Ibu Ruswo atau yang bernama asli Khusna merupakan pahlawan perempuan dari Yogyakarta. Lahir pada tahun 1905 di Yogyakarta. Ruswo Prawiroseno merupakan nama suaminya, sehingga lazim di Jawa dipanggil dengan nama suami. Berperan sebagai pengendali pasokan logistik bagi para pejuang bersama dengan kaum ibu-ibu bahkan menjadi kurir rahasia. Dikalangan anak muda, mungkin namanya tidak terlalu dikenal, namun perannya selama masa perjuangan sangat berpengaruh bagi prajurit.
Ibu Ruswo memiliki kemampuan untuk membaca, menulis dan berhitung. Beliau tidak menamatkan pendidikannya, hanya sampai kelas 2. Namun, ibu Ruswo memiliki pemikiran yang maju dan aktif menyuarakan hak perempuan. Beliau aktif dalam Perkumpulan Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak (P4A). Selain itu aktif dalam Kepanduan. Ibu Ruswo memiliki kemampuan yang baik dalam menyiapkan logistik. Beliau pernah bertugas mengurus bagian logistik saat kegiatan Jambore/Perkino tahun 1941. Pada zaman Jepang, Bu Ruswo bergabung dengan Badan Pembantu Prajurit Indonesia (BPPI).
Sebagai Kurir
Selama masa perang Gerilya berbagai peran dilakukan Ibu Ruswo bersama Pak Ruswo. Mereka berdua aktif sebagai kurir penyampai pesan baik tulisan maupun kurir lisan. Bagaimana taktiknya? Saat bertugas surat-surat penting disimpan di dalak stang sepeda yang ditutup pegangan sepeda. Sungguh cerdik dan tangkasnya beliau karena berani keluar wilayanh dan berpapasan dengan tentara Belanda secara langsung. Namun, jiwa dan raganya ikut berjuang.
Berperan sebagai Koordinator Logistik
Selain menjadi kurir, bu Ruswo melakukan peran penting yaitu mengkoordinir dapur umum. Bersama dengan ibu-ibu lain di kota menyiapkan logistik prajurit. Logistik hal penting yang dalam penyiapannya penuh resiko saat itu. Tugas logistik tidak hanya menyiapkan bahan makanan, lebih dari itu mulai dari mencari bahan, memasak dan mengatur distribusi logistik ke semua prajurit. Sangat beresiko dan menantang karena situasi perang saat itu. Peran ibu Ruswo saat itu harus memastikan logistik yang ada sampai kepada prajurit yang di luar daerah seperti Magelang, Ambarawa bahkan hingga Semarang.
Meski bu Ruswo dikenal sebagai pahlawan dalam bidang penyiapan pasokan makanan pada prajurit. Nyatanya beliau lebih berperan dalam berbagai hal diantaranya adalah pernah bergabung dengan Komite Pembela Buruh Perempuan Indonesia yang mana memiliki fokus pada pembelaan terhadap hak-hak perempuan lain. Saat itu belum banyak tokoh yang peduli akan isu-isu perempuan. Namun, pada zamannya tokoh perempuan bernama Ibu Ruswo memiliki kepedulian itu.
Bu Ruswo memiliki pemikiran dan aktivitas yang aktif membela hak-hak perempuan. Namun, publik lebih mengenal Bu Ruswo sebagai pahlawan logistik. Ibu Ruswo, sebagaimana dikutip dari Historia mengatakan bahwa perdagangan perempuan merupakan penyakit dunia yang sudah ada sejak dulu kala dari timur maupun sampai barat. Suatu penyakit yang merajalela di setiap sudut hubungan manusia, dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi, di kalangan kulit putih dan berwarna.
Penghargaan
Keberhasilan pemenuhan logistik prajurit Yogyakarta, Magelang, Ambarawa hingga Semarang terpenuhi dengan baik akhirnya Ibu Ruswo mendapat piagam penghargaan dari Panglima Divisi III yang memberikan padanya saat Apel Besar di Magelang pada 25 Mei 1947. Setelah penghargaan itu, Ibu Ruswo dianugerahi Bintang Gerilya oleh Pemerintah Republik Indonesia. Saat itu diberikan oleh Presiden Soekarno di Kraton Yogyakarta. Penghargaan juga diberikan kepada Sri Sultan Hamenvku Buwono IX, dan Jenderal Sudirman yang diwakili oleh ibundanya.
Koleksi Museum TNI AD
Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama memiliki koleksi mengenai Dapur Umum saat perjuangan. Koleksi dilengkapi dengan AR yang dapat dimainkan sebagai games. Selain itu terdapat lesung untuk membuat padi menjadi beras, alat-alat dari kayu seperti sutil, irus, alat-alat masak dari gerabah seperti keren atau tungku serta peralatan lainnya. Di museum juga terdapat pengambaran suasana saat itu.
Nama Ibu Ruswo sebagai Nama Jalan
Nama jalan yang sebelumnya Dwikora menjadi Jalan Ibu Ruswo. Berkat usulan keluarga eks Resimen 22 Wehrkreise III nama jalan di timur Alun-Alun hingga ke arah Jalan Brigjend Katamso diubah namanya. Perubahan nama jalan melalui surat penetapan Wali Kota Madya pada tahun 1981. Jalan ini mengenang perjuangan para pejuang, ibu-ibu pejuang dan perempuan-perempuan pejuang yang rela berkorban untuk bangsa dan negara.
Penulis: Kuni Qurota (Duta Museum TNI AD 2022)





