YOGYAKARTA,REDAKSI17.COM – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan respons tegas terkait tren investor yang mencoba membawa konsep pariwisata Bali ke Yogyakarta. Sultan menekankan bahwa secara fundamental, Yogyakarta memiliki akar budaya yang berbeda dengan Pulau Dewata. Pernyataan ini disampaikan Sultan seusai menghadiri pelantikan pengurus Kadin kabupaten/kota se-DIY di Jogja Expo Center (JEC), Sabtu (14/2).
Menurut Sultan, membandingkan Jogja dengan Bali adalah hal yang kurang tepat karena masing-masing memiliki identitas unik. Meskipun keduanya merupakan destinasi wisata unggulan, atmosfer dan perilaku sosial budayanya memiliki karakteristik tersendiri. “Gak usah dibandingkan dengan Bali. Kan memang beda Jogja sama Bali. Kan kota wisata, tetapi kultur masyarakat memang beda,” tegas Sri Sultan.
Meski demikian, Sultan memastikan bahwa pintu investasi di sektor pariwisata DIY tetap terbuka lebar, asalkan pengembangannya tetap selaras dengan nilai-nilai lokal. Baca Juga: Gunungkidul Punya Destinasi Wisata Baru, Diresmikan Langsung Oleh Bupati Senada dengan Sultan, Ketua Umum Kadin DIY GKR Mangkubumi menyoroti adanya upaya masif dari para investor untuk mengubah wajah destinasi Jogja agar menyerupai Bali, terutama di kawasan pesisir. Ia menjelaskan beberapa perbedaan signifikan yang harus dipahami oleh calon investor
Pertama, soal kepemilikan lahan. Di Bali, pantai cenderung bisa dikuasai atau dimiliki secara privat.
Kedua, di Yogyakarta wisata pantai adalah milik masyarakat dengan aturan pembangunan yang sudah ditetapkan (sering kali berada di atas tanah Sultanaat Grond atau tanah desa). Ketiga, kontur dan ekosistem pantai di DIY memiliki ciri khas yang tidak bisa disamakan dengan Bali.
“Kayaknya kok lama-lama Jogja mau di-Bali-kan gitu. Padahal kami ini punya ciri khas sendiri, karakter sendirinya. Jogja ojo di-Bali-kan, tetapi bagaimana sama-sama untuk mengangkat pariwisata,” ujar putri sulung Sri Sultan tersebut.





