
KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Puluhan Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang menetap di Kulon Progo berkumpul dalam harmoni silaturahmi di Pendopo Rumah Dinas Bupati Kulon Progo, Minggu (25/1) malam. Pertemuan ini jadi cara menjaga napas budaya Jawa agar tidak tersengal di tengah zaman yang kian cepat.
Meski sempat tertunda satu pekan karena agenda kedinasan, antusiasme para penjaga budaya ini tidak surut untuk hadir mengikuti kegiatan silaturahmi sekaligus gladhen Karawitan ini. Suara denting gamelan dan lantunan langgam jawa yang dibawakan oleh para Abdi Dalem pun memecah kesunyian malam.
Pengajeng Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, KRT Wijoyo Pamungkas, mengatakan kegiatan ini diikuti puluhan dari 100 lebih Abdi Dalem yang tergabung dalam paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta di Kulon Progo. Ini menjadi wadah bagi lintas kategori Abdi Dalem, mulai dari Keprajan, Punakawan, hingga Keprajuritan.
“Intinya pertemuan ini merupakan salah satu program kegiatan Abdi Dalem Keprajan di wilayah Kulon Progo dalam rangka melaksanakan program membantu pemerintah dalam pembangunan kemasyarakatan. Kami juga mengadakan gladhen karawitan yang sejak satu tahun lalu sudah dimulai,” ujar KRT Wijoyo Pamungkas dengan nada teduh.
Bagi KRT Wijoyo, ada misi besar di balik pertemuan rutin yang berpindah-pindah tempat ini. Ia ingin setiap Abdi Dalem menjadi suluh bagi lingkungan sekitarnya.
“Harapan kami, Abdi Dalem bisa melaksanakan Hamemayu Hayuning Bawono dan memberi pencerahan kepada masyarakat yang berkaitan dengan Kraton,” tambahnya.
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, yang bertindak sebagai tuan rumah, tampak larut dalam suasana kekeluargaan tersebut. Ia menegaskan bahwa rumah dinas bupati adalah rumah bagi kebudayaan.
“Tujuanipun untuk melestarikan budaya Keraton Ngayogyakarta yang adiluhung, yang berbudaya tinggi. Harapannya bisa berkembang di seluruh lapisan masyarakat karena memang betul Kulon Progo cukup bagus,” ungkap Agung Setyawan.
Selain latihan seni, pertemuan ini juga diisi dengan Pawiyatan atau sesi pembelajaran mengenai filosofi Kasultanan. Hal ini dilakukan agar status Abdi Dalem tidak hanya melekat pada pakaian yang dikenakan, tetapi juga meresap dalam perilaku sehari-hari sebagai teladan masyarakat.


