambahkan, perhatian pasar saat ini masih tertuju pada peluang tercapainya kesepakatan yang lebih luas. Meski demikian, pengecualian dari pembatasan Iran tidak menjamin keselamatan kapal-kapal yang melintas. Pada 30 Oktober, kapal pengangkut LNG Qatar bernama Al Mayeda dilaporkan terkena hantaman benda tak dikenal di kawasan Teluk. Informasi tersebut disampaikan oleh pemilik kapal, Qatar Gas Transport Company.
Menurut data Organisasi Maritim Internasional (IMO) dan United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lebih dari 120 kapal komersial telah terkena serangan di kawasan tersebut sejak perang dimulai.







