Umbulharjo,REDAKSI17.COM-Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, berharap momentum bulan suci Ramadan dapat menjadi titik balik dalam mempererat hubungan keluarga. Ia menilai, Ramadan bukan hanya bulan ibadah secara spiritual, tetapi juga kesempatan emas untuk membangun kembali komunikasi dan keharmonisan dalam rumah tangga.
Menurut Hasto, suasana Ramadan yang identik dengan kebersamaan, terutama saat berbuka puasa, seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang pertemuan keluarga yang berkualitas. Ia mengungkapkan harapannya agar puasa membawa berkah, tidak hanya dalam konteks keimanan, tetapi juga dalam memperkuat fondasi keluarga.
“Harapan saya, puasa membawa berkah. Setiap keluarga bisa berbuka puasa bersama, duduk dalam satu meja makan. Di situlah semua anggota keluarga bertemu, saling berkomunikasi, saling menasihati, dan mempererat ikatan,” ujarnya Senin (23/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa momen sederhana seperti makan bersama memiliki makna yang sangat besar dalam kehidupan keluarga. Di tengah kesibukan masing-masing anggota keluarga, meja makan menjadi ruang yang efektif untuk membangun komunikasi yang hangat dan terbuka.
“Dalam suasana santai itulah, orang tua dapat menyampaikan nasihat, mendengar keluhan anak, serta memperkuat nilai-nilai kebersamaan,” bebernya.
Tak hanya di meja makan, Hasto juga menekankan bahwa ruang terbaik untuk memberikan nasihat dalam keluarga adalah ketika berada di kendaraan, misalnya saat perjalanan bersama. Dalam situasi tersebut, percakapan cenderung mengalir lebih natural dan tidak terkesan menggurui.
“Menasehati keluarga itu paling baik di dua tempat, di meja makan dan ketika berada di kendaraan. Di situ suasananya lebih cair, tidak tegang, dan komunikasi bisa berjalan lebih efektif,” tegasnya.
Keprihatinan Hasto terhadap pentingnya keharmonisan keluarga tidak lepas dari tingginya angka perceraian yang terjadi, baik secara nasional maupun di tingkat lokal. Berdasarkan data pada tahun 2024 tercatat sebanyak 492 kasus perceraian. Angka tersebut meningkat cukup signifikan pada tahun 2025 menjadi sekitar 575 kasus.
Sementara itu, jumlah pernikahan justru mengalami penurunan. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 1.546 pasangan menikah, sedangkan pada tahun 2025 jumlahnya turun menjadi 1.424 pasangan. Data tersebut menunjukkan adanya tantangan serius dalam menjaga ketahanan keluarga di Kota Yogyakarta.
Untuk itu, ia mengajak seluruh masyarakat Kota Yogyakarta untuk menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi diri, memperbaiki hubungan, serta saling memaafkan dalam keluarga. Dengan komunikasi yang terjalin baik, potensi konflik dapat diminimalkan dan keharmonisan rumah tangga dapat terjaga.
“Kalau komunikasi dalam keluarga kuat, insyaallah konflik bisa diselesaikan dengan baik. Dengan begitu, angka perceraian juga bisa kita tekan bersama,” katanya.



