Home / Daerah / PKK Diminta Jadi Kader Pendamping Pengobatan TB

PKK Diminta Jadi Kader Pendamping Pengobatan TB

Yogyakarta,REDAKSI17.COM – DIY menerima hibah seperangkat Portable X-Ray dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) guna mempermudah skrining tuberkulosis (TB) hingga ke desa. Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X menerima langsung portable x-ray yang diserahkan oleh Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Benjamin Paulus Octavianus ini, pada Kamis (29/01), di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

Sri Sultan pun mengapresiasi hibah yang diberikan oleh Kemenkes RI. Namun, turut menyoroti bahwa salah satu persoalan utama dalam penanganan tuberkulosis (TB) selama ini adalah pasien yang putus pengobatan sebelum dinyatakan sembuh.

Menurut Sri Sultan, pengobatan TB menuntut kedisiplinan tinggi karena pasien harus menjalani pemeriksaan rutin serta mengonsumsi obat secara berkelanjutan dalam jangka waktu tertentu. Namun dalam praktiknya, masih ada pasien yang tidak mampu menyelesaikan pengobatan karena berbagai kendala, seperti jarak tempat tinggal yang jauh dari fasilitas kesehatan, sehingga enggan bolak-balik ke rumah sakit atau bertemu dokter.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Sri Sultan berpesan agar Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dapat dilibatkan secara lebih aktif sebagai kader pendamping pengobatan TB di tingkat desa. Sebab, PKK dinilai memiliki jaringan yang kuat karena keberadaannya yang menjangkau hingga tingkat pedukuhan.

Melalui pendampingan PKK, pasien yang telah memasuki tahap pengobatan lanjutan, khususnya yang hanya membutuhkan konsumsi obat secara rutin, tidak harus selalu datang ke rumah sakit. Obat dapat didistribusikan melalui PKK di desa setempat, sehingga pasien cukup mengambil di lingkungan tempat tinggalnya.

“Selama ini kan penderita TB putus pengobatan karena jarak rumahnya mungkin agak jauh, males bolak-balik ke rumah sakit. Jadi saya minta PKK itu bisa dijadikan kader. Nanti kalau tinggal hanya minum obat, ya obat itu dititipkan ke PKK saja yang ada di desa itu. Jadi dia enggak usah harus ketemu dokter atau ke rumah sakit yang mungkin jauh. Cukup di kampungnya sendiri, di kalurahan itu, lewat PKK yang ada, bisa ambil obat yang perlu diminum. Sehingga pengobatan itu tidak putus,” jelas Sri Sultan.

Dalam kesempatan yang sama, Wamenkes RI, Benjamin Paulus Octavianus mengungkapkan, meski DIY bukan termasuk daerah dengan angka TB yang tinggi di Indonesia, hibah portable x-ray ini tetap diberikan ke DIY untuk membantu pengentasan kasus TB. Beberapa wilayah dengan angka kasus TB tertinggi, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.

“Kasus TB di Jogja rendah, tidak termasuk daerah dengan angka TB yang tinggi, tetapi Jogja tetap ada kasusnya, jadi harus diselesaikan. Jogja ini bagus penanganan TB-nya. Tetapi karena Jogja itu juga di Jawa, lalu lintas orang lewat antardaerah begitu banyak, kita harus jaga Jogja jangan terinfeksi dari Jawa Tengah masuk ke sini. Karena jaraknya kan dekat, maka dilakukan skiring yang ketat di Jogja,” papar Benjamin Paulus.

Selain skrining TB, Benjamin Paulus menuturkan, portable x-ray ini juga dapat digunakan untuk merontgen bagian tubuh lainnya, seperti untuk kasus patah tulang, dan lainnya. “Dalam program untuk mengejar perbaikan kasus TB di Indonesia, x-ray ini bisa dipakai di desa-desa. Karena X-ray ini kan ringan beratnya cuma 3,5 kg. Jadi bisa dibawa kemana-mana, tidak perlu di rumah sakit. Bisa dilakukan di desa-desa, di rumah-rumah, kita bisa ke pedukuhan-pedukuhan, memfoto pasien di rumahnya pun bisa,” ucap Benjamin Paulus.

Benjamin Paulus pun berterima kasih kepada Gubernur DIY yang mendukung penuh upaya Kemenkes dalam mengakselerasi pengentasan kasus TB di Indonesia. Sebab, pemberantasan penyakit TB bukan hanya menjadi tugas dokter yang sekadar mengobati pasien, tetapi juga upaya kolaboratif lintas sektor, seperti dalam memperbaiki sanitasi, gizi, dan lainnya.

Humas Pemda DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *