JAKARTA,REDAKSI17.COM — Ketua DPP PKS Bidang Perempuan dan Keluarga (Bipeka), Eko Yuliarti Siroj, menilai kasus anak SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia diduga akibat tekanan ekonomi karena tidak mampu membeli buku merupakan cerminan nyata dampak kemiskinan ekstrem terhadap kondisi psikologis anak serta lemahnya jangkauan perlindungan sosial bagi keluarga paling rentan.
“Peristiwa ini merupakan tragedi yang sangat memilukan dan memprihatinkan bagi kita semua. Kejadian ini menunjukkan betapa dalamnya dampak kemiskinan terhadap keluarga. Anak-anak yang seharusnya dilindungi dan dipenuhi hak dasarnya tidak luput menjadi korban kemiskinan,” ujar Eko Yuliarti di DPP PKS, Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).
Ia menegaskan bahwa kemiskinan tidak semata persoalan rendahnya pendapatan, melainkan berkaitan langsung dengan terbatasnya akses terhadap pendidikan, kesehatan (mental), serta pemenuhan kebutuhan dasar anak.
“Ketidakmampuan keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan sekecil buku tulis sekalipun dapat berujung pada beban psikologis yang berat bagi anak. Tekanan ini bisa berujung pada salah satu tindakan paling tragis yang dapat terjadi dalam keluarga. Ini juga memperlihatkan bagaimana kemiskinan dapat memupus harapan dan menurunkan harga diri anak dalam menatap masa depan,” jelasnya.
PKS, lanjut Eko, merekomendasikan agar pemerintah dan seluruh pemangku kebijakan segera memperkuat program perlindungan sosial dan pendidikan yang benar-benar menjangkau keluarga miskin ekstrem, khususnya di daerah tertinggal seperti Nusa Tenggara Timur.
“Pemerintah juga perlu meningkatkan layanan pendampingan psikososial dan kesehatan mental di sekolah serta komunitas. Kemiskinan tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga pada kondisi emosional dan psikologis anak,” ujarnya.
Selain itu, PKS mendorong terbentuknya jaringan perlindungan keluarga yang kuat dan terintegrasi, mulai dari keluarga inti, lingkungan sekolah, hingga layanan pemerintah daerah, guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.
“PKS mendukung berbagai upaya perlindungan anak dan mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu mengatasi kemiskinan ekstrem yang terus mengancam masa depan Indonesia,” tutup Eko.



