UMBULHARJO,REDAKSI17.COM — Mengawali Ramadan 1447 Hijriah / 2026 Masehi, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengisi tausiyah usai Shalat Dzuhur berjamaah yang berlangsung di Masjid Pangeran Diponegoro Balaikota Yogyakarta, Kamis (19/2). Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat pada bulan suci ini sebagai momentum memperkuat keimanan melalui kebersihan dan keharmonisan keluarga.
Menurut Hasto, kebersihan bukan hanya sekadar persoalan fisik, melainkan bagian dari ibadah yang mencerminkan kualitas iman seorang muslim.
“Seorang yang beriman tidak hanya memperhatikan kesucian hatinya, tetapi juga tubuhnya, rumahnya, dan lingkungannya. Di era modern, kesadaran umat Islam tentang pentingnya kebersihan dan iman harus semakin ditingkatkan. Banyak penyakit timbul akibat kelalaian menjaga kebersihan,” ujarnya.
Ia menegaskan, ketika umat Islam dipanggil untuk berpuasa dengan seruan ya ayyuhalladzina amanu yang artinya wahai orang-orang yang beriman, maka setiap muslim juga harus menunjukkan bukti keimanannya melalui perilaku sehari-hari, termasuk menjaga kebersihan.
“Sebelum berpuasa kita menyatakan diri sebagai orang beriman. Maka kebersihan sebagai bagian dari iman harus dipelihara betul agar pernyataan itu nyata,” imbuhnya.
Hasto juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan serta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan demi kesehatan bersama.
“Kita menjaga kebersihan untuk menjaga kesehatan, menjadi dampak baik di bulan Ramadan sekaligus menyempurnakan keimanan kita,” katanya.
Selain kebersihan, Hasto juga menyoroti pentingnya kebersamaan keluarga, terutama saat berbuka puasa. Ia menilai Ramadan menjadi waktu terbaik membangun komunikasi karena pada hari-hari biasa anggota keluarga jarang berkumpul. “Ramadan ini kesempatan makan bersama keluarga. Diskusi di meja makan itu penting,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, saat ini tingginya angka perceraian di Kota Yogyakarta yang menurutnya dipicu kurangnya komunikasi dan kesalahpahaman atas persoalan kecil.
Karena itu, pihaknya mengajak orang tua untuk memanfaatkan waktu berbuka dan sahur dengan saling menasihati, melakukan tabayun (klarifikasi), serta mempererat hubungan keluarga.
“Saat makan bersama atau di perjalanan, nasihati anak dan pasangan. Dengan komunikasi baik, kita bisa menghindari perpecahan dalam keluarga,” imbuhnya.


