
KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Guna memperluas akses pasar bagi produk lokal, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo memfasilitasi kemitraan antara Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dengan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Melalui forum Business Matching, para pelaku UMKM diharapkan mampu menjadi penyokong utama kebutuhan logistik dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.
Digelar di Aula adikarto pada Rabu (28/1/2025) ini dihadiri oleh Bupati Agung Setyawan,Wakil Bupati Ambar Purwoko,Perwakilan Kodim 0731,Asda 2 dr. Sri Budi Utami, OPD,para pelaku UMKM,Koperasi Desa Merah Putih dan SPPG.
Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinkop UKM) Kulon Progo, Iffah Mufidati, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk mendorong pemanfaatan bahan baku lokal. “Kami berupaya meningkatkan peran UMKM dan KDKMP sebagai bagian dari rantai pasok program strategis nasional, khususnya untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis di wilayah Kulon Progo,” ujarnya di sela acara.
Iffah menjelaskan bahwa sebelum dipertemukan dengan para mitra, produk-produk UMKM telah melalui proses kurasi yang ketat pada 19 Januari 2026 di Gedung PLUT Sogan. Dari total 94 produk yang didaftarkan oleh 60 UMKM dan 5 KDKMP, sebanyak 84 produk dinyatakan lolos kurasi. Produk tersebut meliputi bahan pangan segar, pangan olahan, produk setengah jadi, hingga bahan baku pendukung lainnya.
“Proses kurasi dilakukan dengan mempertimbangkan legalitas usaha, mutu, keamanan produk, kapasitas produksi, hingga aspek higienitas dan pengemasan. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan pasokan ke dapur SPPG sesuai standar kualitas, harga, dan kuantitas yang ditetapkan,” tambah Iffah.
Dalam forum tersebut, hadir perwakilan dari 38 SPPG, 28 yayasan pengelola, serta 10 mitra program MBG. Melalui pertemuan ini, diharapkan terjalin komunikasi yang efektif dan kesepahaman kebutuhan antara penyedia bahan baku lokal dengan pengelola program.
Sebagai simbol dimulainya kerja sama, dilakukan penandatanganan perjanjian (PKS) antara pelaku UMKM Tempe Putra dengan SPPG Palihan Temon, serta KDKMP Sentolo dengan SPPG Banjararum Kalibawang. Iffah juga menyampaikan apresiasi kepada perbankan daerah, seperti Bank BPD DIY Cabang Wates dan Bank Kulon Progo, yang turut mendukung pemberdayaan ekonomi lokal melalui sinergi ini.
“Semoga kerja sama ini dapat berkelanjutan demi penguatan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kulon Progo,” tutup Iffah.
Sementara Aini Ambarwati, selaku Korwil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kulon Progo,menyambut baik kegiatan Business Matching ini. Forum ini bisa menjembatani kebutuhan rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).SPPG berkomitmen memprioritaskan bahan baku dari UMKM dan KDKMP lokal Kulon Progo, dengan tetap menjaga standar kualitas dan keamanan pangan.
“Kegiatan ini menjadi jembatan penting bagi kami untuk memastikan rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis bersumber dari potensi lokal. Dengan melibatkan UMKM Kulon Progo, kita tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat,” terang Aini.
Dalam arahannya, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menekankan bahwa program ini bukan sekadar upaya peningkatan gizi masyarakat, melainkan peluang emas untuk menggerakkan roda ekonomi daerah. Beliau berharap masyarakat lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi mampu memetik hasil langsung dari perputaran ekonomi yang tercipta.
“Proses dari Proyek Strategis Nasional MBG ini tujuannya adalah bagaimana kita, masyarakat ini, dapat memetik satu hasil dari perputaran yang ada melalui mitra-mitranya,” ujar Agung.
Agung menggarisbawahi tiga aspek krusial yang harus dipenuhi oleh para pelaku UMKM agar dapat menjalin kemitraan yang berkelanjutan dengan pengelola MBG, yaitu Kualitas ,produk harus melalui proses kurasi yang ketat agar sesuai standar kesehatan, Kuantitas, pelaku usaha harus sanggup memenuhi volume kebutuhan bahan baku yang besar serta Kontinuitas, jaminan ketersediaan pasokan secara terus-menerus tanpa terputus.
“ Jika bergerak sendiri-sendiri, UMKM mungkin akan kesulitan memenuhi kebutuhan SPPG yang masif. Oleh karena itu, sinergi dan kolaborasi antar pelaku usaha menjadi harga mati agar potensi lokal dapat terserap maksimal,” terang Agung.
Selain bahan pangan seperti sayur, beras, telur, dan daging, Bupati juga menyoroti pentingnya standarisasi kualitas air dengan melibatkan PDAM serta Aneka Usaha milik Pemda. Standarisasi ini penting agar tidak terjadi kendala teknis yang dapat menghambat jalannya program.
Tak hanya soal teknis produksi, Agung juga berjanji akan mengawal aspek kerja sama bisnis, terutama terkait sistem pembayaran. Beliau menginginkan adanya kesepakatan yang tegas dan terbuka di awal kontrak untuk menghindari konflik antar mitra di kemudian hari.
“Saya berharap ini dari kita untuk kita, kita bisa maksimalkan,” pungkasnya seraya meminta Dinas Koperasi untuk melakukan pendampingan dan kurasi mendalam terhadap varian produk yang ditawarkan oleh para pelaku usaha,” pungkas Agung.
Selda Sinaga pemilik super cake mengaku senang dengan adanya kegiatan ini. ”Sebelumnya saya pernah kerjasama dengan SPPG ya, terus dengan adanya wadah seperti ini kami bisa mengenal lebih banyak lagi SPPG yang lain dan mempunyai kesempatan yang lebih lagi sehingga kedepannya bisa lebih baik lagi dalam penjualannya. Terima kasih Pak Bupati yang sudah memfasilitasi kami di sini,”katanya.



