Home / Tokoh Kita / Mengenal Umar bin Khattab

Mengenal Umar bin Khattab

Nama lengkapnya adalah ʿUmar bin al-Khaṭṭāb bin Nufayl bin ʿAbd al-ʿUzzā al-ʿAdawī al-Qurashī. Ayahnya bernama Al-Khattab bin Nufail, seorang tokoh Quraisy yang disegani karena kepemimpinannya yang kuat. Ibunya adalah Hantamah binti Hasyim bin Mughirah, dari Bani Makhzum, klan yang berpengaruh dalam Quraisy.

Umar bin Khattab berasal dari keluarga yang cukup terpandang di kalangan Quraisy. Beliau adalah keturunan Bani Adi, yang dikenal sebagai klan yang sering diberi tugas sebagai hakim dalam masyarakat karena kecakapan mereka dalam mengadili perkara.

Umar bin Khattab lahir sekitar tahun 586 M di Mekkah. Ia tumbuh dalam lingkungan yang keras dan penuh persaingan. Sejak kecil, ia sudah dilatih untuk hidup mandiri dan bekerja keras. Umar telah belajar menulis dan membaca, kemampuan yang jarang dimiliki masyarakat Quraisy pada masa itu.

Umar Sebelum Masuk Islam

Umar bin Khattab adalah seorang dengan perawakan yang besar dan tingginya melebihi kebanyakan orang Arab pada zamannya. Warna kulitnya putih kemerahan, khas orang Quraisy. Umar memiliki wajah dengan rahang yang tegas dan ekspresi yang sangat berkarisma. Ketika marah, wajahnya menjadi semakin merah. Mata Umar sangat tajam dan memancarkan wibawa, membuat orang yang melihatnya sering merasa segan dan hormat. Janggutnya panjang dan lebat, sering disisirnya dengan minyak wangi.

Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang petarung yang tangguh, memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Jika Umar memukul seseorang, maka pukulannya akan membuat orang itu terjatuh dan tidak mampu bangun lagi. Sebagai seorang pemuda, Umar memiliki karakter keras dan tegas, tetapi juga dikenal sebagai sosok yang jujur dan berwibawa.

Umar bin Khattab bekerja sebagai pedagang dan sering melakukan perjalanan bisnis ke Syam dan Yaman. Selain berdagang, Umar juga mahir dalam syair dan hukum adat Arab. Umar dikenal sebagai seorang yang sangat kuat dalam mempertahankan tradisi nenek moyangnya.

Kebencian kepada Nabi ﷺ dan Rencana Membunuhnya

Sebelum masuk Islam, Umar adalah salah satu orang yang paling keras menentang ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Umar sangat marah ketika melihat Islam mulai menyebar di kalangan Quraisy. Ia menganggap Nabi Muhammad ﷺ telah menghina berhala-berhala mereka dan mengancam kedudukan pemimpin Quraisy. Puncaknya, ia memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam perjalanan menuju rumah Nabi, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah yang memberitahunya bahwa adiknya, Fatimah binti Khattab, telah masuk Islam. Mendengar ini, Umar marah besar dan langsung menuju rumah

Umar bin Khattab Masuk Islam

Setibanya di rumah Fatimah, Umar mendengar lantunan Surah Thaha (1-8) yang dibacakan oleh Fatimah dan suaminya, Said bin Zaid. Dalam keadaan marah, Umar memukul adiknya hingga berdarah.

Namun, setelah melihat adiknya tetap teguh dalam keimanannya, Umar mulai tersentuh. Ia meminta lembaran Al-Qur’an itu, lalu membacanya. Saat membaca ayat-ayat tersebut, hatinya mulai luluh, dan ia pun pergi menemui Rasulullah ﷺ di Darul Arqam.

Dengan penuh kerendahan hati, Umar bin Khattab menyatakan keislamannya di hadapan Nabi ﷺ dan para sahabat.

Umar Secara Terbuka Mengumumkan Keislamannya

Setelah masuk Islam, Umar bin Khattab tidak menyembunyikan keislamannya seperti banyak sahabat lainnya yang masih takut terhadap ancaman Quraisy. Ia justru menantang mereka secara terang-terangan.

Salah satu tindakan pertamanya adalah pergi ke Ka’bah dan beribadah di sana secara terbuka. Ketika orang-orang Quraisy melihatnya, mereka marah dan mulai menyerangnya, tetapi Umar tidak gentar dan berkelahi dengan mereka hingga mereka menyerah.

Islam Mulai Disyi’arkan Secara Terbuka

Sebelum Umar bin Khattab masuk Islam, kaum Muslimin sering beribadah secara diam-diam karena takut terhadap penyiksaan kaum Quraisy. Namun, dengan keberanian Umar, ia bersama Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi yang juga baru masuk Islam) memimpin barisan kaum Muslimin untuk pertama kalinya shalat secara terbuka di Ka’bah.

Peristiwa ini memberikan semangat baru bagi kaum Muslimin dan membuat Quraisy sadar bahwa Islam tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Setelah masuk Islam, Umar bin Khattab menjadi salah satu pelindung utama Nabi Muhammad ﷺ. Ia selalu berada di samping Nabi untuk menjaga keselamatannya. Ketika kaum Quraisy mencoba menyakiti Nabi, Umar tidak segan-segan menggunakan keberanian dan kekuatannya untuk melindungi beliau. Ia juga menghadapi para pemuka Quraisy yang sering menindas kaum Muslimin.

Hijrah ke Madinah dengan Tantangan Terbuka

Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan kaum Muslimin untuk hijrah ke Madinah, kebanyakan dari mereka melakukannya secara diam-diam agar tidak diketahui oleh Quraisy. Namun, Umar bin Khattab hijrah dengan menantang Quraisy secara terbuka.

Sebelum berangkat, Umar bin Khattab pergi ke Ka’bah dan bertawaf sebanyak tujuh kali. Kemudian, ia berdiri di depan para pemuka Quraisy dan berkata:

“Aku akan pergi berhijrah ke Madinah. Jika ada yang ingin ibunya kehilangan anaknya, istrinya menjadi janda, dan anaknya menjadi yatim, silakan hadang aku di belakang lembah ini!”

Tidak ada satu pun orang Quraisy yang berani mencegahnya.

Umar bin Khattab dan berbagai Peperangan

Umar bin Khattab ikut dalam berbagai peperangan seperti Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Dalam Perang Badar, Umar ikut serta sebagai salah satu panglima pasukan Muslim. Dalam Perang Hunain, Umar ikut bertempur melawan suku Hawazin dan Tsaqif.

Saat Perang Tabuk, Umar menunjukkan kecintaannya kepada Islam dengan menyumbangkan setengah dari seluruh hartanya untuk keperluan pasukan Muslim. Ketika Nabi bertanya kepadanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Umar menjawab, “Aku tinggalkan setengahnya.”

Namun, Abu Bakar lebih unggul karena ia menyumbangkan seluruh hartanya.

Wafatnya Rasulullah ﷺ

Ketika Rasulullah ﷺ wafat pada tanggal 12 Rabiul Awwal (11 H / 632 M), Umar bin Khattab tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan berkata, “Siapa yang mengatakan Muhammad telah wafat, aku akan penggal kepalanya!”

Abu Bakar kemudian menenangkan Umar kemudian naik ke mimbar dan membaca ayat: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?” (QS. Ali Imran: 144).

Setelah mendengar ayat ini, Umar akhirnya tersadar. Umar menangis dan menerima kenyataan bahwa Nabi benar-benar telah wafat.

Kenangan Mendalam Bersama Rasulullah ﷺ

Suatu ketika, Sayyidina Umar bin Khattab hendak berangkat menunaikan Umrah. Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada Rasulullah ﷺ. Saat itu, Nabi ﷺ bersabda kepadanya:

“لاَ تَنْسَنَا يَا أُخَيَّ فِي دُعَائِكَ”
“La tansana ya Ukhayya fi du’aaika.”
“Jangan lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku tercinta!”

Rasulullah ﷺ menggunakan kata “Ukhayya”, yang merupakan bentuk tashghir (bentuk kecil) dari akh (saudara), sebagai ungkapan kelembutan dan kasih sayang kepada Umar. Ungkapan ini juga menunjukkan kerendahan hati Rasulullah ﷺ yang bagaimanapun beliau adalah manusia paling mulia, akan tetapi tetap meminta do’a dari sahabatnya.

Mendengar ucapan ini, Umar bin Khattab merasa sangat bahagia dan terharu. Ia berkata:

“مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي بِهَا الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا”
“Takkan kutukar (ucapan ini) walau dengan dunia seisinya!”

Nabi Muhammad ﷺ sangat menghormati Umar bin Khattab dan menjulukinya sebagai Al-Faruq (الفروق), yang berarti “pembeda antara kebenaran dan kebatilan”. Keberanian dan ketegasan Umar dalam menegakkan kebenaran sangat dihargai oleh Nabi. Umar juga sering menjadi penasihat utama bagi Nabi dalam berbagai keputusan penting.

Nabi Muhammad pernah bersabda: “Seandainya ada nabi setelahku, maka dia adalah Umar bin Khattab.” (HR. Tirmidzi)

Umar di Masa Khalifah Abu Bakar (632-634 M)

Setelah wafatnya Nabi, kaum Muslimin memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama. Umar bin Khattab adalah orang yang paling mendukung keputusan ini dan berperan dalam membaiat Abu Bakar. Umar menjadi penasihat utama Abu Bakar dalam berbagai kebijakan. Ia membantu Abu Bakar dalam menumpas pemberontakan orang-orang yang murtad setelah wafatnya Nabi.

Ia turut serta dalam Perang Riddah, perang melawan suku-suku Arab yang menolak membayar zakat atau mengaku sebagai nabi palsu. Umar juga membantu Abu Bakar dalam menyusun pengiriman pasukan Islam ke Persia dan Romawi Timur (Bizantium).

Umar bin Khattab Menjadi Khalifah Setelah Abu Bakar

Sebelum wafat, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya setelah berdiskusi dengan para sahabat besar. Pada 634 M, Umar bin Khattab resmi menjadi Khalifah Kedua. Kepemimpinan Umar bin Khattab berlangsung selama 10 tahun (634-644 M) dan merupakan salah satu periode keemasan dalam sejarah Islam.

Sebagai khalifah, Umar bin Khattab terkenal sangat adil, tegas, dan bijaksana. Beberapa kebijakan besar yang ia lakukan antara lain:

1. Administrasi Pemerintahan Islam

✅ Membentuk wilayah-wilayah administratif (provinsi) dan menunjuk gubernur untuk setiap wilayah.

✅ Menerapkan sistem diwan (semacam lembaga administrasi negara).

✅ Membentuk sistem peradilan Islam yang terpisah dari pemerintahan, dengan hakim yang adil.

2. Ekspansi Wilayah Islam

🛡️ Penaklukan Romawi Timur (Bizantium)

✅ Pasukan Islam mengalahkan pasukan Bizantium dalam Perang Yarmuk (636 M), yang menjadi salah satu kemenangan terbesar dalam sejarah Islam.

✅ Kota-kota besar seperti Yerusalem, Damaskus, Aleppo, dan Mesir jatuh ke tangan Islam.

✅ Kekuasaan Romawi di wilayah Syam (Suriah-Palestina) pun berakhir.

🛡️ Penaklukan Persia (Sassanid)

✅ Pasukan Muslim berhasil menaklukkan Kerajaan Persia Sassanid dalam Perang Qadisiyyah (636 M) dan Perang Nahawand (642 M).

✅ Kota Ctesiphon (Mada’in), ibu kota Persia, jatuh ke tangan Islam.

✅ Dengan ini, Kekaisaran Persia yang besar hancur total dan menjadi bagian dari Daulah Islam.

3. Sistem Ekonomi dan Sosial

Umar bin Khattab membentuk Baitul Mal, lembaga keuangan negara untuk mengelola pendapatan dan distribusi harta umat Islam. Ia juga Membangun sistem kesejahteraan sosial, seperti memberikan tunjangan kepada fakir miskin, janda, anak yatim, dan lansia.

Umar bin Khattab mengatur distribusi tanah dan hasil pertanian secara adil dan membentuk sensus penduduk untuk mengetahui jumlah rakyat dan kebutuhan mereka.

4. Hukum dan Ketertiban

Umar bin Khattab menerapkan hukum Islam dengan ketat dan adil tanpa membedakan status sosial. Ia dikenal sebagai khalifah yang berpatroli sendiri di malam hari untuk memastikan rakyatnya aman dan tidak kelaparan.

Kisah Umar Sebagai Khalifah yang Adil

Suatu malam, Umar bin Khattab sedang berkeliling untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia menemukan seorang ibu yang sedang memasak sesuatu di atas api, sementara anak-anaknya menangis kelaparan. Umar mendekati ibu tersebut dan bertanya, “Apakah yang engkau masak?”

Sang ibu menjawab, “Aku hanya merebus air dan beberapa batu untuk menenangkan anak-anakku yang lapar hingga mereka tertidur. Demi Allah, aku akan menuntut Amirul Mukminin (Umar) di akhirat atas kelalaiannya terhadap kami!”. Umar menangis mendengar jawaban ibu itu.

Umar bin Khattab segera pergi ke Baitul Mal, mengambil sekarung gandum, dan memikulnya sendiri. Ketika ajudannya menawarkan untuk membawanya, Umar berkata, “Apakah engkau mau memikul dosaku di akhirat nanti?” Umar membawa gandum itu ke rumah ibu tadi, memasaknya sendiri, dan memberi makan anak-anaknya.

Pembunuhan Umar bin Khattab

Pada waktu Subuh, tanggal 26 Dzulhijjah 23 H (644 M), Umar bin Khattab seperti biasa datang lebih awal ke Masjid Nabawi untuk mengimami shalat Subuh.

Ketika Umar bin Khattab memulai shalat dan membaca takbir, tiba-tiba seorang budak Persia bernama Abu Lu’lu’ah al-Majusi menerobos saf dan menyerang Umar. Abu Lu’lu’ah menikam Umar dengan belati beracun sebanyak tiga kali. Umar tetap shalat hingga ia pingsan. Ketika sadar, ia bertanya, “Apakah kaum Muslimin sudah menyelesaikan shalatnya?”

Wasiat Umar Sebelum Wafat

Mengetahui bahwa ajalnya sudah dekat, Umar bin Khattab memanggil para sahabat utama dan menyampaikan beberapa wasiat penting. Umar tidak langsung menunjuk penggantinya, tetapi ia membentuk Dewan Syura berisi enam sahabat besar untuk memilih khalifah selanjutnya. Enam orang tersebut adalah Utsman bin AffanAli bin Abi ThalibAbdurrahman bin AufSa’ad bin Abi WaqqashZubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Permintaan untuk Dimakamkan

Umar sangat ingin dimakamkan di samping makam Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di Raudhah (sekarang dalam area Masjid Nabawi). Namun, karena tempat itu berada di rumah Aisyah (putri Abu Bakar dan istri Nabi), ia meminta izin terlebih dahulu.

Aisyah awalnya telah menyiapkan tempat itu untuk dirinya sendiri, tetapi akhirnya mengizinkan Umar untuk dimakamkan di sana.

Pada hari ketiga setelah ditikam, yaitu 1 Muharram 24 H (644 M), Umar bin Khattab wafat. Jenazahnya kemudian dimakamkan di sebelah makam Nabi Muhammad ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq di Madinah.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *