Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengaku mendapatkan sudut pandang baru dalam membangun ruang terbuka hijau setelah melihat langsung cara anak-anak menikmati taman kota. Menurutnya, ruang terbuka hijau tidak cukup hanya indah dan rimbun, tetapi juga harus seru dan menyenangkan bagi anak-anak sebagai ruang bermain dan tumbuh.

Hal tersebut disampaikan Hasto saat menghadiri acara Main Bareng Lare Play: Dari Ruang Main ke Ruang Tumbuh di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Warungboto, Sabtu (13/12).

Hasto menegaskan bahwa penambahan dan pengelolaan ruang terbuka hijau tetap menjadi prioritas Pemerintah Kota Yogyakarta. Ia menyebutkan, ketika pemerintah memiliki kemampuan finansial, pembangunan ruang terbuka hijau harus terus dipikirkan dan dikembangkan.

“Gagasannya untuk ruang terbuka hijau di Kota Yogyakarta itu yang paling penting harus diperbanyak. Ketika Pemerintah Kota punya kemampuan finansial, jangan lupa memikirkan ruang terbuka hijau,” ujar Hasto.

Ia menyampaikan bahwa Pemkot Yogyakarta telah memiliki sejumlah ruang terbuka hijau yang perlu diperbarui, dibersihkan, dan dibenahi kembali agar berfungsi optimal sebagai taman kota yang nyaman bagi masyarakat.

Sarasehan pada acara Dari Ruang Main ke Ruang Tumbuh bersama Lareplay di RTHP Warungboto

Namun, kehadirannya dalam kegiatan bermain bersama anak-anak tersebut mengubah cara pandangnya terhadap konsep taman kota. Menurut Hasto, taman harus dirancang dari sudut pandang anak-anak sebagai pengguna utama ruang bermain.

“Saya mendapatkan insight yang bagus, karena ternyata kalau di mata anak-anak, taman itu seru. Berarti kalau bikin taman, harus seru,” ungkapnya.

Anak-anak menikmati bermain di area permainan RTHP

Hasto mengakui bahwa sebelumnya ia membayangkan taman kota yang lebih menonjolkan keindahan visual dan kerindangan. Setelah melihat langsung aktivitas anak-anak, ia menilai pentingnya menghadirkan alat permainan dan ruang bermain yang memadai.

“Setelah saya ke sini, saya pikir, wah, harus membikin yang seru. Tempat bermainnya harus cukup alat-alat bermain, kemudian anak-anak bisa bermain di sini dengan baik,” lanjutnya.

Selain itu, Hasto juga mengapresiasi adanya edukasi pengelolaan sampah dalam kegiatan tersebut. Ia menilai edukasi lingkungan sejak dini penting untuk membangun kesadaran anak-anak terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan.

 

Sementara itu, Co-Founder Lare Play, Wulan Yunita Dewi, menjelaskan bahwa Lare Play merupakan gerakan sosial yang mendorong pemenuhan hak anak untuk bermain secara inklusif, aman, dan mudah diakses melalui pemanfaatan ruang terbuka hijau publik.

“Lare Play ini gerakan sosial untuk mendorong hak anak untuk bermain. Kami ingin RTHP ini hidup kembali dan benar-benar dimanfaatkan sebagai ruang bermain anak,” kata Wulan.

Ia menambahkan bahwa kegiatan Main Bareng Lare Play merupakan kegiatan ketiga yang diselenggarakannya dan direncanakan berlangsung rutin setiap bulan di sejumlah RTHP di Kota Yogyakarta. Berbagai aktivitas disiapkan, mulai dari jelajah kampung dengan pos-pos edukasi, workshop seni, eksperimen sains, hingga permainan dan hiburan anak.

Wulan menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tersebut dapat diikuti secara gratis oleh anak-anak. Peserta hanya perlu melakukan pendaftaran karena kuota terbatas dan diprioritaskan bagi warga sekitar lokasi.

“Semua kegiatannya gratis, tidak dipungut biaya apa pun. Kami usahakan ada goodie bag dari sponsor-sponsor gitu. Jadi kami ingin anak-anak tetap bisa bermain bebas. Nih loh kita punya taman hijau, ayo kita main bebas di sini, jangan HP-an, jangan gadget-an, begitu,” ungkapnya.