Penunjukan tersebut diputuskan dalam pertemuan keluarga besar Keraton di Sasana Handrawina, kompleks Keraton Solo, pada Kamis (13/11/2025).
Pengangkatan ini dipimpin Mahamenteri Keraton, KGPA Tedjowulan, dan dihadiri tokoh-tokoh penting seperti GKR Wandansari Koes Murtiyah (Gusti Moeng) beserta para putra-putri dalem PB XII dan PB XIII. Forum tersebut menjadi langkah menentukan dalam proses suksesi setelah wafatnya PB XIII.
Dua hari sebelum jadwal Jumenengan Gusti Purbaya, Lembaga Dewan Adat (LDA) bersama sejumlah kerabat dalem menobatkan Hangabehi sebagai raja versi mereka.
Profil KGPH Hangabehi
KGPH Hangabehi merupakan putra sulung almarhum PB XIII dari pernikahan dengan istri kedua, KRAy Winarni. Ia lahir di Surakarta pada 5 Februari 1985 dengan nama kecil Gusti Raden Mas Soerjo Soeharto.
Statusnya sebagai anak laki-laki tertua serta garis keturunannya menjadi dasar kuat pengangkatannya. Sebelum memakai nama Hangabehi, ia dikenal dengan gelar KGPH Mangkubumi hingga perubahan gelar pada 24 Desember 2022. Sosoknya dikenal tenang serta menjunjung tinggi paugeran atau aturan adat Keraton.
Pendidikan KGPH Hangabehi ditempuh seluruhnya di Surakarta:
· SD Pamardisiwi (1995)
· SMP Kasatriyan (1998)
· SMA (2001)
Namun, penetapan ini berlangsung di tengah dualisme, karena adik tirinya, KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram (Gusti Purboyo), yang sebelumnya ditetapkan sebagai putra mahkota, juga telah menyatakan diri sebagai PB XIV.
KGPH Hangabehi dikenal sebagai pemerhati keris dan pernah diundang Pemerintah Belanda pada September 2025 untuk menghadiri pameran keris.
Dalam masa berkabung PB XIII, ia memilih tidak menutup penuh Museum Keraton demi menjaga prinsip pelestarian cagar budaya. Akses hanya dibatasi pada beberapa area agar tetap menghormati suasana duka.
Pada akhir pernyataannya, Hangabehi berharap masyarakat terus mendukung Keraton sebagai pusat budaya Jawa serta menegaskan bahwa Keraton terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar tentang budaya, seni tari, maupun literasi keraton. (*)





