Home / Daerah / Menjaga Stabilitas Menjelang Lebaran DIY Perkuat Strategi Pengendalian Inflasi dan Infrastructure of Trust

Menjaga Stabilitas Menjelang Lebaran DIY Perkuat Strategi Pengendalian Inflasi dan Infrastructure of Trust

 

 

Sleman,REDAKSI17.COM – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara proaktif menyiapkan langkah antisipatif untuk menghadapi potensi kenaikan tekanan inflasi menjelang bulan Ramadan dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah dengan menggelar High Level Meeting di Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Jumat, (13/2/2026).

Langkah ini diambil di tengah tren pertumbuhan ekonomi DIY yang positif, di mana pada triwulan IV-2025 tercatat tumbuh sebesar 5,94% (yoy), menjadi yang tertinggi di wilayah Jawa.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, menekankan bahwa stabilitas harga pangan bukan sekadar persoalan angka inflasi, melainkan “infrastructure of trust” atau fondasi kepercayaan masyarakat terhadap kapasitas negara.

“Bahwa inflasi yang tak terkendali dapat menggerus daya beli masyarakat secara perlahan namun sistemik, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang struktur pengeluarannya terkonsentrasi pada kebutuhan pokok.” tutur Gubernur DIY.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketenangan sosial, Sultan HB X memberikan tujuh arahan strategis diantaranya ;

1. Penguatan rantai pasok dan akurasi neraca pangan daerah.

2. Prioritas pemenuhan kebutuhan lokal DIY sebelum distribusi ke luar daerah.

3. Optimalisasi peran BUMD sebagai off-taker untuk menyerap produk tani lokal dan menstabilkan harga.

4. Fokus pada komoditas volatile food seperti aneka cabai dan daging ayam melalui pemantauan intensif.

5. Modernisasi penyimpanan melalui cold storage untuk menjembatani surplus dan defisit antar-musim.

6. Intervensi pasar dengan prinsip 3D (Tepat Lokasi, Tepat Waktu, Tepat Sasaran) serta komunikasi publik yang efektif untuk mencegah *panic buying.

7. Penguatan keamanan jalur distribusi dan kerja sama antar-daerah (KAD).

*Komoditas Pangan Jadi Prioritas Utama*

Berdasarkan data historis dua tahun terakhir, beberapa komoditas pangan strategis secara konsisten menjadi penyumbang inflasi utama di DIY menjelang Idulfitri, antara lain bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Darmadi Sudibyo dalam paparannya, sebagai gambaran, inflasi bawang merah pernah mencapai 17,43% (mtm), diikuti cabai rawit sebesar 6,06%.

Tekanan inflasi ini dipicu oleh akumulasi momentum hari besar yang berdekatan, mulai dari Tahun Baru Imlek, awal Ramadan, hingga Idulfitri yang jatuh pada akhir Maret. Oleh karena itu, penguatan langkah stabilisasi pasokan dan harga perlu dilakukan lebih awal.

*Inovasi Daerah: “Kuntul Gunung” dan Pemberdayaan Lokal*

Dalam pelaksanaannya di tingkat kabupaten, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih melaporkan berbagai inovasi seperti kerja sama “Kuntul Gunung” (Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul) untuk pemenuhan stok kelapa, cabai, dan sapi potong.

“Selain itu, terdapat program ” Gema Srikandi” yang mewajibkan ASN membeli produk lokal UMKM dan gerakan Gerbang Pagi untuk pemanfaatan pekarangan guna meningkatkan ketahanan pangan keluarga.” papar Bupati Endah.

*Stok Pangan Gunungkidul Aman Jelang Ramadan, Harga Daging Ayam dan Telur Mulai Merangkak Naik*

Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, kondisi ketersediaan bahan pokok di wilayah Kabupaten Gunungkidul dilaporkan dalam status aman dan mencukupi.

 

Disampaikan Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih dalam laporannya, berdasarkan data terkini, kelancaran pasokan menjadi faktor utama terjaganya stabilitas pangan di daerah tersebut.

“Pemerintah setempat mencatat bahwa pasokan pangan saat ini mencukupi dikarenakan kondisi iklim dan cuaca yang sangat mendukung sektor pertanian. Selain faktor alam, serangan hama dan penyakit tanaman juga dilaporkan relatif terkendali, sehingga hasil panen tetap optimal.” papar Bupati Endah.

Tidak hanya mengandalkan produksi lokal, distribusi pangan dari luar daerah pun terpantau lancar. Hal ini didukung oleh infrastruktur yang memadai serta adanya program Kerjasama Antar Daerah (KAD) untuk sejumlah komoditas strategis yang memastikan stok tetap tersedia di pasar-pasar Gunungkidul.

“Dari sisi permintaan, hingga saat ini belum terjadi lonjakan yang signifikan untuk komoditas bahan pokok secara umum. Namun, beberapa komoditas mulai menunjukkan tren kenaikan harga, di antaranya adalah daging ayam ras dan telur.” ujar Bupati Gunungkidul.

Bupati Endah menjelaskan, permintaan masyarakat diprediksi akan terus meningkat tajam pada momen Ramadan dan Idulfitri mendatang dimana peningkatan ini dipicu oleh naiknya konsumsi rumah tangga, serta masuknya para pemudik dan wisatawan yang berkunjung ke Gunungkidul selama periode libur Lebaran.

“Pihak terkait dipastikan akan terus memantau dinamika pasar guna mengantisipasi lonjakan permintaan tersebut.” kata Bupati.

Pemerintah DIY menargetkan pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun 2026 minimal dapat mencapai 6%. Dengan sinergi strategi 4K (Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif), diharapkan stabilitas harga di DIY tetap terjaga dalam rentang sasaran, memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *