Foto: dok PBSI
Jakarta,REDAKSI17.COM – Ganda putra muda Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, mengakui kondisi fisik mereka terkuras habis usai menjalani jadwal super padat dalam dua bulan terakhir. Hal ini menjadi bahan evaluasi serius jelang tur Eropa.
Raymond/Joaquin tercatat mengikuti empat turnamen beruntun, mulai dari ajang perorangan hingga beregu. Torehannya pun terbilang impresif: dua kali menembus final (Indonesia Masters dan Thailand Masters), sekali semifinal, dan sekali terhenti di babak awal.
Namun, prestasi itu harus dibayar mahal dengan kondisi fisik. Jeda antar-turnamen yang hanya 2-3 hari membuat proses pemulihan tidak maksimal. Usai tur Asia Tenggara (Malaysia, Indonesia, Thailand), mereka langsung terbang ke Qingdao, China, untuk tampil di Badminton Asia Team Championships (BATC).
Raymond menilai hasil di Thailand Masters (Super 300) sebenarnya sudah melampaui target, meski ia menyoroti anjloknya kondisi fisik saat di BATC.
“Ya mungkin Thailand sudah melebihi target, cuma di final maunya memang menang tapi belum bisa dapat kemenangan super 300. Kalau di BATC sih evaluasinya untuk ke performa fisik dan teknik lagi sih. Itu yang harus ditingkatin lagi. Terutama fisik karena kami (kemarin) kayak sudah habis saja rasanya,” kata Raymond saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung.
Setelah jeda singkat usai BATC, Raymond/Joaquin sudah ditunggu kalender BWF tur Eropa yang tak kalah mencekam. Mereka dijadwalkan tampil di All England (3-8 Maret), Swiss Open (10-15 Maret), hingga Orleans Masters (17-22 Maret).
Joaquin menyebut pengalaman menjalani turnamen beruntun sebenarnya bukan hal baru, namun level kompetisi Super 500 memberikan tekanan yang sangat berbeda.
“Sebenarnya kalau (pertandingan beruntun) 3 turnamen sebelumnya sudah pernah ya di tahun lalu. Sudah sempat 3 turnamen juga cuma memang yang di tahun lalu (hasilnya) dua kali semifinal dan final (Indonesia Masters I, Kaohsiung Masters, dan Al Ain Masters),” ujar Joaquin.
“Bahkan yang di sini, kami 2 turnamen pertama (dapat) final. Tapi memang lebih berasa pada fisiknya karena lawan-lawan di super 500 sudah top-top semua, enggak gampang, jadi itu lebih menguras fokus. Itu juga yang jadi bahan evaluasi bagi kami agar lebih meningkatkan fokus dan fisiknya ke depannya,” lanjutnya.
Meski fisik sedang di titik nadir, Joaquin menegaskan ambisi untuk naik podium tertinggi tetap membara di tur-tur selanjutnya.
“Saya inginnya semuanya (juara) apalagi targetnya memang ada. Ada target-target khusus di setiap pertandingan memang ada cuma kami berusaha mau menampilkan yang terbaik dulu,” pungkas Joaquin.





