Home / Ekonomi dan Bisnis / Ekonomi Syariah RI Diproyeksi Tumbuh 4,9 – 5,7% di 2026

Ekonomi Syariah RI Diproyeksi Tumbuh 4,9 – 5,7% di 2026

Jakarta,REDAKSI17.COM – Ekonomi dan keuangan syariah diperkirakan tetap tumbuh kuat pada 2026 meski kondisi global masih penuh ketidakpastian. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi syariah Nasional berada di kisaran 4,9-5,7% dengan dukungan pembiayaan yang semakin meningkat.
Proyeksi tersebut disampaikan dalam peluncuran Sharia Economic and Financial Outlook (ShEFO) 2026 dan Kajian Ekonomi dan Keuangan Syariah Indonesia (KEKSI) 2025. Momentum ini juga menandai dimulainya Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2026.

Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Imam Hartono mengatakan meski ketidakpastian global meningkat, ekonomi dan keuangan syariah Nasional tetap menunjukkan daya saing yang baik. Pada 2026, ekonomi syariah diperkirakan tumbuh 4,9-5,7%, sementara pembiayaan perbankan syariah diproyeksikan naik 8-12%.

“Hal ini ditopang penguatan sektor unggulan halal value chain serta sinergi lintas kebijakan untuk memperluas akses pembiayaan ke sektor riil,” ujar Imam di Gedung Thamrin, Kompleks Kantor Pusat Bank Indonesia, Jumat (13/2/2026).

Sepanjang 2025, kinerja ekonomi syariah juga tercatat positif. Sektor unggulan halal value chain (HVC) tumbuh 6,2% (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,11% (yoy).

“Kontribusi halal value chain terhadap PDB terus meningkat dan kini mencapai 27%. Ini menunjukkan bahwa sektor-sektor halal semakin strategis dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional, baik dari sisi produksi maupun pembiayaan,” jelasnya.

Dari sisi perbankan, pembiayaan syariah tumbuh 9,66% (yoy) pada akhir 2025. Pertumbuhan ini juga didukung oleh penyaluran insentif Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) Syariah sebesar Rp 35 triliun.

Program Bulan Pembiayaan Syariah (BPS) 2025 mencatat capaian Rp 939 miliar atau sekitar 60% di atas target. Pada 2026, program ini akan diperluas dengan melibatkan sektor keuangan sosial, startup, industri keuangan nonbank, serta pemanfaatan platform digital.

“Melalui Bulan Pembiayaan Syariah, kami memperkuat intermediasi sektor keuangan syariah agar semakin terhubung dengan sektor riil. Tahun ini cakupannya diperluas, termasuk ke startup dan industri keuangan nonbank, sehingga dampaknya terhadap perekonomian menjadi lebih luas dan inklusif,” tegasnya.

Di sisi pasar keuangan, penggunaan instrumen lindung nilai syariah oleh perbankan meningkat 86,5% (yoy) menjadi US$466 juta. Ini menunjukkan pasar uang dan pasar valas syariah semakin berkembang.

Dari sisi keuangan sosial, penyaluran zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS mencapai Rp 52,5 triliun hingga kuartal II-2025, tumbuh 43% dibanding periode sebelumnya. Sementara itu, instrumen Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) tercatat outstanding Rp 1,4 triliun.

“Ke depan, penguatan ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya melalui pembiayaan komersial, tetapi juga integrasi dengan keuangan sosial seperti ZIS dan CWLS. Sinergi ini penting untuk menciptakan sistem yang lebih inklusif, berdaya tahan, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Sebagai penguat dari sisi industri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja perbankan syariah sepanjang 2025 tetap solid. Hal ini ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan dan penghimpunan dana, meski masih ada tantangan yang perlu diperbaiki.

“Total aset menembus level tertinggi, all time high yaitu Rp 1.067,73 triliun, atau tumbuh 8,92% (yoy) dengan penyaluran pembiayaan mencapai Rp 705,22 triliun, atau tumbuh 9,58% (yoy), dan penghimpunan dana pihak ketiga sebesar Rp 892,99 triliun, atau tumbuh 10,14%,” ujar Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan UMKM dan Keuangan Syariah OJK Ayahandayani Kussetyowati.

Ia menilai, meski industri keuangan syariah menunjukkan perkembangan positif, masih ada tantangan mendasar yang perlu diatasi. Skala permodalan yang terbatas membuat daya saing dan infrastruktur layanan belum maksimal.

“Dan juga kebutuhan penguatan SDM dan diferensiasi produk agar menjadi lebih unik, efisien, dan inklusif,” tambah Ayahandayani.

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi syariah Nasional direntang 4,9% – 5,7% pada 2026, serta dukungan penguatan pembiayaan, pendalaman pasar keuangan, serta integrasi keuangan sosial, ekonomi dan keuangan syariah diperkirakan akan semakin berperan dalam menopang pertumbuhan nasional di tengah ketidakpastian global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *