Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Terdapat beberapa pesan penting yang disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X saat menerima silaturahmi perdana Kepala Rumah Sakit Pusat TNI AU (RSPAU) dr. S. Hardjolukito, Marsma TNI dr. Margono Gatot S., Sp.JP, pada Selasa (06/10). Pesan penting Sri Sultan, yakni menyangkut peran serta seorang pemimpin dalam memperhatikan warganya, pentingnya regenerasi kepemimpinan, kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana, dan kolaborasi.
Pesan dari Sri Sultan ini disebutkan oleh Kepala RSPAU dr. S. Hardjolukito saat ditemui usai bersilaturahmi dengan Sri Sultan di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. dr. Margono menjelaskan, audiensi yang menjadi ajang silaturahmi sebagai pimpinan baru RSPAU dr. S. Hardjolukito ini, juga menjadi kesempatan bagi pihaknya untuk mengucapkan rasa terima kasih atas dukungan penuh yang telah diberikan Pemerintah Daerah DIY terhadap berbagai kegiatan rumah sakit, termasuk saat RSPAU Hardjolukito ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan penanganan COVID-19.
“Dari pertemuan ini ternyata banyak hal yang bisa kami terima. Kami yang berharap ke Ngarsa Dalem untuk selalu memberikan arahan dan dukungan. Pertama, yaitu Ngarsa Dalem menunjukkan peran serta seorang pemimpin untuk memperhatikan warganya atau rakyatnya. Kedua, menunjukkan perlunya regenerasi atau meneruskan apa yang sudah dicapai kepada generasi penerus. Ketiga, yaitu bagaimana kesiapan kita dalam penanggulangan bencana,” kata dr. Margono.
dr. Margono mengatakan, selama ini, pihaknya sudah sering berdiskusi dengan Dinas Kesehatan DIY bahwa salah satu standar “pelayanan minimal”, yaitu harus tanggap atau bisa memberikan pelayanan bencana. Pihaknya pun menunjukkan komitmen terhadap kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana ini melalui fasilitas siaga bencana yang dimiliki RSPAU dr. S. Hardjolukito.
“Kami punya gedung siaga bencana. Kita tidak berharap ada kejadian seperti COVID-19 lagi. Tetapi kalau ada, kami sampaikan tadi, kami punya ruang untuk gedung siaga bencana. Apabila terjadi sesuatu, kita siap,” tutur dr. Margono.
Diterangkan dr. Margono, gedung kebencanaan RSPAU dr. S. Hardjolukito tersebut, dibangun di era COVID. Sebab, pada waktu itu, RSPAU dr. S. Hardjolukito ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan untuk menangani covid, sehingga dibangunlah ruang isolasi khusus untuk penanganan penyakit infeksi. “Memang gedungnya seperti hall sehingga nanti dalam keadaan bencana kita bisa sulap menjadi mini hospital untuk kondisi bencana,” ucap dr. Margono.
Selain itu, senada dengan Sri Sultan, menurut dr. Margono semangat kolaboratif yang dijiwai oleh DIY, menjadi ciri khas yang bisa diadopsi oleh daerah lainnya. Salah satu contoh nyata dari semangat kolaboratif DIY ini terlihat dari penyelenggaraan kegiatan gerakan kolaboratif penanggulangan tuberculosis (TB) pada 29 November 2025 lalu. Melalui rangkaian Active Case Finding (ACF) TB berbasis laboratorium yang menyasar ribuan pelaku wisata di kawasan Malioboro dan Keraton, upaya ini menjadi salah satu wujud nyata pemberantasan TB di DIY.
“Itu ada sifat kolaboratif di kegiatan itu. Ada peran TNI di sana, Dinas Kesehatan, Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, semuanya ikut jadi satu di situ. Itu yang kami tunjukkan ke Ngarsa Dalem bahwa semangat kolaboratif itu ada di Jogja,” ungkap dr. Margono.
Dalam mendukung program strategis nasional, RSPAU dr. S. Hardjolukito juga mengembangkan layanan unggulan sesuai prioritas Kementerian Kesehatan, yakni KJSU (kanker, jantung, stroke, dan urologi). Terkait layanan penyakit kanker, RSPAU dr. S. Hardjolukito memiliki fasilitas radioterapi yang jumlahnya masih terbatas di Yogyakarta dan telah terintegrasi dengan BPJS Kesehatan.
“Dengan fasilitas radioterapi ini, pasien kanker tidak perlu antre lama di rumah sakit lain dan bisa ditangani di RSPAU dr. S. Hardjolukito,” paparnya.
Untuk layanan jantung dan stroke, RSPAU dr. S. Hardjolukito dilengkapi pun fasilitas Cathlab yang memungkinkan melakukan tindakan intervensi secara langsung ke tempat titik yang mengalami penyumbatan dan sebagainya. Sementara di bidang urologi, rumah sakit ini memiliki layanan penanganan batu ginjal dan hemodialisis dengan dukungan tenaga medis spesialis.
Selain itu, RSPAU dr. S. Hardjolukito membuka layanan Cleft Center untuk penanganan bibir sumbing yang selama ini banyak dialami masyarakat kurang mampu. Layanan tersebut diberikan secara paripurna, mulai dari pendampingan psikologis, tindakan bedah bertahap, hingga terapi bicara.
“Selama ini penanganan dilakukan melalui bakti sosial. Sekarang tidak. Siapa pun yang membutuhkan, bisa langsung datang dan akan kami tangani secara menyeluruh,” jelas dr. Margono.
Ke depan, RSPAU dr. S. Hardjolukito akan melanjutkan berbagai program kolaboratif bersama pemerintah daerah, termasuk skrining TB yang berkelanjutan. dr. Margono mengutarakan, DIY sendiri tidak termasuk provinsi dengan angka TBC tertinggi, namun pola kolaborasi di Yogyakarta dinilai dapat menjadi contoh nasional dalam upaya pencegahan TB.
Humas Pemda DIY




