Umbulharjo,REDAKSI17.COM — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat peningkatan kasus leptospirosis sepanjang 2025. Namun, kenaikan ini disebut bukan semata karena lonjakan penularan, melainkan karena sistem deteksi dan skrining di fasilitas kesehatan yang kini lebih aktif.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular (P2M) dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, menjelaskan pada 2024 ditemukan 10 kasus, sedangkan pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi 34 kasus.

“Peningkatan ini dipengaruhi kewaspadaan puskesmas yang lebih tinggi. Sekarang, setiap pasien demam dengan faktor risiko langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (5/2/2026).

Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menambahkan leptospirosis merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini bersifat zoonosis, yakni ditularkan dari hewan ke manusia.

“Penularannya paling sering melalui tikus, sehingga masyarakat kerap menyebutnya sebagai flu tikus. Namun, bakteri ini juga bisa berasal dari hewan lain seperti babi, kuda, dan kambing,” jelasnya.

Bakteri Leptospira masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang luka atau terbuka, serta melalui selaput lendir seperti hidung, mulut, dan mata. Penularan biasanya terjadi saat seseorang kontak dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan yang terinfeksi.

Menurut Anandi, tidak semua orang memiliki risiko yang sama untuk terjangkit. Risiko sangat bergantung pada tingkat paparan, yang kerap berkaitan dengan jenis pekerjaan maupun aktivitas.

“Kelompok dengan risiko tinggi antara lain pekerja sawah, perkebunan, peternakan, rumah potong hewan (RPH), petugas kebersihan, selain itu, masyarakat yang sering beraktivitas di lingkungan berisiko seperti genangan air hujan, banjir, area peternakan, lingkungan dengan populasi tikus tinggi, dan sanitasi buruk juga rentan terpapar,” terangnya.

Anandi menjelaskan gejala awal leptospirosis sering dianggap sepele sehingga banyak pasien datang terlambat.

“Gejalanya seperti demam, nyeri otot, dan lemas. Sering dikira hanya kelelahan atau masuk angin. Padahal jika tidak segera ditangani, bisa berkembang menjadi gagal ginjal dan pasien perlu cuci darah,” katanya.

Ia menegaskan, deteksi dini kini menjadi fokus utama. Puskesmas melakukan skrining lebih ketat pada pasien demam dengan riwayat paparan risiko.

“Metode pemeriksaan yang digunakan meliputi PCR yang efektif mendeteksi pada fase awal infeksi, RDT yang lebih optimal setelah 7 hari demam, serta MAT sebagai pemeriksaan konfirmasi laboratorium. Sampel pasien bisa dikirim ke laboratorium rujukan, termasuk Balai Besar Laboratorium Kesehatan,” ujarnya.

Meski berpotensi serius, penularan leptospirosis sebenarnya dapat dicegah dengan kebiasaan hidup bersih dan perlindungan diri saat beraktivitas di lingkungan berisiko.

“Langkah pencegahannya antara lain mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah beraktivitas di luar, menggunakan alas kaki dan sarung tangan saat kerja bakti atau membersihkan lingkungan, menghindari kontak langsung dengan air banjir atau genangan tanpa pelindung, menjaga kebersihan rumah, serta mengendalikan populasi tikus,” tegas Anandi.

Pihaknya mengimbau warga untuk segera memeriksakan diri ke puskesmas jika mengalami demam disertai nyeri otot setelah terpapar lingkungan kotor atau genangan air.

“Semakin cepat ditangani, risiko komplikasi berat bisa dicegah,” pungkasnya.

*Foto: Dok. Dinkes Proses pemasangan jebakan untuk menangkap tikus di LP Wirogunan