Home / Ekonomi dan Bisnis / Rencana Besar Setop Impor Solar, Bensin, dan Avtur

Rencana Besar Setop Impor Solar, Bensin, dan Avtur

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia/Foto: Anggi Muliawati/detikcom.

Jakarta,REDAKSI17.COM – Pemerintah akan menghentikan impor solar, bensin nonsubsidi, dan avtur. Rencana ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1/2026).
Bahlil menjelaskan langkah awal adalah menyetop impor solar jenis C48 mulai tahun ini. Langkah ini seiring berjalannya program mandatory biodiesel serta beroperasinya kilang terintegrasi atau Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Total konsumsi kita sekarang untuk solar itu kurang lebih sekitar 38 sampai 39 juta kiloliter (KL) per tahun. Nah, dengan produksi sekarang di Pertamina yang RDMP di Balikpapan, akumulasi konsumsi B40 totalnya sekarang kita surplus kurang lebih sekitar 1,4 juta kiloliter. Oleh karena kita surplus 1,4 juta kiloliter maka 2026 kita tidak lagi, saya ulangi, tidak lagi kita melakukan impor solar,” terang Bahlil.

Selain itu, untuk solar jenis C51, akan disetop mulai semester II-2026. Sekitar enam bulan pertama tahun ini, C51 masih akan diimpor.

“Tetapi kalau C51 sekarang kita lagi mendesain mesinnya, itu nanti di semester kedua baru tidak melakukan impor. Jadi semester satu tetap C51 tetap kita impor tapi volumenya tidak banyak,” tutur Bahlil.

Setelah solar, Bahlil bilang impor bensin nonsubsidi RON 92, RON 95, dan RON 98 mulai disetop pada 2027. Khusus bensin subsidi masih akan diimpor.

“Kemudian untuk 2026 ini juga telah kita merancang untuk 2027 tidak lagi kita melakukan impor bensin yang RON 92, 95, 98. Nah, ini kita akan selesaikan nanti di akhir 2027 supaya apa? Kita tidak lagi terlalu banyak mengimpor produk, tapi nanti yang kita kedepankan adalah kita impor adalah crude-nya,” jelas Bahlil.

Terakhir, setop impor avtur pada 2027. Kementerian ESDM bersama Pertamina tengah mengupayakan konversi surplus solar yang 1,4 juta KL untuk menjadi bahan baku avtur.

“Avtur juga demikian. Jadi avtur untuk 2026 sekarang kami dengan Pertamina bekerja keras agar kelebihan solar yang 1,4 juta dikonversi menjadi bahan baku dalam membangun avtur agar 2027 betul-betul kita sudah tidak melakukan impor avtur,” pungkas Bahlil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *