DENPASAR,REDAKSI17.COM – Aktivis muda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) Sumba, Martinus Jaha Bara, S.Ap., CPS, menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada berbagai organisasi mahasiswa serta para tetua asal Sumba yang berada di Bali atas sikap bijak dan aktif mereka dalam menyikapi berbagai polemik yang berkembang di media sosial.
Menurut Martinus, dinamika media sosial belakangan ini kerap memunculkan narasi yang berpotensi memecah belah persaudaraan antarwarga, khususnya warga perantau asal Sumba di Bali. Namun ia menilai, respons cepat dan sikap dewasa dari organisasi mahasiswa serta para tokoh adat dan tetua Sumba di Bali telah mampu meredam ketegangan dan menjaga suasana tetap kondusif.
“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada organisasi mahasiswa dan para tetua Sumba di Bali yang tetap mengedepankan dialog, klarifikasi, serta ajakan damai dalam menyikapi berbagai polemik di media sosial. Ini adalah sikap yang mencerminkan kedewasaan dan tanggung jawab moral,” ujar Martinus, Kamis (26/2/2026).
Ia menegaskan bahwa peran mahasiswa dan tokoh masyarakat sangat strategis dalam menjaga persatuan, khususnya di tengah era digital yang begitu cepat menyebarkan informasi, baik yang benar maupun yang belum terverifikasi.
Peran Mahasiswa dan Tetua Sebagai Penjaga Moral
Martinus menyebut, organisasi mahasiswa asal Sumba di Bali tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menjaga nama baik daerah dan membangun citra positif masyarakat Sumba di tanah rantau.
Sementara itu, para tetua dan tokoh masyarakat dinilai berperan sebagai penyejuk dan penengah ketika muncul kesalahpahaman atau perdebatan di ruang publik digital.
“Kehadiran para tetua sangat penting sebagai penasehat dan penuntun. Mereka menjadi jembatan komunikasi agar persoalan tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas,” tegasnya.
Martinus juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Ia mengingatkan agar tidak mudah terpancing oleh provokasi, ujaran kebencian, atau informasi yang belum jelas kebenarannya.
Menurutnya, menjaga persaudaraan antarwarga, baik sesama perantau maupun dengan masyarakat Bali, adalah tanggung jawab bersama.
“Media sosial harus menjadi ruang edukasi dan persatuan, bukan tempat saling menyerang. Mari kita jaga marwah Sumba dan NTT dengan sikap santun, cerdas, dan bermartabat,” pungkasnya.
Dengan semangat kebersamaan dan komunikasi yang sehat, Martinus optimistis masyarakat Sumba di Bali akan tetap solid serta mampu menjadi contoh dalam menyikapi setiap dinamika sosial secara dewasa dan bertanggung jawab..***MJB




