Jakarta,REDAKSI17.COM – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan tax ratio naik dari sebelumnya 9% menjadi 11-12% tahun ini. Target tersebut mengacu pada kondisi ekonomi nasional yang menurutnya membaik.
“Tapi saya harapkan dengan membaiknya ekonomi, dan ke depan akan lebih baik lagi, kita bisa mengumpulkan pendapatan dari tax, maupun Bea Cukai yang lebih tinggi lagi. Saya sih harap-mengharapkan ada perbaikan tax collection rate yang signifikan dari 9% sekarang, mungkin 11-12% untuk tahun ini, tahun depan kita perbaiki lagi,” sebut Purbaya dalam Pelantikan Pejabat Kemenkeu, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Menurut Purbaya, rapor merah penerimaan pajak kerap dibahas Presiden Prabowo Subianto dalam setiap rapat. Ia berharap kinerja perpajakan di akhir tahun dapat membaik sehingga tak lagi disinggung oleh Prabowo. Purbaya juga menjanjikan pesta makan kepada pegawainya jika target tersebut tercapai.
“Pokoknya akhir tahun saya nggak mau dengar kalimat itu lagi dari presiden. Tentunya kalau prestasi kita bagus dan tax collection-nya naik ke 11-12%, alasan itu udah hilang. Nanti kita pesta makan-makan kalau itu kejadian. Jadi, semangat perbaiki kinerja pajak, perbaiki kinerja keuangan, perbaiki kondisi fiskal. Jadi, kondisi negara secara keseluruhan nanti tergantung pada kinerja Anda semua,” beber Purbaya.
Sebagai informasi, mengutip dari situs resmi pajak, tax ratio adalah perbandingan antara total pajak yang dikumpulkan oleh pemerintah dengan produk domestik bruto (PDB) suatu negara.
PDB merupakan ukuran dari nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu negara selama satu periode waktu tertentu. Tax ratio mencerminkan sejauh mana pemerintah dapat mengumpulkan pajak dari kegiatan ekonomi warganya.
Kebocoran Penerimaan Negara
Selain itu Purbaya mengungkapkan Prabowo sering menyinggung kinerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam rapat. Isu yang dibicarakan Prabowo adalah kegagalan Bea Cukai dan Pajak menangani kebocoran penerimaan negara.
“Jangan sampai pula nanti presiden masih mengumumkan hal-hal seperti ini. Dia bilang gini, ada kebocoran. Pajaknya ada under-invoicing di Bea Cukai dan perpajakan kita. Beliau mengungkapkan itu berkali-kali setiap meeting. Saya sedih ngelihatnya,” kata Purbaya.
Tak hanya itu, jika tahun ini target perpajakan gagal tercapai Purbaya khawatir hal itu akan menjadi sorotan DPR. Tahun lalu Kementerian Keuangan masih menggunakan lambatnya pertumbuhan ekonomi sebagai alasan, tapi kondisinya berbeda tahun ini.
“Jadi, ini misi kita, misi yang berat untuk pajak. Kalau kemarin Anda mencapainya di bawah target, saya bisa beralasan di depan DPR bahwa, karena ekonominya lambat. Tapi tahun ini kan nggak bisa lagi. Kalau sampai akhir tahun tax collection kita nggak membaik, padahal ekonominya tumbuhnya makin baik, saya akan digebukin DPR dan saya nggak bisa bertahan lagi,” tutupnya.





