“Kita juga mulai menyesuaikan harga tiket supaya ada semakin banyak apresiasi. Kecuali bagi penyandang disabilitas, lanjut usia (lansia), dan anak yatim piatu, mereka tetap gratis,” ujar Fadli Zon saat berada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu lalu.
Menurutnya, harga masuk museum di Indonesia masih tergolong sangat terjangkau jika dibandingkan dengan negara-negara lain, khususnya di Eropa. Di sana, tarif termurah rata-rata sekitar 12 euro, ada pula yang 15–20 euro, bahkan mencapai 65 euro. “Di kita ini masih terjangkau,” tambahnya.
Penyesuaian biaya ini juga dimaksudkan untuk mendukung pengelolaan museum yang lebih baik, termasuk penyajian koleksi-koleksi berharga yang membantu pengunjung memahami peradaban Indonesia secara mendalam, koleksi yang sulit ditemukan di tempat lain.
Saat ini, Museum Nasional Indonesia sedang menyelenggarakan pameran spesial koleksi Manusia Jawa (Javaman), yaitu fosil Pithecanthropus erectus atau Homo erectus yang baru kembali dari Belanda setelah lebih dari 130 tahun. Selain itu, museum ini juga menampilkan berbagai artefak bersejarah menarik, seperti lukisan-lukisan purba dari Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, yang diyakini dapat semakin menarik minat masyarakat untuk mengenal sejarah dan budaya bangsa.
Di sisi lain, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru-baru ini mengundang peserta didik Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) untuk berkunjung ke Museum dan Galeri SBY-ANI di Pacitan, Jawa Timur. Museum ini merupakan presidential museum pertama di Asia yang menyimpan data dan dokumentasi valid tentang perkembangan perekonomian Indonesia selama masa kepemimpinannya (2004–2014), baik dari sumber dalam negeri maupun lembaga internasional.
“Pak gubernur, kalau punya waktu diizinkan, saya punya museum di Pacitan, Presidential Museum. Pertama kali di Asia, silakan dilihat,” kata SBY saat memberikan kuliah umum di kantor Lemhannas, Jakarta Pusat, Senin lalu.
SBY menjelaskan bahwa pada 2004, pendapatan per kapita Indonesia hanya sekitar 1.200 dolar AS, kemudian meningkat menjadi 3.760 dolar AS pada 2014, atau naik sekitar 350 persen. Peningkatan ini mencerminkan kebijakan dan langkah politik strategis yang tepat sasaran.
Ia menekankan pentingnya merancang kebijakan secara matang agar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sehingga Indonesia bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap). SBY optimistis, dengan kebijakan yang tepat, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 6–8 persen, sebagaimana yang ditargetkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Jadi kalau Pak Prabowo kembalikan lagi grafiknya, kurvanya seperti ini, kita akan keluar dari kategori pendapatan negara menengah yang belum keluar dari middle income trap,” tuturnya.
Kedua pernyataan ini menunjukkan komitmen bersama untuk meningkatkan apresiasi terhadap sejarah, budaya, dan pembangunan ekonomi nasional melalui akses yang lebih baik ke museum dan data historis.





