Home / Politik / PKS Soroti Data Kerusakan Pertanian Pascabanjir, Desak Penanganan Terpadu dan Anggaran Prioritas

PKS Soroti Data Kerusakan Pertanian Pascabanjir, Desak Penanganan Terpadu dan Anggaran Prioritas

    

JAKARTA,REDAKSI17.COM — Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Rahmat Saleh, menegaskan pentingnya akurasi data kerusakan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan pascabencana sebagai dasar penentuan kebijakan dan anggaran negara. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Kerja Komisi IV DPR RI bersama Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rabu (14/01).

Rahmat mengawali dengan apresiasi kepada para menteri yang telah turun langsung ke daerah bencana dan menyalurkan bantuan darurat, khususnya Kementerian Pertanian. Ia menilai kehadiran pemerintah pusat dan realisasi bantuan pangan menjadi penguat psikologis bagi masyarakat terdampak.

Namun demikian, Rahmat menyoroti ketidaksesuaian data kerusakan yang disampaikan pemerintah pusat dengan kondisi riil di lapangan, khususnya di Sumatera Barat. Ia menegaskan bahwa kesalahan data berpotensi menyebabkan kekeliruan dalam perhitungan kebutuhan anggaran pemulihan.

“Tanpa mengurangi kepercayaan kami kepada tim Pak Menteri, saya pastikan data ini salah. Salah data ini berdampak pada salah prediksi anggaran. Untuk Sumatera Barat saja, sektor pertanian bisa hampir Rp2 triliun, sementara data yang disampaikan hanya Rp1,49 triliun untuk tiga provinsi,” tegasnya.

Ia mencontohkan, dalam data resmi disebutkan tidak ada kerusakan bendungan dan irigasi di Sumatera Barat, padahal di lapangan terdapat puluhan jaringan irigasi yang rusak, termasuk irigasi primer dan aliran sungai. Menurutnya, kondisi ini harus segera dikoreksi agar kebijakan yang diambil tidak meleset dari kebutuhan nyata.

Rahmat menekankan perlunya koordinasi serius antara pemerintah pusat dan daerah agar pendataan kerusakan benar-benar valid dan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan anggaran yang tepat sasaran.

Selain persoalan data, Rahmat juga mengusulkan perbaikan tata kelola irigasi pascabencana. Ia menilai pembagian kewenangan antara Kementerian Pertanian dan Balai Wilayah Sungai (BWS) kerap menghambat percepatan pemulihan irigasi skala kecil yang justru sangat dibutuhkan petani.

Terkait pemulihan lahan pertanian, Rahmat menyoroti banyaknya sawah yang rusak berat akibat perubahan alur sungai dan timbunan lumpur tebal. Untuk kondisi tersebut, ia menilai diperlukan dukungan alat berat agar lahan dapat segera kembali produktif.

Rahmat juga mendorong adanya kompensasi atau bantuan pengganti bagi petani yang gagal panen akibat banjir, agar mereka tetap mampu bertahan secara ekonomi hingga musim tanam berikutnya.

Di sektor kehutanan, Rahmat mengingatkan pentingnya perubahan pendekatan rehabilitasi hutan dan lahan. Menurutnya, pemulihan tidak cukup hanya mengejar jumlah bibit, tetapi harus berbasis restorasi lanskap yang sesuai dengan karakter wilayah dan melibatkan masyarakat lokal.

Ia juga mendukung moratorium serta peninjauan ulang izin di kawasan rawan bencana demi menjaga keberlanjutan lingkungan dan mencegah bencana serupa terulang di masa depan.

Sementara di sektor kelautan dan perikanan, Rahmat menyoroti dampak banjir terhadap pembudidaya ikan, termasuk di Danau Maninjau dan Danau Singkarak, di mana banyak keramba dan kolam rusak serta hanyut.

Ia menegaskan perlunya penanganan terpadu lintas sektor dan penetapan anggaran prioritas agar pemulihan kehidupan masyarakat terdampak dapat berjalan cepat dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *