Ali bin Abi Thalib lahir di Mekkah dengan nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul al-Muthalib bin Hasyim bi Abdul al-Manaf bin Luay bin Kilab bin Oushai. Ia adalah putra Abu Thalib yang juga merupakan paman Nabi dan Ibunya bernama Fatimah binti Asad bin Hasim bin Abdul al-Manaf.
Ali masuk Islam saat masih kecil, antara usia 7 hingga 10 tahun. Ia termasuk orang pertama dari kalangan anak-anak yang memeluk agama Islam. Ali tumbuh di bawah asuhan Nabi Muhammad, terutama ketika saat itu penduduk Mekkah tertimpa paceklik dan kelaparan. Lalu, pada tahun ketiga Hijriyah, Ali menikah dengan Fatimah dan memiliki dua anak laki-laki, Hasan dan Husain.
Secara fisik, Ali dikenal berkulit sawo matang, bertubuh pendek, dengan janggut lebat, mata besar kemerahan, serta wajah tampan. Ia adalah pribadi yang penuh energi, cerdas, dan ahli dalam hukum agama. Ali juga dikenal sebagai pejuang yang gagah berani dan sahabat yang setia. Ia adalah salah satu dari sepuluh sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, dicintai oleh Allah SWT dan Rasul-Nya, serta dihormati karena posisinya seperti Harun di sisi Musa.
5 Keutamaan Ali bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib memiliki beberapa keutamaan, di antaranya:
Orang Kedua yang Masuk Islam
Setelah Khadijah, Ali bin Abu Thalib adalah orang kedua yang memeluk Islam. Menurut riwayat Ibnu Ishaq, suatu ketika Ali berkunjung ke rumah Nabi Muhammad dan melihat Nabi serta Khadijah sedang melaksanakan shalat. Ali pun bertanya, “Apa ini wahai Muhammad?” Rasulullah SAW kemudian menjelaskan tentang Islam kepada Ali dan akhirnya Ali menyatakan keislamannya, meskipun ia menyembunyikan hal tersebut karena khawatir terhadap ayahnya.
Banyak Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan dengan Ali
Meskipun Al-Qur’an tidak diturunkan khusus untuk satu individu atau masyarakat tertentu, beberapa ayat memiliki Asbabun Nuzul yang terkait dengan peristiwa yang melibatkan Ali bin Abi Thalib. Di antara ayat-ayat yang turun berkaitan dengan Ali adalah Surat Al-Hajj ayat 19-23, Surat Ali Imran ayat 61, Surat At-Taubah ayat 19-22, Surat Al-Mujadilah ayat 12-13, dan lainnya.
Sahabat yang Paling Dekat dengan Nabi Secara Nasab
Sayyidina Ali adalah sepupu Rasulullah SAW dan juga seorang menantu, setelah menikahi Sayidatuna Fathimah putri bungsu Nabi. Dari pernikahan mereka lahir dua pemuda ahli surga, Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma, yang kemudian melanjutkan keturunan Nabi Muhammad (Dzuriyah Nabi).
Sahabat yang Dijamin Masuk Surga
Rasulullah SAW bersabda, “Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Abu Ubaidah di surga, dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga.” (HR at-Tirmidzi).
Sangat Pemurah dan Dermawan
Salah satu kisah tentang kedermawanan Sayyidina Ali adalah ketika seorang laki-laki datang kepadanya dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya membutuhkan sesuatu darimu. Saya sudah mengadukannya kepada Allah sebelum mengadukannya kepadamu. Jika engkau memenuhinya, saya akan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Tetapi jika tidak, saya tetap akan memuji Allah dan tidak menyalahkanmu.”
Kemudian Ali berkata: “Tulislah semua kebutuhanmu di atas tanah, karena aku tidak mau melihat kerendahan wajah peminta ada di wajahmu.”
Setelah laki-laki itu menuliskan kebutuhannya, Ali pun membacanya dan berkata, “Saya akan penuhi semua permintaanmu.”
Wafatnya Ali bin Abi Thalib
Ali wafat pada malam Jumat di waktu sahur tanggal 17 Ramadhan 40 H pada usia 63 tahun. Masa kekhalifahan Ali adalah 5 tahun kurang 3 bulan.
Kedua putranya, Al-Hasan dan Al-Husain bersama Abdillah bin Ja’far memandikan jenazah Ali. Lalu, Al-Hasan memimpin shalat jenazah. Kemudian Ali dimakamkan di Darul Imarah Kufah.
Kesimpulan
Dari kisah Ali bin Abi Thalib, kita bisa belajar tentang keberanian, keteguhan iman, dan kedermawanannya. Ali adalah sosok yang gigih membela Islam sejak kecil dan menunjukkan keteladanan. Kesetiaannya kepada Rasulullah SAW serta kedermawanannya kepada orang-orang yang membutuhkan mengajarkan pentingnya membantu sesama tanpa memandang status. Selain itu, kebijaksanaan dan ketabahan Ali dalam menghadapi tantangan dalam kepemimpinan juga menjadi contoh bagaimana seorang pemimpin harus bertindak dengan adil dan penuh tanggung jawab, meski berada dalam situasi sulit.





