Home / Daerah / Jaga Ketenangan Sosial Jadi Tantangan Pengendalian Inflasi

Jaga Ketenangan Sosial Jadi Tantangan Pengendalian Inflasi

Sleman,REDAKSI17.COM – Pengendalian inflasi di DIY telah menjadi perhatian utama, melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Dan tantangan dalam upaya pengendalian inflasi saat ini dan ke depan, jauh lebih dari sekadar mempertahankan angka dalam koridor sasaran.

Hal ini diungkapkan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY 2026 di Hotel Royal Ambarrukmo pada Jumat (13/02). Sri Sultan mengatakan, menjelang Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri, tekanan inflasi hampir selalu meningkat, dipicu oleh kenaikan permintaan, mobilitas pemudik, serta dinamika pasokan pangan.

“Tantangan kita bukan hanya mempertahankan angka dalam koridor sasaran. Tantangan kita, adalah menjaga ketenangan sosial dan kepastian ekonomi, di tengah momentum musiman yang sensitif,” ungkap Sri Sultan.

Sri Sultan menjelaskan, meski inflasi tahunan DIY, masih berada dalam rentang sasaran nasional, namun menghadapi Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H, pendekatan dalam pengendalian inflasi tidak boleh reaktif. Pendekatan yang dilakukan harus lebih antisipatif, presisi, dan terkoordinasi.

Sri Sultan pun mengungkapkan beberapa rekomendasi pendekatan pengendalian inflasi di DIY. Pertama, mengutamakan penguatan rantai pasok dan penyusunan neraca pangan daerah. Kedua, memprioritaskan pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat DIY, sebelum distribusi keluar daerah. Ketiga, memperkuat peran BUMD sebagai offtaker dan stabilisator pasokan.

Selanjutnya keempat, berfokus pada komoditas ‘volatile’, seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, telur, dan daging ayam. Kelima, BUMD perlu melakukan modernisasi penyimpanan dan optimalisasi cold storage. Keenam, intervensi pasar harus memenuhi prinsip tepat lokasi, tepat waktu, dan tepat sasaran. Serta ketujuh, penguatan keamanan pasar dan jalur distribusi, serta kolaborasi lintas daerah melalui kerjasama antar daerah.

“Inflasi yang terkendali, ibarat denyut halus dalam tubuh perekonomian. Bergerak namun tidak mengganggu, hadir namun tidak meresahkan. Sebaliknya, inflasi yang tidak terkendali, bekerja secara senyap namun sistemik. Menggerus daya beli dengan pengurangan perlahan, atas kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya,” papar Sri Sultan.

Dalam kesempatan ini, Sri Sultan juga menyampaikan apresiasi kepada segenap unsur TPID, bersama seluruh pemangku kepentingan, yang dengan ketekunan menjaga keseimbangan dinamika harga di DIY. Hal ini bahkan tercermin dalam capaian DIY menjadi Juara 2 TPID Provinsi Berkinerja Terbaik Kawasan Jawa-Bali, pada TPID Award 2025.

“Prestasi itu diharapkan sebagai daya dorong, agar koordinasi yang rapi, dan langkah yang terukur senantiasa berlanjut, terutama dalam menghadapi dinamika Ramadhan dan Idul Fitri. Dengan kesiagaan dan tindakan yang tepat, stabilitas harga akan tetap berada dalam koridor yang wajar,” imbuh Sri Sultan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo mengatakan, HLM TPID ini digelar sebagai bentuk kesiapan DIY menjelang bulan Ramadan dan HBKN Idul Fitri 1447 H. Terkait perekonomian DIY, Sudibyo mengungkapkan, berada diangka 5,94% di akhir 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan akhir tahun 2023 yang tercatat sebagai angka tertinggi sebelumnya pada 5,4%.

“Pertumbuhan ekonomi DIY di akhir 2025 ini bahkan menjadi yang tertinggi di wilayah Jawa, dan di atas rata-rata ekonomi nasional. Faktor pendorong tumbuhnya ekonomi DIY di 2025, selain karena permintaan domestik yang kuat, juga karena kenaikan UMP DIY 2025 yang sekitar 6,5%. Selaanjutnya, pembangunan infrastruktur, peningkatan usaha pariwisata, dan  peningkatan produktivitas pertanian pasca El Nino,” paparnya.

Sudibyo menuturkan, tekanan inflasi meningkat jelang Ramadan seiring meningkatnya konsumsi masyarakat. Selain faktor permintaan yang melonjak, terdapat pula perubahan struktur inflasi yang mempengaruhi pangan, khususnya holtikultura. Sebagai langkah antisipasi, penguatan langkah stabilisasi pasokan dan juga harga menjadi solusi.

“Penyumbang inflasi jelang HBKN ialah pangan komoditas strategis, di antaranya bawang merah, cabe rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras.  Mencermati potensi risiko inflasi ke depan, termasuk dalam kesiapan menjelang Ramadan dan Idul Fitri 1447H, beberapa upaya dapat dilakukan oleh TPI DIY, salah satunya dengan penguatan komunikasi efektif, dari hulu hingga hilir untuk menjaga dan mengelola ekspektasi masyarakat, baik kepastian produksi, distribusi, hingga pola konsumsi,” paparnya.

HUMAS DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *