UMBULHARJO,REDAKSI17.COM — Akhir tahun menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi dan refleksi atas berbagai program yang telah dilaksanakan. Hal tersebut juga dilakukan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta dengan menggelar kegiatan Diskusi Kebudayaan bertema “Niti Laku, Nata Semu Kabudayan” di Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan, Rabu (31/12).
Forum reflektif ini dihadiri oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, para budayawan, akademisi, praktisi seni, komunitas budaya, serta berbagai pemangku kepentingan kebudayaan.
Kegiatan ini diapresiasi oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan sebagai ruang strategis untuk evaluasi, perenungan, sekaligus penataan arah kebijakan kebudayaan Kota Yogyakarta ke depan.
Dalam sambutannya, Wawan Harmawan mengungkapkan, sepanjang tahun 2025 Kota Yogyakarta telah melalui berbagai dinamika dan capaian di bidang kebudayaan.
Beragam program strategis telah dijalankan, mulai dari penguatan publikasi budaya dan jejaring kawasan heritage, penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XI Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), optimalisasi Taman Budaya Embung Giwangan, penguatan potensi budaya, hingga penguatan citra kawasan budaya.
Selain itu, sisi layanan publik, Dinas Kebudayaan juga menghadirkan sejumlah inovasi, seperti Layanan Kebudayaan Jumat Layanan Jadi (JUMADI) serta komitmen menjaga kawasan strategis Malioboro melalui program Malioboro Bersih Sepanjang Hari dan sistem respon cepat pengaduan harian.
“Dengan demikian keberhasilan pembangunan kebudayaan tidak semata diukur dari terlaksananya program, melainkan dari sejauh mana program tersebut memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan ekosistem kebudayaan, kesejahteraan pelaku budaya, serta penguatan identitas Yogyakarta sebagai Kota Budaya yang hidup dan relevan dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.

Kegiatan ini diikuti Wakil Wali Kota Yogyakarta, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogya serta para pegiat seni di Kota Yogya.

Tambahnya, dengan tema “Niti Laku, Nata Semu Kabudayan” mengandung pesan bahwa kebudayaan bukan hanya tentang warisan masa lalu, tetapi juga tentang laku hidup, nilai, serta arah yang ditata bersama untuk masa depan.
“Kebudayaan diharapkan menjadi panduan dalam perumusan kebijakan, pembangunan ruang kota, dan penumbuhan kesadaran kolektif masyarakat terhadap jati diri Yogyakarta,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti mengungkapkan, pihaknya terus berupaya berperan aktif dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan kebudayaan di Kota Yogyakarta. Tugas tersebut diterjemahkan ke dalam program kerja tahunan melalui berbagai kegiatan pembinaan maupun penyelenggaraan event seni budaya.
“Di penghujung tahun 2025 ini kami menyadari perlunya mekanisme evaluasi yang mendalam untuk mengukur capaian, mengidentifikasi tantangan, sekaligus merumuskan rekomendasi kebijakan ke depan. Diskusi kebudayaan ini menjadi salah satu langkah kami untuk mendapatkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.
Tambahnya, sepanjang tahun 2025, fokus program Dinas Kebudayaan diarahkan pada publikasi budaya dan jejaring melalui pengembangan kawasan heritage guna memperkuat identitas budaya Kota Yogyakarta.
Kota Yogyakarta juga menjadi tuan rumah Rakernas XI JKPI dengan tema “Resiliensi Kawasan Cagar Budaya Guna Mendorong Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan”. Rangkaian kegiatan JKPI meliputi Rakernas dan Seminar JKPI, Indonesian Street Performance, Pasar Malam Indonesia, Festival Sastra, Master Class, Rumaket, Kotabaru Heritage Film Festival, Lawatan Nusaraya, hingga Jogja Historical Orchestra.
Selain itu, penguatan potensi budaya dilaksanakan melalui berbagai kegiatan seperti Kampung Menari, Pembinaan RKB, Festival Seni Tingkat Kota, Kompetisi Bahasa dan Sastra, Gelar Upacara Adat, Pelatihan Dalang, serta Semarak Keistimewaan Yogyakarta. Penguatan citra kawasan juga dilakukan melalui sosialisasi, apresiasi, rekomendasi, serta rehabilitasi bangunan cagar budaya, termasuk penataan kawasan Malioboro sebagai wajah Kota Yogyakarta dan bagian dari Sumbu Filosofi.
Tambahnya, pada tahun 2025, Dinas Kebudayaan juga meluncurkan Graha Budaya Taman Budaya Embung Giwangan yang semakin mengukuhkan kawasan tersebut sebagai ruang ekspresi dan atraksi budaya. Optimalisasi dilakukan melalui penyelenggaraan event reguler seperti Jogja Culture Show dan Pasar Minggu.
Ke depan, pada tahun 2026, sejumlah kebaruan direncanakan, antara lain sosialisasi cagar budaya melalui kerja bakti bersama masyarakat dan pemangku kepentingan, optimalisasi layanan JUMADI, peningkatan aktivitas budaya di Taman Budaya Embung Giwangan, serta peningkatan layanan di Malioboro melalui penyediaan toilet mobile, perbaikan tempat sampah, optimalisasi penerangan lampu budaya, dan penataan tata kelola event.
Selanjutnya, salah satu Penggiat Seni, RM Altianto Hendriawan menyampaikan, memberikan apresiasi atas dukungan dan fasilitasi Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap aktivitas seni budaya yang selama ini bersifat kolaboratif.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kota, kampung, komunitas, kampus, dan Keraton dalam setiap perhelatan kebudayaan di Yogyakarta.
“Harapannya, ke depan kemandirian pelaku seni perlu terus didorong, tidak hanya melalui dukungan pendanaan, tetapi juga pendampingan, penguatan jejaring, dan perluasan kerja sama dengan berbagai mitra di luar pemerintah daerah,” ungkapnya.