Yogyakarta,REDAKSI17.COM – Menjelang peringatan hari jadinya yang ke-271, DIY resmi meluncurkan identitas visual teranyar. Peluncuran logo ini bukan sekadar seremoni estetika, melainkan simbol refleksi panjang perjalanan sejarah Yogyakarta yang berpijak pada nilai keistimewaan dan pengabdian.
Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X, pada Jumat (13/02) di Amfiteater Teras Malioboro Beskalan, Yogyakarta. Pelucuran ini disaksikan pejabat Pemda DIY serta masyarakat DIY.
Sri Paduka menekankan bahwa peringatan tahun ini adalah ruang refleksi bagi seluruh elemen masyarakat. Untuk itu, dirinya mengapresiasi logo terpilih yang lahir dari sayembara terbuka, yang menurutnya adalah bukti nyata kemanunggalan pemerintah dan rakyat.
“Logo ini adalah bukti bahwa semangat membangun Yogyakarta hidup dan berkembang di tengah masyarakat, bukan hanya di ruang pemerintahan. Kami sangat mengapresiasi kreativitas para peserta yang mampu menerjemahkan nilai filosofis ke dalam karya visual yang penuh makna,” tutur Sri Paduka.
Lebih lanjut, Sri Paduka menjelaskan bahwa logo ini merupakan proyeksi dari tema besar “Mulat Sarira Jumangkah Jantraning Laku”. “Melalui logo ini, kita meneguhkan komitmen untuk menjaga keistimewaan, memperkuat daya saing, dan memastikan pembangunan selalu berpihak pada kesejahteraan rakyat,” tambahnya.
Ketua Panitia HUT ke-271 DIY, Srie Nurkyatsiwie, memaparkan laporan mendalam mengenai proses kreatif dan rangkaian kegiatan panjang yang akan mewarnai hari jadi tahun ini. Mengacu pada Perda DIY No. 2 Tahun 2024, tanggal 13 Maret ditetapkan sebagai hari lahir yang sakral bagi DIY.
“Sayembara ini diikuti oleh 210 karya dari masyarakat dan pelajar. Total hadiah yang disiapkan mencapai Rp18 juta, dengan pemenang utama berhak atas Rp12 juta. Kami mencari karya yang mencerminkan sikap mawas diri, ketajaman fokus, dan ketenangan berpikir,” ungkap Siwi.
Siwi menjelaskan bahwa perayaan tahun ini berlangsung selama dua bulan penuh, mulai 11 Februari hingga 11 April 2026. Rangkaian acara ada Aksi Sosial & Religi yang dimulai dengan ziarah ke makam leluhur di Girigondo, Kotagede, dan Imogiri pada 11 Maret. Dilanjutkan dengan Gerakan Kebersihan, yaitu lomba kebersihan dan menghias kantor sesuai arahan Mendagri untuk menggalakkan kerja bakti setiap Selasa dan Jumat, Ada pula peluncuran jingle atau lagu bertajuk “Semarak Jogja” (Sejahtera Maju Rakyat untuk Jogja) yang diciptakan oleh rekan-rekan ASN Pemda DIY sebagai bentuk bakti kepada negeri.
“Peringatan ini akan dirasakan hingga tingkat kelurahan. Harapannya ada multiplier effect secara ekonomi, sosial, dan tradisi. Apalagi bertepatan dengan bulan Ramadan, kami mengajak masyarakat untuk memperkuat kepedulian melalui bakti sosial,” jelasnya.
Puncak acara ditandai dengan pengumuman pemenang sayembara. Raden Ardhana Rheswara Prasetya Kusuma resmi ditetapkan sebagai perancang logo HUT ke-271 DIY. Desainer grafis berusia 36 tahun ini yang mendedikasikan karyanya sebagai “surat cinta” bagi tanah kelahirannya. Melalui proses perenungan selama satu bulan, Ardhana berupaya mengajak warga Yogyakarta untuk kembali memeluk jati diri yang berakar pada nilai luhur, falsafah, dan tradisi hingga bermuara pada filosofi Sangkan Paraning Dumadi.
Baginya, logo ini bukan sekadar gambar estetis, melainkan sebuah harapan agar nilai-nilai keistimewaan terus bersambung dan diwariskan kepada generasi mendatang tanpa terputus di angka 271 saja.
“Saya ingin mengajak warga Jogja kembali ke jati diri. Kita lahir dari nilai luhur, dibesarkan dalam falsafah, dan dijaga dalam tradisi hingga akhirnya kembali pada Sankan Paraning Dumadi,” ungkap Ardhana
Secara teknis, Ardhana menyuntikkan makna mendalam pada setiap detail visualnya, mulai dari pemilihan warna khas Yogyakarta hingga bentuk geometri yang penuh simbolisme. Warna hijau ia gunakan untuk menggambarkan harmoni dan pertumbuhan yang senantiasa bergerak menuju kemuliaan warna emas, sebelum akhirnya diredam oleh titik merah yang melambangkan resapan jati diri dalam sanubari.
Alur lengkung pada angka dua pun dirancang naik-turun layaknya ilmu padi; sebuah pengingat bahwa saat berada di puncak, manusia harus tetap merunduk untuk bercermin pada Tuhan, sesama, dan alam sekitar. Dengan aksen titik yang menyebar ke segala penjuru, logo ini menegaskan semangat Memayu Hayuning Bawono, di mana setiap gerak warga Yogyakarta harus mampu memberi manfaat nyata dalam seluruh aspek kehidupan.
Humas Pemda DIY





