Jakarta,REDAKSI17.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tertekan sepanjang Februari. Rupiah melemah terhadap dolar AS menyusul peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) tentang transparansi terhadap pasar modal Indonesia yang dirilis pada Rabu (28/1).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah cenderung melemah sejak peringatan tersebut hingga saat ini. Dolar AS bergerak naik 0,69% terhadap rupiah dari rentang Rp 16.722-16.837 per 17 Februari 2026.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah sejalan dengan peringatan MSCI hingga pemangkasan rating kredit dari lembaga pemeringkat internasional Moody’s. Perbaikan panjang pasar modal ini disebut menjadi sentimen negatif bagi rupiah.
“Sehingga apa? Untuk (rupiah) kembali normal ya, (menunggu) mencabut pembekuan (rebalancing MSCI) dan penurunan rating ini, ya kemungkinan besar di bulan Mei. Artinya apa? Ini yang membuat fluktuatif mata uang rupiah,” ungkap Ibrahim kepada detikcom, Selasa (17/2/2026).
Ibrahim mengatakan, nilai tukar rupiah cenderung melemah karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami nasib serupa. Berdasarkan data perdagangan RTI Business, diketahui IHSG berada pada level 8.212,27 atau melemah 0,64%.
“IHSG pun juga ikut melemah walaupun pelemahannya tidak terlalu besar ya, maksimal hanya 2%. Tetapi ini indikasi yang membuat rupiah masih kecondongan di bulan Februari ini masih akan melemah. Bahkan bisa mencapai mungkin di Rp 16.900-an,” ungkapnya.
Berdasarkan data perdagangan RTI Business, diketahui IHSG secara kumulatif mengalami perbaikan. Sepanjang perdagangan sepekan terakhir, indeks saham RI bergerak menguat sebesar 3,49% dari 7.935,260 ke 8.212,27.
Di samping itu, IHSG pada perdagangan Jumat juga mencetak net foreign sell atau aksi jual bersih hingga Rp 2,03 triliun. Secara kumulatif sepanjang 2026, tren jual bersih investor asing tercatat sebesar Rp 14,46 triliun.
Penyebab Rupiah LoyoDi sisi lain, Ibrahim menjelaskan pelemahan rupiah terhadap dolar AS kuat dipengaruhi sentimen global. Tidak hanya pertemuan AS-Iran di Jenewa, tetapi juga pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump yang akan membahas tarif impor.
Namun Ibrahim mengatakan, pemerintah AS dan Indonesia sebenarnya telah sepakat dengan tarif sebesar 19%. Kemudian yang menjadi sentimen terhadap rupiah ke depan adalah defisit anggaran menyusul kesepakatan impor minyak mentah besar-besaran ke AS.
“Selama ini Indonesia kan tidak melakukan impor minyak mentah dari Amerika, tapi dari negara-negara anggota OPEC dan Rusia. Bahkan sempat akan melakukan impor ke pasar gelap kan yang harganya relatif lebih murah 30%. Indonesia tidak berani melakukan pembelian terhadap minyak mentah tersebut di pasar gelap, nah ini yang sebenarnya membuat defisit akan kembali melebar,” imbuhnya.
Pelemahan rupiah disebut akan terjadi mulai Rabu (18/2). Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan pelemahan rupiah didorong oleh minimnya likuiditas di tengah libur panjang.
“Pergerakan mata uang maupun lainnya umumnya susah diprediksi di tengah liburan dan minimnya likuiditas. Bisa (melemah), secara dolar AS masih menguat walau tidak signifikan, rupiah masih terbebani sentimen domestik,” ungkap Lukman saat dihubungi detikcom, Selasa (17/2/2026).
Ia juga menyebut, belum ada dampak signifikan jelang negosiasi nuklir antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran di Jenewa, mendatang. Menurutnya saat ini, investor juga masih menunggu hasil pertemuan tersebut.
“Belum ada dampak, kecuali ada harapan pada hasil pertemuan itu, investor masih akan mencermati perkembangannya,” ungkapnya.





