Jembatan Pandansimo yang menghubungkan Kabupaten Bantul dan Kulon Progo, diharapkan mampu menarik wisatawan terutama pejalan kaki. Sebab, pada jembatan sepanjang 2,3 kilometer ini, telah disediakan area pedestrian bagi pejalan kaki yang ingin menikmati pemandangan kawasan Pantai Selatan.
Direktur Pembangunan Jembatan Pandansimo Rakhman Taufik menjelaskan, bagi masyarakat yang ingin mengunjungi jembatan ini, diwajibkan memarkirkan kendaraannya di area yang suda disediakan. Baik pengunjung maupun pedagang, dilarang berhenti di atas jembatan.
“Semuanya harus berhenti di area-area parkir yang telah disediakan. Termasuk pedagang asongan juga tidak boleh berhenti di jembatan. Intinya akses pariwisata di sini untuk pejalan kaki,” jelasnya.
Taufik menambahkan, arsitektur jembatan dibangun dengan memberikan nuansa budaya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dengan ini, diharapkan para pelancong yang datang dapat sekaligus menikmati kemegahan konstruksi jembatan.
“Jadi ada gapura bebentuk gunungan, ada ornamen keris, ada juga shelter yang berbentuk jolgo. Ini lah keunikan jembatan ini dibandingkan yang lain, karena memuat kearifan lokal DIY,” ujarnya.
Ia pun memastikan jika struktur jembatan yang baru selesai dibangun tersebut sangat kuat dan mampu bertahan dari gempa. Sebab, proses pembangunan Jembatan Pandansimo menggunakan teknologi peredam goncangan.
“Jembatan ini didesain untuk gempa dengan periode ulang 1.000 tahun. Fondasinya saja sepanjang 35-meter. Kami juga menggunakan Lead Rubber Bearing (LRB), untuk menyerap energi dan mengurangi getaran saat terjadi gempa,” ucapnya menambahkan.
Jelajah Jogja ? hub 087849378899





