
KULON PROGO,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo resmi memulai kegiatan Active Case Finding (ACF) Tuberkulosis (TBC) sebagai langkah nyata menekan angka penyebaran penyakit menular tersebut. Kegiatan yang melibatkan warga masyarakat Sentolo ini dihadiri langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan RI, yang memberikan dukungan penuh terhadap penguatan layanan kesehatan di Bumi Binangun.
Kehadiran Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K) disambut oleh Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko didampingi Dandim 0731 Letkol Inf Dyan Niti Sukma, SIP, Sekda Triyono dan jajaran OPD di Kalurahan Sentolo,Kamis (29/1/2026).
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran jajaran Kementerian Kesehatan. Ia menilai momentum ini sangat luar biasa bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat Kulon Progo.
“Kami sangat berterima kasih kepada Bapak Wakil Menteri Kesehatan yang telah menyempatkan diri hadir di tengah kesibukan. Peran serta dan dukungan dari Pemerintah Pusat selalu kami tunggu demi kepentingan kesehatan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo,” ujar Ambar.
Ambar menekankan bahwa memerangi TBC tidak bisa dilakukan sendirian oleh tenaga kesehatan. Ia mengapresiasi kehadiran para tokoh lokal, mulai dari Panewu, Lurah se-Kapanewon Sentolo, hingga jajaran Kapolsek dan Danramil yang turut hadir memberikan dukungan moral maupun operasional.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan program ACF ini adalah kolaborasi dan gotong royong.
“Sebagaimana disampaikan Bapak Wakil Menteri, TBC hanya bisa diperangi jika semua berkolaborasi dan bergandeng tangan. Marilah kita tingkatkan kesehatan di Kabupaten Kulon Progo, sejahterakan masyarakat, dan sehatkan masyarakatnya,” tegasnya.
Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K), menjelaskan kunjungan kerja ke Kulon Progo ini untuk mempercepat implementasi program unggulan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di bidang kesehatan, yakni pemberantasan Tuberkulosis (TBC).
Dalam arahannya, dr. Benjamin menekankan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan besar sebagai negara dengan beban penyakit TBC tertinggi kedua di dunia. Khusus di Kulon Progo, data menunjukkan terdapat sekitar 429 kasus yang terdeteksi, namun diperkirakan masih ada 400 kasus lainnya yang belum ditemukan dan berpotensi menularkan bakteri di tengah masyarakat.
“TBC ini datangnya pelan, sembuhnya juga pelan. Kita tidak bisa kerja sendiri. Saya minta Pak Wakil Bupati dan jajaran Dinkes untuk membantu kami ‘menyerbu’ titik-titik kasus ini dengan anggaran yang sudah disiapkan pemerintah pusat,” ujar dr. Benjamin.
Wamenkes menjelaskan bahwa strategi utama ke depan adalah melalui pemeriksaan kesehatan gratis secara masif. Petugas akan mendatangi langsung rumah-rumah pasien TBC untuk melakukan skrining kepada seluruh anggota keluarga.
“Pemeriksaan tidak hanya terbatas pada TBC, tetapi juga mencakup pengecekan tekanan darah dan gula darah, pemeriksaan rontgen dada untuk mendeteksi dini kelainan paru dan jantung,serta pemberian obat pencegahan bagi keluarga yang sehat dan pengobatan tuntas bagi yang sakit,”jelas Wamenkes.
Melalui kolaborasi lintas kementerian dan dukungan penuh pemerintah daerah, dr. Benjamin optimis bahwa pada tahun 2027, angka kasus TBC di Kulon Progo dapat ditekan secara signifikan hingga mencapai target eliminasi.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, dr. RR. Susilaningsih, M.PH., mengungkapkan bahwa pihaknya akan menghitung kembali kebutuhan anggaran untuk diajukan ke Pemkab maupun Pemerintah Pusat guna mengoptimalkan pencarian penderita.
“Kita akan menyusun ulang strategi untuk meningkatkan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) di wilayah tersebut. Langkah ini diambil menyusul capaian penemuan kasus yang baru menyentuh angka 44% dari target yang ditentukan hingga akhir tahun 2025 sehingga membutuhoan dana guna penanganan ini,” ungkap dr. Susilaningsih.

Meskipun petugas Puskesmas telah melakukan pelacakan kontak (tracing) secara masif, dr. Susilaningsih mengakui masih ada kendala teknis dan sosial di lapangan. Secara ideal, satu pasien positif TBC seharusnya diikuti dengan pelacakan terhadap 8 hingga 10 kontak erat, baik keluarga serumah maupun rekan kerja.
Namun, rendahnya angka penemuan kasus sering kali disebabkan oleh kualitas sampel dahak yang kurang baik saat dilakukan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) maupun rontgen. Selain itu, faktor sosial seperti stigma negatif terhadap penyakit TBC masih menjadi penghalang besar.
“Masyarakat kita terkadang masih menganggap TBC sebagai aib karena takut dikucilkan. Padahal, ini adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan bisa disembuhkan total,” tegasnya.
Hingga akhir tahun 2025, tercatat sebanyak 429 kasus TBC di Kulon Progo, dengan konsentrasi kasus terbanyak berada di wilayah Wates dan Sentolo. Untuk mengejar target di tahun 2026, Dinkes akan mengintensifkan Investigasi Kontak (IKA) dengan melibatkan perguruan tinggi.
Strategi ke depan juga akan mencakup pemeriksaan kesehatan gratis secara jemput bola langsung ke rumah warga. Hal ini dilakukan untuk mengatasi kendala waktu bagi warga yang bekerja serta meningkatkan antusiasme masyarakat yang selama ini dinilai masih kurang terhadap pemeriksaan mandiri di fasilitas kesehatan.


