Home / Ekonomi dan Bisnis / Harga Bitcoin & Emas Makin Tinggi, Fenomena Apa?

Harga Bitcoin & Emas Makin Tinggi, Fenomena Apa?

 

Jakarta,REDAKSI17.COM – Harga emas dan bitcoin (BTC) bergerak naik beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga kedua instrumen investasi ini terjadi kala meningkatnya geopolitik global, mulai dari perang dagang dan Timur Tengah.
Saat ini, harga emas dunia sendiri mencapai level US$ 4.595 per troy ons di perdagangan Sabtu (17/1). Sementara BTC, berdasarkan data perdagangan CoinMarketCap berada di level US$ 95.137 atau sekitar Rp 1,6 miliar (asumsi kurs Rp 16.909).

Pergerakan BTC naik menyusul rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dianggap moderat. Diketahui, Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan. Sementara untuk inflasi inti AS hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.

Sementara dari sisi industri, regulasi aset kripto di AS juga turut mendorong pergerakan harga menyusul draf Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Digital Asset Market CLARITY Act. Aturan ini memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.

“Pasar melihat adanya sinyal yang semakin jelas bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif,” ungkap Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, dalam keterangan tertulisnya, dikutip Minggu (18/1/2026).

Proyeksi Harga Bitcoin
Secara teknikal, terang Fyqieh, BTC telah keluar dari fase konsolidasi sejak akhir 2025. Menurutnya, harga BTC masih berpeluang menguat ke level US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,69 miliar sepanjang dapat bertahan di atas level support pada US$ 94.000.

Pasalnya, arus dana institusional masih berpeluang menjadi salah satu sentimen positif pergerakan harga BTC ke depan. Saat ini, arus dana institusi di ETF Bitcoin spot AS tercatat lebih dari US$ 750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025.

“Penembusan area US$ 94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis US$ 100.000 tetap terbuka,” jelas Fyqieh.

Dihubungi terpisah, Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut volatilitas harga BTC masih cukup tinggi. Menurutnya saat ini, arus masuk BTC adalah bagian dari bargain hunting dan spekulatif buying.

“Bitcoin masih tidak konsisten, memang ada inflow ETF bitcoin namun lebih pada bargain hunting dan spekulatif buying, namun juga terimbas aksi profit taking di akhir pekan,” ungkapnya.

Ia menilai, harga BTC masih berpeluang naik ke level US$ 106.000 atau sekitar Rp 1,79 miliar jika berhasil bertahan pada level support US$ 98.000. Namun sebaliknya, BTC berbalik melemah jika gagal melewati level level support tersebut.

“Bitcoin sendiri lebih ke teknikal, konsensus analis masih beragam walau lebih banyak yang bullish, namun tidak sedikit yang bearish dan memperkirakan BTC bisa turun hingga US$ 60.000. Secara teknikal, apabila gagal melewati US$ 98.000 dalam waktu dekat, potensi akan turun di bawah US$ 90.000,sebaliknya bisa membawa ke US$ 106.000,” ujar dia.

Proyeksi Harga Emas Dunia
Sementara itu, Lukman juga menyebut harga emas masih potensial naik secara jangka panjang. Hal ini terjadi menyusul meningkatnya eskalasi geopolitik menjadi sentimen utama yang mendorong kenaikan harga emas dunia.

“Emas diperkirakan masih akan naik untuk jangka yang panjang,” jelasnya.

Meski begitu, Lukman menyebut ada potensi konsolidasi harga emas dalam waktu dekat. Hal ini terjadi lantaran pelaku pasar masih menanti data ekonomi AS yang mendukung ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

“Untuk jangka pendek diperkirakan akan berkonsolidasi dengan investor menantikan data-data ekonomi AS baru yang mendukung pemangkasan suku bunga The Fed. Selain itu, rally fantastis pada harga perak juga telah meredam kenaikan emas,” pungkasnya.

Sementara itu, Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyebut harga emas dunia mampu naik pada level resistance pertama di level US$ 4.655 per troy ons. Jika berlanjut ke resistance kedua, harga emas dunia di level US$ 4.706 per troy ons.

Namun jika harga emas dunia turun, level resisten pertama ada pada angka US$ 4.553 per troy ons. Jika penurunan terus berlanjut, diperkirakan resisten kedua hingga di level US$ 4.489 per troy ons.

Menurutnya, pergerakan harga emas kuat dipicu oleh perang dagang Uni Eropa dan China, rencana Presiden AS Donald Trump mencaplok Greenland, geopolitik di Iran yang semakin mencekam, hingga politik internal AS terkait pembangunan Bank Sentral yang melibatkan Ketua The Fed, Jerome Powell, dan Jaksa Agung.

“Sehingga Bank Sentral Tiongkok, Bank Sentral India, Amerika Selatan, Amerika Latin, ASEAN, ini pun juga berlomba-lomba melakukan pembelian terhadap logam mulia. Nah ini yang membuat harga emas dunia mengalami kenaikan,” terang Ibrahim dalam keterangannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *