Yogyakarta,REDAKSI17.COM— Di balik dinding bangunan tua di Jalan Patehan Lor Nomor 34, Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, sejarah dan masa depan bertemu dalam satu ruang. Di tempat inilah Griya Batik Jogja kembali dihidupkan—bukan sekadar sebagai bangunan, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan tradisi batik warisan leluhur dengan semangat inovasi generasi masa kini.
Sepanjang Februari hingga Desember 2024, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY melakukan revitalisasi Griya Batik sebagai bagian dari komitmen menjaga batik tetap hidup dan relevan. Revitalisasi ini dirancang untuk mengembalikan fungsi Griya Batik sebagai ruang yang aman, sehat, nyaman, serta selaras dengan lingkungan sekitarnya, sekaligus menjadi pusat aktivitas batik yang inklusif.
Lebih dari pembaruan fisik, Griya Batik diproyeksikan bertransformasi menjadi mini museum, showroom, dan workshop batik yang hidup. Di ruang ini, batik tidak hanya dipamerkan sebagai artefak budaya, tetapi juga dipelajari, diciptakan, dan diwariskan lintas generasi dari tangan perajin berpengalaman hingga generasi muda yang mulai mengenal canting.
Revitalisasi Griya Batik didukung Dana Keistimewaan sebesar Rp871.625.900 yang dialokasikan untuk pekerjaan konstruksi, penyediaan perlengkapan interior, serta penyusunan dokumen perencanaan pengembangan ke depan. Dukungan ini menjadi fondasi penting agar Griya Batik mampu beroperasi secara optimal sebagai pusat rujukan bagi pegiat batik, perajin, pengusaha batik, hingga masyarakat umum..
Keberadaan Griya Batik kian menemukan relevansinya setelah Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY secara resmi memperkenalkan Griya Batik Jogja Kota Batik Dunia. Langkah ini menjadi penguatan atas penetapan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia oleh World Craft Council (WCC) pada 2014, sebuah pengakuan global yang menuntut komitmen berkelanjutan dalam menjaga batik sebagai identitas budaya.
Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menegaskan status Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia mendorong kolaborasi yang semakin erat antara Pemda DIY, Dekranasda DIY, komunitas, serta para pengrajin batik. Griya Batik diharapkan menjadi simbol diplomasi budaya, yang tidak hanya merepresentasikan kekuatan batik Jogja di mata dunia, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Lebih jauh, revitalisasi Griya Batik dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat nilai sejarah, tradisi, dan budaya Yogyakarta. Aktivitas pameran, edukasi, serta produksi yang terintegrasi di Griya Batik diharapkan mampu memberdayakan pelaku industri kecil dan menengah di sektor batik, sekaligus menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
Ke depan, Griya Batik Jogja Kota Batik Dunia diproyeksikan menjadi pusat edukasi batik bagi masyarakat luas, terutama generasi muda. Berbagai koleksi batik dari Keraton Yogyakarta dan Puro Pakualaman akan ditampilkan, disertai ruang belajar yang membumikan nilai-nilai filosofis batik Jogja. Dari canting ke generasi, dari tradisi ke inovasi, Griya Batik hadir sebagai jembatan yang merawat warisan sekaligus menatap masa depan.
Humas Jogja





