Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Almas Azzahra (25), warga Wirobrajan, siap mengharumkan nama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam ajang Puteri Indonesia tingkat nasional yang akan berlangsung pada April 2026. Perempuan yang sebelumnya meraih Harapan I Diajeng Kota Jogja 2021 dan Wakil 1 Diajeng Jogja 2021 ini resmi dinobatkan sebagai Puteri Indonesia DIY 2026 dan tengah mempersiapkan diri menuju masa karantina.
Almas merupakan lulusan S1 Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pernah mengenyam studi di Vienna University of Technology, Austria. Ia adalah puteri dari Bapak Muhammad Agung Setyawan dan Ibu Retno Astuti. Dengan latar belakang pendidikan arsitektur, Almas memiliki perhatian khusus pada isu penataan ruang, lingkungan, dan pembangunan kota berkelanjutan.
Almas mengungkapkan ketertarikannya di dunia pageant berawal dari keikutsertaannya dalam ajang Dimas Diajeng Kota Jogja hingga tingkat Provinsi DIY. Dari proses tersebut, ia menemukan ruang untuk mengembangkan potensi diri sekaligus memperluas kontribusi bagi masyarakat.
“Awalnya saya tertarik di dunia pageant karena tergabung di Dimas Diajeng Kota Jogja, kemudian maju ke tingkat provinsi. Dari situlah saya menemukan bahwa dunia pageant ini bisa membuat saya menemukan versi diri saya yang lebih baik. Untuk itu, saya memutuskan bergabung dengan Puteri Indonesia dengan tujuan bisa menginspirasi lebih banyak generasi muda lainnya dan harapannya dengan platform yang ada dapat menyuarakan aspirasi, serta membawa budaya Yogyakarta ke tingkat nasional bahkan dunia,” ujarnya saat di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (20/2).
Sebagai Puteri Indonesia DIY 2026, Almas menegaskan bahwa perannya kini memiliki cakupan yang lebih luas. Jika Dimas Diajeng berfokus pada promosi pariwisata di lingkup daerah, maka Puteri Indonesia membawa misi representasi perempuan Indonesia di tingkat nasional bahkan internasional. Ia menjelaskan, Puteri Indonesia mengusung nilai 5B, yakni Brain, Beauty, Behavior, Brave, dan Be Right, sebagai fondasi karakter perempuan Indonesia yang cerdas, berintegritas, berani, dan mampu menjadi teladan.
“Di sini kami menjadi representasi wanita Indonesia yang memiliki sifat 5B. Kami diharapkan menjadi role model bagi generasi muda, khususnya perempuan Indonesia, untuk berani meraih mimpi dan menginspirasi sesama,” jelasnya.
Almas menyatakan kesiapannya untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sosial di Kota Yogyakarta. Ia juga berkomitmen untuk tidak hanya memperkenalkan sektor pariwisata yang telah dikenal luas, tetapi juga memperkuat promosi budaya dan nilai-nilai kearifan lokal.
“Saya berharap Yogyakarta senantiasa istimewa. Saya bertekad menjadi representasi wanita Yogyakarta yang mengenalkan budaya dan pariwisata hingga tingkat nasional bahkan dunia sekaligus terlibat langsung dalam gerakan sosial yang nyata,” ungkapnya.

Dukungan penuh disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Ia mengaku bangga atas langkah Almas yang mewakili DIY di tingkat nasional dan mengajak seluruh masyarakat memberikan doa serta dukungan.
“Saya ikut bangga karena anak kita, Almas dari Kota Yogyakarta, akan mewakili DIY di tingkat nasional. Saya mohon dukungan dan doa dari seluruh masyarakat agar Almas sukses dan membawa nama baik Yogyakarta, DIY, dan juga Indonesia,” ujar Hasto.
Pihaknya mendorong agar keterlibatan tersebut tidak sekadar simbolik, melainkan diwujudkan melalui aksi konkret. Ia mencontohkan kampanye kebersihan Sungai Code dan penguatan program MAS JOS. Selain itu juga membuka ruang bagi Almas yang berlatar belakang arsitektur untuk berkontribusi dalam penataan kawasan kota, termasuk program bedah rumah, penataan bantaran sungai, hingga pengembangan taman kota.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan kota. “Ke depan, anak muda harus benar-benar produktif. Populasi lansia banyak, sementara anak mudanya relatif sedikit. Ini tantangan demografi yang harus disikapi dengan kesiapan generasi muda,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan yang mendorong Almas untuk mengangkat kekuatan budaya Yogyakarta secara lebih mendalam. Ia menegaskan bahwa Yogyakarta merupakan poros budaya yang memiliki kekayaan makna, termasuk Sumbu Filosofi yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia.
“Yogyakarta itu poros budaya yang banyak orang belum banyak tau dengan Sumbu Filosofi. Padahal UNESCO pun sudah mengakui. Itu bisa menjadi salah satu poin penting untuk menjelaskan dan mempromosikan Jogja. Saya sangat yakin Mbak Almas bisa,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan seorang Puteri Indonesia tidak hanya terletak pada penampilan, tetapi pada karakter dan kedalaman makna yang dibawa. Ia mendorong agar Almas menggali hal-hal yang terlihat sederhana namun memiliki makna mendalam, serta benar-benar terjun langsung dalam kerja sosial.
“Semua finalis pasti cantik. Tapi yang membedakan adalah karakter dan ketulusan. Harus all out, terjun langsung ke lapangan, bukan dibuat-buat. Kuasai subjeknya dan lakukan secara nyata,” tegasnya.

Wawan juga menyoroti isu lingkungan, khususnya pengelolaan sampah, sebagai tema strategis yang relevan untuk diangkat. Ia mendorong agar gerakan yang dibawa tidak berhenti pada wacana, melainkan mampu menggerakkan generasi muda untuk peduli lingkungan.
“Bagaimana Mbak Almas bisa menggerakkan anak muda, bahkan anak-anak kecil, untuk punya kesadaran soal sampah. Mindset buang sampah sembarangan itu masih perlu diubah. Ini juga sejalan dengan komitmen nasional dalam penanganan sampah,” ungkapnya.



