Depok,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat strategi pengendalian inflasi menjelang Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah melalui skema 4K serta optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD). Hal tersebut disampaikan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kota Yogyakarta, Dedi Budiono, dalam forum High Level Meeting (HLM) TPID se-DIY di Yogyakarta di Hotel Royal Ambarukmo, Jumat (13/2).
Mengacu tren dua tahun terakhir, Pemkot memproyeksikan empat komoditas yang berpotensi menjadi penyumbang inflasi pada Ramadan dan Idulfitri 2026, yakni aneka cabai, emas perhiasan, nangka muda sebagai bahan baku gudeg, serta gula pasir.
“Aneka cabai berpotensi naik karena faktor permintaan dan musim hujan yang bisa berdampak pada pasokan. Emas perhiasan juga masih menjadi tren penyumbang inflasi. Selain itu nangka muda karena meningkatnya konsumsi gudeg saat musim liburan, serta gula pasir yang pada Januari sudah teridentifikasi naik,” jelas Dedi.
Meski demikian, pihaknya membeberkan berdasarkan data neraca pangan Februari 2026 menunjukkan kondisi surplus. Ketersediaan beras tercatat 3.693.560 kilogram dengan kebutuhan 2.653.181 kilogram atau surplus 1.040.379 kilogram.
“Komoditas lain seperti jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, gula pasir, dan minyak goreng juga berada dalam kondisi aman,” lanjutnya.
Dalam menghadapi Ramadan dan Idulfitri, Pemkot Yogyakarta menerapkan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Pada aspek keterjangkauan harga (K1), akan dilakukan pemantauan harga dan pasokan di distributor bahan pokok dan agen LPG, operasi pasar berkala, pasar murah kemantren, serta optimalisasi Kios Segoro Amarto dan Warung Mrantasi.
Untuk ketersediaan pasokan (K2), Pemkot mengoptimalkan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan Kabupaten Sleman untuk beras dan cabai, Kabupaten Bantul untuk beras, serta Kabupaten Blitar untuk telur ayam. Penjajakan juga dilakukan dengan Kabupaten Kulon Progo.
“Kerja sama antar daerah ini penting karena Kota Yogya bukan daerah produsen pangan. Cabai beberapa kali menjadi penyumbang inflasi, sehingga perlu penguatan pasokan,” ujarnya.

Pada aspek kelancaran distribusi (K3), dilakukan pengawasan lalu lintas antar daerah guna menjamin pasokan tetap aman. Sementara pada komunikasi efektif (K4), Pemkot akan melaksanakan HLM TPID Kota Yogyakarta lanjutan, sosialisasi melalui jumpa pers, serta himbauan belanja bijak melalui media sosial dan kanal komunikasi publik lainnya.
Dedi menambahkan, pada 2026 pengendalian inflasi akan semakin diperkuat melalui Program WAMIRA atau Warung Milik Rakyat sebagai instrumen strategis memperkuat rantai nilai ekonomi lokal.
“Karena Kota Yogya bukan daerah penghasil bahan pangan, maka pengendalian inflasi kami maksimalkan di sisi hilir,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Program WAMIRA dirancang sebagai instrumen strategis untuk memperkuat rantai nilai ekonomi lokal, menjaga keterjangkauan harga pangan, berpihak kepada kelompok rentan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi warga.
“Program WAMIRA menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ekonomi lokal, menjaga stabilitas harga, serta mewujudkan pembangunan Kota Yogyakarta yang maju, berkeadilan, dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Hal tersebut senada dengan arahan yang disampaikan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X bahwa stabilitas harga pangan bukan sekadar persoalan angka inflasi, melainkan fondasi kepercayaan publik dan stabilitas sosial.
Bagi masyarakat, lanjut Sultan, harga pangan merupakan indikator paling nyata dari kinerja negara. “Mereka mungkin tidak membaca laporan PDB, tetapi mereka merasakan harga beras, cabai, dan minyak goreng. Ketika harga stabil, publik membaca itu sebagai sinyal bahwa sistem bekerja. Ketika harga tidak stabil, yang tergerus bukan hanya daya beli, tetapi juga kepercayaan,” terangnya.

Menurut Sultan, fluktuasi harga pangan paling dirasakan kelompok berpendapatan rendah karena struktur belanja mereka terkonsentrasi pada kebutuhan pokok. Ketika harga tidak stabil, bukan hanya daya beli yang tergerus, tetapi juga kepercayaan publik terhadap sistem ekonomi.
“Di sinilah stabilitas harga menjadi simbol yang mencerminkan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, distribusi, dan tata kelola pasokan. Ia menunjukkan apakah negara mampu mengelola risiko eksternal, cuaca ekstrem, hingga dinamika pasar global. Dengan kata lain, stabilitas harga pangan adalah infrastructure of trust. Tanpanya, pertumbuhan bisa terjadi, tetapi tidak pernah merasa aman,” tambahnya.
Sultan mengingatkan bahwa tekanan inflasi hampir selalu meningkat menjelang Ramadan dan Idulfitri akibat kenaikan permintaan, mobilitas pemudik, serta dinamika pasokan pangan.
Untuk itu, pihaknya menyiapkan sejumlah langkah antisipatif dan terkoordinasi, antara lain penguatan rantai pasok melalui penyusunan neraca pangan daerah, prioritas pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat lokal sebelum distribusi ke luar daerah, serta penguatan peran BUMD sebagai offtaker dan stabilisator pasokan.
Pemantauan intensif juga difokuskan pada komoditas seperti cabai rawit, cabai merah, bawang merah, telur, dan daging ayam. Selain itu, optimalisasi cold storage dinilai penting untuk menjembatani surplus dan defisit antar musim.
Sultan menegaskan bahwa intervensi pasar harus memenuhi prinsip tiga tepat yaitu tepat lokasi, tepat waktu, dan tepat sasaran. “Stabilitas harga tidak hanya dibentuk oleh ketersediaan barang, tetapi juga oleh stabilitas ekspektasi,” tandasnya.
Ia juga mendorong optimalisasi sosialisasi serta promosi kanal pelaporan masyarakat guna memperkuat fungsi early warning system terhadap potensi gejolak harga.
Selain itu juga diharapkan dapat mengoptimalkan potensi lokal, termasuk memanfaatkan aset serta memperkuat peran perbankan daerah untuk mendukung pembiayaan proyek lokal agar perputaran uang tetap berada di wilayah DIY.
“Kita mengonsolidasikan potensi dengan keterbatasan yang ada. Harapannya, di akhir 2026 minimal pertumbuhan ekonomi 6 persen bisa kita capai,” ujar Sultan


