Jakarta,REDAKSI17.COM – Dunia mulai berada di ambang perang modal. Kini uang dipersenjatai menggunakan tindakan seperti embargo perdagangan, pemblokiran akses ke pasar modal, atau menggunakan kepemilikan utang sebagai sarana untuk menguasai sesuatu.
Kondisi ini diungkapkan oleh investor kawakan Amerika Serikat (AS) Ray Dalio. Baginya, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pasar modal yang bergejolak, perang modal makin nyata di depan mata.
“Kita berada di ambang perang modal. Memang belum terjadi, tetapi kita cukup dekat dengan hal tersebut dan akan sangat mudah hal itu terjadi karena ada ketakutan bersama,” ujar Ray Dalio dikutip dari CNBC, Rabu (4/2/2026).
Dalio menjelaskan secara historis, perang modal telah terjadi dalam berbagai bentuk seperti misalnya kontrol valuta asing dan modal. Baginya, lembaga-lembaga seperti dana kekayaan negara dan bank sentral sudah membuat persiapan untuk menghadapi kontrol tersebut.
Kini perang modal telah berkembang di sekitar konflik besar. Sebagai contoh, sebelum masuknya AS ke Perang Dunia II, otoritas Negeri Paman Sam memberlakukan sanksi terhadap Jepang sebagai eskalasi dari hubungan yang penuh perselisihan antara kedua negara.
Sebagai contoh baru, perang modal bisa terjadi juga antara AS dan Eropa. Dia mengungkapkan meningkatnya ketegangan baru-baru ini atas upaya pemerintahan AS pimpinan Presiden Donald Trump untuk membawa Greenland untuk berada di bawah kendali AS.
Dia memperingatkan banyak orang Eropa yang memegang valuta asing dolar AS mulai ketakutan kena sanksi dari Uni Eropa. Di sisi lain, AS juga takut kehilangan sumber modal. Sebab, menurut riset Citi, masyarakat Eropa menyumbang 80% dari pembelian obligasi pemerintah AS oleh pihak asing antara April dan November 2025.
“Ada ketakutan juga secara timbal balik dari pihak Amerika Serikat bahwa mereka tidak dapat memperoleh modal, atau tidak mendapatkan pembelian barang dari Eropa,” kata Ray Dalio.
Menurutnya, uang dan modal sangat penting. Saat ini negara di dunia saling memperkuat kontrolnya terhadap hal tersebut dengan berbagai kebijakan.
Sejak kembali ke Gedung Putih tahun lalu, Presiden AS Donald Trump telah memberlakukan sejumlah tarif hukuman terhadap mitra dagang dan lawan politiknya. Keputusan-keputusan tersebut telah memicu volatilitas di pasar keuangan.
Emas Jadi Aset Terbaik
Di tengah ketegangan yang terjadi, Dalio menilai aset emas dan logam mulia lainnya masih merupakan tempat terbaik untuk menyimpan kekayaan. Emas dan perak menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang tentatif usai aksi jual massal beberapa hari lalu di dunia.
Baginya, harga emas sangat stabil. Sampai saat ini saja, harganya masih 65% lebih mahal dari tahun lalu. Meskipun ada aksi jual massal, harganya cuma turun 16% dari puncak tertingginya.
“Ini adalah diversifikasi yang sangat efektif untuk bagian portofolio lain yang kurang menguntungkan,” ujar Ray Dalio.
Karena emas merupakan diversifikasi, ketika masa-masa sulit datang, emas berkinerja sangat baik. Cuma, di tengah kondisi yang baik, emas tetap terjaga harganya dengan baik.
“Menurut saya, hal terpenting saat ini adalah memiliki portofolio yang terdiversifikasi dengan baik,” kata Ray Dalio.





