Home / Aneka WarNA / Keutamaan Sholat Tarawih Malam ke-1 Sampai 30 dalam Kitab Durratun Nasihin

Keutamaan Sholat Tarawih Malam ke-1 Sampai 30 dalam Kitab Durratun Nasihin

Tarawih merupakan ibadah yang dilaksanakan setiap malam di bulan Ramadhan, tepatnya setelah sholat Isya hingga menjelang waktu Subuh.

Sholat sunnah ini menjadi salah satu amalan yang paling identik dengan suasana Ramadhan, karena dikerjakan berjamaah di masjid, mushola, maupun di rumah.

Secara bahasa, tarawih berasal dari kata yang bermakna “istirahat”. Istilah ini muncul karena pada pelaksanaannya, jamaah biasanya beristirahat sejenak setelah menunaikan empat rakaat, lalu kembali melanjutkan sholat hingga selesai.

Di kalangan ulama, sholat tarawih dikenal sebagai bagian dari qiyamul lail atau sholat malam, tetapi memiliki kekhususan karena hanya disyariatkan pada bulan Ramadhan.

Karena itu, tarawih berbeda dengan tahajud yang umumnya dilakukan setelah tidur dan bisa dikerjakan kapan saja sepanjang tahun.

Dalam praktiknya, tarawih bisa dikerjakan sendiri maupun berjamaah. Namun banyak ulama menilai sholat tarawih berjamaah lebih utama karena menjadi syiar Islam yang tampak di tengah masyarakat.

Selain itu, sholat tarawih juga dipercaya memiliki keutamaan tersendiri di setiap malam pelaksanaannya, terutama dalam literatur yang sering dibaca masyarakat, salah satunya Kitab Durratun Nasihin.

Dalil Tentang Keutamaan Sholat Tarawih

Keutamaan sholat tarawih disebutkan dalam berbagai hadits Nabi Muhammad SAW. Salah satu yang paling dikenal adalah janji ampunan dosa bagi orang yang menghidupkan malam Ramadhan dengan sholat.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa menegakkan (shalat malam) pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosa dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi landasan kuat mengapa tarawih begitu ditekankan. Para ulama menjelaskan bahwa “karena iman” berarti meyakini keutamaan yang dijanjikan Allah, sedangkan “mengharap pahala” berarti melakukannya dengan ikhlas, bukan demi pujian atau kebiasaan semata.

Selain itu, terdapat pula hadits yang menjelaskan besarnya pahala tarawih berjamaah, terutama bila seseorang mengikuti imam sampai selesai.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

Artinya: “Sesungguhnya siapa yang sholat bersama imam sampai imam selesai, maka dicatat baginya pahala sholat malam penuh.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i)

Hadits ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk tidak meninggalkan tarawih sebelum imam menutup sholat, karena pahalanya diganjar seperti seseorang yang menghidupkan satu malam penuh dengan ibadah.

Keutamaan tarawih juga sering dikaitkan sebagai pelengkap kekurangan sholat wajib. Sholat sunnah, termasuk tarawih, menjadi salah satu bentuk rahmat Allah untuk menutupi kekhilafan dan kekurangan yang mungkin terjadi dalam sholat fardhu.

Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits At-Tirmidzi dari Abu Hurairah: amal yang pertama kali dihisab adalah sholat. Jika ada kekurangan, maka sholat sunnah yang menjadi penambahnya.

Keutamaan Sholat Tarawih Malam 1-30 dalam Kitab Durratun Nasihin

Disadur dari NU Online, berikut keutamaan sholat tarawih dari malam pertama hingga malam ketiga puluh sebagaimana tercantum dalam kitab Durratun Nasihin:

1. Malam ke-1

يَخْرُجُ الْمُؤْمِنُ مِنْ ذَنْبِهِ فِى أَوَّلِ لَيْلَةٍ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Dosa orang mukmin yang menjalankan tarawih pada malam pertama akan luruh, bersih seperti saat ia pertama kali lahir ke dunia.

2. Malam ke-2

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ يُغْفَرُ لَهُ وَلِأَبَوَيْهِ إِنْ كَانَا مُؤْمِنَيْنِ

Allah mengampuni dosanya, sekaligus dosa kedua orang tuanya, selama keduanya beriman.

3. Malam ke-3

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ يُنَادِيْ مَلَكٌ مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ اسْتَأْنِفِ الْعَمَلَ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ

Malaikat di bawah Arsy berseru kepadanya agar mulai kembali beramal, sebab Allah telah mengampuni segala dosanya yang terdahulu.

4. Malam ke-4

وَفِى اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةِ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ قِرَاءَةِ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيْلِ وَالزَّبُوْرِ وَالْفُرْقَانِ

Ia memperoleh pahala setara dengan seseorang yang membaca kitab Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an secara keseluruhan.

5. Malam ke-5

وَفِى اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةِ أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى مِثْلَ مَنْ صَلَّى فِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَالْمَسْجِدِ الْمَدِيْنَةِ وَالْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Pahala yang ia terima setara dengan sholat di tiga masjid paling mulia, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil Aqsha.

6. Malam ke-6

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةِ أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى ثَوَابَ مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ الْمَعْمُوْرِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ حَجَرٍ وَمَدَرٍ

Allah memberi pahala seperti malaikat yang tawaf di Baitul Makmur, dan setiap batu serta tanah di bumi memintakan ampunan untuknya.

7. Malam ke-7

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا أَدْرَكَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَنَصَرَهُ عَلَى فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ

Seolah-olah ia hidup sezaman dengan Nabi Musa AS dan turut berjuang bersamanya menghadapi kezaliman Fir’aun dan Haman.

8. Malam ke-8

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةِ أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى مَا أَعْطَى إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ

Allah menganugerahkan kepadanya sebagaimana anugerah yang pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim AS, kekasih Allah.

9. Malam ke-9

وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ فَكَأَنَّمَا عَبَدَ اللهَ تَعَالَى عِبَادَةَ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ

Ibadahnya dianggap seolah setara dengan kualitas ibadah para Nabi kepada Allah SWT.

10. Malam ke-10

وَفِى اللَّيْلَةِ الْعَاشِرَةِ يَرْزُقُهُ اللهُ تَعَالَى خَيْرَيِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Allah melimpahkan kebaikan kepadanya, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.

11. Malam ke-11

وَفِى اللَّيْلَةِ الْحَادِيَةَ عَشَرَةَ يَخْرُجُ مِنَ الدُّنْيَا كَيَوْمٍ وُلِدَ مِنْ بَطْنِ أُمِّهِ

Kelak ia akan meninggalkan dunia ini dalam keadaan bersih dari dosa, seperti bayi yang baru terlahir.

12. Malam ke-12

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةَ عَشَرَةَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

Di hari kiamat, wajahnya akan memancarkan cahaya seindah bulan purnama di malam yang cerah.

13. Malam ke-13

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةَ عَشَرَةَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ

Ia akan tiba di padang mahsyar dalam keadaan aman, terbebas dari segala bentuk keburukan.

14. Malam ke-14

وَفِى اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةَ عَشَرَةَ جَاءَتِ الْمَلَائِكَةُ يَشْهَدُوْنَ لَهُ أَنَّهُ قَدْ صَلَّى التَّرَاوِيْحَ فَلَا يُحَاسِبُهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Para malaikat menjadi saksi atas ibadah tarawihnya, sehingga Allah tidak menghisabnya di hari kiamat.

15. Malam ke-15

وَفِى اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةَ عَشَرَةَ تُصَلِّى عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ وَالْكُرْسِيِّ

Para malaikat, termasuk para malaikat penyangga Arsy dan penjaga Kursi Kerajaan langit, bershalawat dan memohonkan ampunan untuknya.

16. Malam ke-16

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةَ عَشَرَةَ كَتَبَ اللهُ لَهُ بَرَاءَةَ النَّجَاةِ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةَ الدُّخُوْلِ مِنَ الْجَنَّةِ

Allah menuliskan baginya jaminan terlepas dari siksa neraka dan kebebasan untuk masuk ke dalam surga.

17. Malam ke-17

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةَ عَشَرَةَ يُعْطَى مِثْلَ ثَوَابِ الْأَنْبِيَاءِ

Pahalanya disejajarkan dengan pahala yang diterima oleh para Nabi dan Rasul utusan Allah.

18. Malam ke-18

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةَ عَشَرَةَ نَادَى مَلَكٌ يَاعَبْدَ اللهِ أَنَّ اللهَ رَضِيَ عَنْكَ وَعَنْ وَالِدَيْكَ

Seorang malaikat berseru: “Wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah telah meridhaimu beserta kedua orang tuamu.”

19. Malam ke-19

وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةَ عَشَرَةَ يَرْفَعُ اللهُ دَرَجَاتَهُ فِى الْفِرْدَوْسِ

Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus, tempat tertinggi dan terindah di antara seluruh tingkatan surga.

20. Malam ke-20

وَفِى اللَّيْلَةِ الْعِشْرِيْنَ يُعْطَى ثَوَابَ الشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ

Ia mendapatkan pahala seperti para syuhada yang gugur di jalan Allah dan orang-orang shalih pilihan.

21. Malam ke-21

وَفِى اللَّيْلَةِ الْحَادِيَةِ وَالْعِشْرِيْنَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ مِنَ النُّوْرِ

Allah membangunkan sebuah rumah dari cahaya di dalam surga, khusus untuknya sebagai tempat tinggal yang abadi.

22. Malam ke-22

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّانِيَةِ وَالْعِشْرِيْنَ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ آمِنًا مِنْ كُلِّ غَمٍّ وَهَمٍّ

Ketika hari kiamat tiba, ia hadir tanpa beban kesedihan atau rasa cemas sedikit pun.

23. Malam ke-23

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ وَالْعِشْرِيْنَ بَنَى اللهُ لَهُ مَدِيْنَةً فِى الْجَنَّةِ

Allah membangunkan sebuah kota di surga khusus untuknya, sebagai bentuk kemuliaan yang luar biasa.

24. Malam ke-24

وَفِى اللَّيْلَةِ الرَّابِعَةِ وَالْعِشْرِيْنَ كَانَ لَهُ أَرْبَعٌ وَعِشْرُوْنَ دَعْوَةً مُسْتَجَابَةً

Ia memperoleh dua puluh empat doa yang dijamin dikabulkan oleh Allah SWT.

25. Malam ke-25

وَفِى اللَّيْلَةِ الْخَامِسَةِ وَالْعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَذَابَ الْقَبْرِ

Allah mengangkat dan menjauhkan darinya azab kubur yang menjadi ketakutan bagi kebanyakan manusia.

26. Malam ke-26

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّادِسَةِ وَالْعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ ثَوَابَهُ أَرْبَعِيْنَ عَامًا

Pahalanya dilipatgandakan setara dengan amal ibadah selama empat puluh tahun penuh.

27. Malam ke-27

وَفِى اللَّيْلَةِ السَّابِعَةِ وَالْعِشْرِيْنَ جَازَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ

Di hari kiamat, ia melewati jembatan Shirathal Mustaqim dengan kecepatan secepat sambaran kilat.

28. Malam ke-28

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّامِنَةِ وَالْعِشْرِيْنَ يَرْفَعُ اللهُ لَهُ أَلْفَ دَرَجَةٍ فِى الْجَنَّةِ

Allah mengangkat seribu derajat baginya di surga, menambahkan kemuliaan yang tak terkira.

29. Malam ke-29

وَفِى اللَّيْلَةِ التَّاسِعَةِ وَالْعِشْرِيْنَ أَعْطَاهُ اللهُ ثَوَابَ أَلْفِ حَجَّةٍ مَقْبُوْلَةٍ

Allah menganugerahkan kepadanya pahala setara seribu ibadah haji yang diterima dan mabrur.

30. Malam ke-30

وَفِى اللَّيْلَةِ الثَّلَاثِيْنَ يَقُوْلُ اللهُ يَاعَبْدِيْ كُلْ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَاغْتَسِلْ مِنْ مَاءِ السَّلْسَبِيْلِ وَاشْرَبْ مِنَ الْكَوْثَرِ أَنَارَبُّكَ وَأَنْتَ عَبْدِيْ

Pada malam terakhir, Allah berfirman langsung: “Wahai hamba-Ku, makanlah buah-buahan surga, mandilah dengan air Salsabil, dan minumlah dari telaga Kautsar. Aku adalah Tuhanmu, dan engkau adalah hamba-Ku.”

Meski kedudukan dari hadits ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama, bahkan sebagian menilainya sebagai hadits dhaif atau maudhu, namun banyak ulama tetap memandangnya sebagai bacaan yang layak dijadikan motivasi dalam menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *