Umbulharjo,REDAKSI17.COM – Pemerintah Kota Yogyakarta terus memperkuat infrastruktur talud sungai sebagai langkah mitigasi risiko longsor dan kerusakan tebing akibat cuaca ekstrem. Berdasarkan Data Teknis Sungai dan Talud Kota Yogyakarta Tahun 2025 milik Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Yogyakarta total panjang talud di tiga sungai utama mencapai 36.156 meter. Dari total tersebut, 25.040 meter (69,26%) dalam kondisi baik, sedangkan sisanya masih dalam kondisi membutuhkan penanganan bertahap.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPUPKP Kota Yogyakarta Rahmawan Kurniadi menjelaskan, sebagian talud di Kota Yogya masih menggunakan konstruksi lama berupa pasangan batu kali, bahkan ada yang belum memiliki talud permanen. Struktur tersebut dinilai kurang kuat dibandingkan konstruksi beton bertulang yang kini menjadi standar pembangunan baru.
“Masih lumayan banyak yang batu kali. Bahkan ada yang belum bertalud. Sekarang kita tingkatkan strukturnya menjadi lebih kuat, dengan pondasi beton ditanam sekitar 1,5 sampai 2 meter di bawah dasar sungai, lalu dindingnya cor beton bertulang,” jelasnya saat dikonfirmasi, Senin (23/2).
Tahun ini, pembangunan talud baru difokuskan di Sungai Winongo melalui dua paket pekerjaan, yakni di wilayah Bener dan Pakuncen. Di wilayah Bener, sebagian besar kawasan belum memiliki talud permanen sehingga pembangunan dilakukan dari awal. Sementara di Pakuncen, talud lama dari pasangan batu kali ditingkatkan menjadi struktur beton bertulang agar lebih kokoh dan tahan terhadap arus deras.
Selain pembangunan baru, Pemkot juga melakukan penanganan insidentil di sejumlah titik rawan seperti Ngampilan, Baciro, dan Gambiran. Penanganan ini umumnya dipicu laporan kerusakan akibat hujan deras yang menyebabkan ambrol atau longsor pada struktur lama.
“Kebanyakan yang rusak itu struktur lama, rata-rata masih batu kali. Kalau sudah lama dan terus tergerus arus, memang rawan,” ujarnya.
Tak hanya pembangunan, pemeliharaan rutin juga dilakukan di tiga sungai besar yang melintasi Kota Yogyakarta, yakni Sungai Code, Sungai Winongo, dan Sungai Gajah Wong. Seperti saat ini, Kurniadi mengungkapkan pihaknya tengah menindaklanjuti beberapa titik longsor akibat intensitas hujan tinggi.
“Untuk talud yang di Notoprajan yang melintasi Sungai Winongo sedang ditangani, jadi tim kita langsung turun untuk memperkuat struktur yang terdampak sebagai respons cepat terhadap kerusakan tebing. Sementara untuk talud yang berada di wilayah Baciro dan Prenggan masih dalam tahap perencanaan perbaikan,” terangnya.

Perbaikan talud di Kricak
Sementara talud longsor di wilayah Kricak yang melintasi Sungai Buntung, penanganan dilakukan melalui kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS). Sinergi ini dilakukan mengingat kewenangan dan skala penanganan yang memerlukan dukungan lintas instansi.
Menurutnya, sebagian besar kerusakan terjadi pada struktur lama yang belum menggunakan sistem pondasi beton bertulang. Talud lama dari batu kali maupun bronjong lebih rentan terhadap perubahan debit air secara tiba-tiba.
“Kalau bronjong, ketika kawatnya sudah aus, kekuatannya hilang. Batu kali juga kalau tidak ada pondasi dan tulangan, lama-lama tergerus,” jelasnya.
Rahmawan Kurniadi menyebutkan pihaknya mengalokasikan sekitar Rp7,5 miliar untuk pembangunan dan pemeliharaan talud. Anggaran tersebut mencakup pembangunan baru, pemeliharaan rutin di tiga sungai, serta penanganan insidentil dengan alokasi sekitar Rp2 miliar.
“Penguatan talud dan pemeliharaan berkelanjutan ini harapannya risiko longsor tebing sungai dapat ditekan, sekaligus menjaga keselamatan pemukiman warga yang berada di bantaran sungai,” pungkasnya.


