UMBULHARJO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan seluruh SD Negeri menjadi sasaran program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Setiap tahun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta mengadakan pelatihan SPAB ke sejumlah SD Negeri untuk kesiapsiagaan guna mewujudkan sekolah aman, tangguh dan siap menghadapi potensi bencana. Sekolah yang sudah ditetapkan menjadi SPAB diharapkan mengevaluasi perencanaan dan rutin mengadakan simulasi bencana agar kesiapsiagaan bencana menjadi budaya.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan dan Data Informasi Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta, Iswari Mahendrarko, menegaskan sesuai kewenangan Pemkot Yogyakarta untuk SPAB adalah tingkat SD dan SMP. Untuk tingkat SMP program SPAB sudah dilaksanakan di semua SMP Negeri di Kota Yogyakarta yaitu 16 sekolah secara bertahap. Sedangkan pada tingkat SD Negeri sampai tahun 2026 program SPAB total sudah menyasar 21 SD Negeri dari sekitar 87 SD Negeri di Kota Yogyakarta. Ditargetkan semua SD Negeri bisa menjadi SPAB.
“Untuk tingkat SMP Negeri sudah selesai tahun lalu di 16 sekolah. Iya, target semua (SD Negeri) kita,” kata Iswari saat simulasi bencana SPAB di SD Negeri Gedongkuning, belum lama ini.
Dia menjelaskan tiap tahun BPBD Kota Yogyakarta menganggarkan program SPAB untuk sekitar 7 sekolah. Namun kecuali di tahun-tahun terakhir dimungkinkan menjadi sekitar 12- 13 sekolah karena menyesuaikan kondisi anggaran. Selama ini penyelenggaraan SPAB dilakukan oleh BPBD Kota Yogyakarta. Namun ke depan dibentuk sekretariat bersama oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Kota Yogyakarta yang melaksanakan SPAB.

Para murid mengikuti arahan guru berlindung di bawah meja saat simulasi bencana gempa bumi di SD Negeri Gedongkuning.

Iswari berharap sekolah yang sudah disasar program SPAB tidak berhenti sampai pelatihan itu berakhir. Namun juga melakukan evaluasi perencanaan-perencanaan yang sudah dibuat saat pelatihan serta simulasi bencana secara mandiri dan rutin.

“Kemudian melakukan simulasi paling tidak setahun sekali  secara mandiri bisa dilakukan tidak harus dengan biaya yang besar. Jadi kita harapkan kegiatan-kegiatan kesiapsiagaan ini menjadi budaya di sekolah,” paparnya.
Pihaknya menegaskan program SPAB penting untuk kesiapsiagaan seluruh warga sekolah dalam menghadapi potensi bencana. Dia menyatakan berdasarkan kajian risiko bencana, Kota Yogyakarta memiliko risiko bencana sekunder. Bukan bencana primer misalnya erupsi Gunung Merapi di Sleman, tapi dampaknya bisa ke Yogyakarta atau gempa dan tsunami dengan pusat di Bantul dampaknya bisa sampai ke Kota Yogyakarta.
“Jadi memang kalau skala tingkat kebencanaan Kota Yogyakarta ini termasuk tingkat kebencanaan yang sifatnya sekunder. Tapi kita tetap harus siap siaga dalam menghadapi bencana,” tambah Iswari.

Murid-murid SD Negeri Kotagede 3 berlarian keluar dan melindungi kepala dengan tas saat simulasi bencana gempa bumi rangkaian kegiatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2025.

Sedangkan Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Yogyakarta, Darmanto  mengatakan peserta pelatihan SPAB mendapatkan sertifikat dan mulai 2026, sekolah sasaran pelatihan SPAB akan mendapat piagam SPAB. Menurutnya sekolah yang sudah  mendapat sasaran program SPAB lebih paham terhadap kesiapsiagaan. Terbukti sekolah mampu melaksanakan simulasi bencana secara mandiri dan memilliki rambu-rambu kebencanaan. Dicontohkan setiap Hari Kesiapsiagaan Bencana pada 26 April, BPBD selalu menerbitkan edaran ke SPAB melaksanakan kegiatan simulasi mandiri.
“Kami berharap sekolah tidak hanya memahami konsep SPAB secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara nyata sehingga terwujud satuan pendidikan yang aman, siap, dan tangguh dalam menghadapi ancaman bencana. Ini juga sebagai bagian dari komitmen Menuju Jogja Tangguh Bencana,” tandas Darmanto saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).